JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu tempat dimana banyak ditemui peternak-peternak ayam broiler, seperti di Pulau Jawa dan Sumatera. Namun masih banyak peternak ayam broiler yang menggunakan cara tradisional dalam merancang sirkulasi udara pada kandang ayam yang mereka kelola.
Dalam rangka meningkatkan produksi ayam yang lebih berkualitas, para peternak ayam membutuhkan teknologi baru yang dinamakan closed house system. Kandang broiler closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologis atau kontak dengan organisme lain. Dengan pengaturan ventilasi udara yang baik maka dapat mengurangi stres pada ternak. Tujuannya ialah untuk menyediakan udara dan iklim yang kondusif bagi ternak sehingga meminimalisasi tingkat stres.
PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) selaku penggagas teknologi closed house memberikan hibah 4 (empat) buah kandang yang akan di serahkan ke 4 Universitas, di antaranya Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Hasanuddin Makassar dan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Penandatanganan hibah kandang tersebut di lakukan langsung oleh Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Thomas Effendy dan di saksikan oleh Jumain Appe selaku Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang dilaksanakan di gedung BPPT, Senin (15/4).
Teknologi Closed House memiliki kelebihan, di antaranya ayam akan memiliki kepadatan daging yang efisien, pertumbuhan bobot ayam yang merata, suhu ruangan yang lebih stabil dan dapat disesuaikan, angka kematian ayam rendah dan efisiensi tenaga kerja,  karena semua peralatan dijalankan oleh motor.
Dengan adanya teknologi baru yang diberikan oleh PT. CPI ke Universitas, Jumain Appe berhahap lulusan dari Univertas yang mendapatkan hibah kandang bisa menjadi pengusaha dibidang peternakan.
“Berapa besar jumlah mahasiswa yang ikut serta dalam program ini. Karena ini merupakan pembelajaran nyata bagi mahasiswa tersebut untuk menjadi ahli di bidang peternakan yang nantinya siap bekerja, atau pembelajaran untuk menjadi entrepreuneur dibidang peternakan,” ujarnya.
Dengan mengadakan kerjasama ini maka perguruan tinggi akan belajar tentang masalah peternakan mulai dari hilir sampai hulunya, dan adanya kandang Closed House ini artinya pendidikan vokasi bisa di jalankan dengan porsi 70% praktek–30% teori, tambah Jumain. (TJS)