Siaran Pers
Nomor : 234/SP/HM/BKKP/XII/2018

 

Semarang – Pesantren sejak lama telah diakui keberadaannya di Indonesia tidak hanya sebagai tempat pembelajaran ilmu agama Islam namun juga tempat mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan siap bersaing di era global.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan saat ini telah banyak pondok pesantren yang sudah memiliki jenjang pendidikan SMA/SMK, Kemenristekdikti mendorong pesantren di Indonesia untuk meningkatkannya ke jenjang pendidikan tinggi.

“Kita tingkatkan kualitasnya ke pendidikan tinggi melalui jembatan yang namanya akademi komunitas. Saya menargetkan akan ada 30-40 pondok pesantren yang memiliki akademi komunitas di tahun 2019-2020,” ujar Menristekdikti saat membuka acara Sosialisasi dan Launching Akademi Komunitas Berbasis Pesantren di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang (5/12).

Melalui akademi komunitas, pendidikan vokasi pada jenjang perguruan tinggi pun dapat dilaksanakan. Nantinya pendidikan vokasi melalui akademi komunitas diharapkan dapat dikembangkan untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan lebih cepat.

Menteri Nasir melanjutkan, pendidikan vokasi di pesantren tidak hanya pada teknik elektro, teknik mesin, atau teknik komputer saja, melainkan harus sesuai dengan potensi di daerahnya. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan daya saing untuk bekerja di industri dan mengembangkan potensi daerahnya.

“Kita perlu membangun pendidikan tinggi atau keterampilan di pesantren. Jadi tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga keahlian yang lain juga,” tutur Menristekdikti.

Bekerjasama dengan Konsorsium Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama dan Yayasan Penabulu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mensosialisasikan bentuk dan persyaratan pendirian pendidikan tinggi akademi komunitas kepada 99 perwakilan pesantren di Provinsi Jawa Tengah. Saat ini terdapat lebih dari 90 pondok pesantren di Provinsi Jawa Tengah dan lebih dari 70 pondok pesantren di Provinsi Jawa Timur yang memiliki pendidikan SMK, namun baru ada dua akademi komunitas di pondok pesantren yang berdiri di Jawa Tengah. Kedepannya, Menristekdikti akan mendorong lebih banyak lagi pondok pesantren untuk memiliki akademi komunitas.

Pendidikan vokasi melalui akademi komunitas memiliki status yang sama dengan perguruan tinggi lain, dengan jenjang pendidikan Diploma Satu (D-1) dan Diploma Dua (D-2). Hal ini diyakini Menristekdikti sebagai salah satu upaya meningkatkan Global Competitiveness Index, khususnya di bidang higher education and training.

Gubernur Jawa Tengah yang diwakilkan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyampaikan bahwa sangat senang dan mengapresiasi tumbuhnya akademi komunitas di pondok pesantren di Jawa Tengah. Karena, menurutnya, hal tersebut tidak hanya mendorong santri SMK untuk melanjutkan ke D-1, tapi juga dapat mendorong lulusan menjadi siap bekerja atau berwirausaha sesuai dengan lingkungan sekitarnya.

“Presiden meminta untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, baru kemudian SDM-nya. Kami harap melalui akademi komunitas dapat meningkatkan soft skill agar terbentuk SDM yang berkualitas”, pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri juga oleh Direktur Jenderal Kelembagaan IPTEK dan Dikti Patdono Suwignjo, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo serta perwakilan perguruan tinggi dan industri.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti