Penelitian selama beberapa tahun terakhir terhadap pengembangan mikroalga sebagai sumber biomassa telah banyak dilakukan. Spirulina merupakan salah satu mikroalga yang sangat menjanjikan dikembangkan di Indonesia terkait dengan potensi mikroalga ini cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan sumber pewarna alami. Spirulina dapat memproduksi cyanocobalamine dan pigmen yang bersifat anti oksidan. Spirulina memiliki kandungan biopigmen fikosianin lebih tinggi daripada tanaman lain. Selain itu, pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa fikosianin dalam kesehatan mampu menghambat pertumbuhan tumor. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan kimiawi mikroalga antara lain umur, suhu, intensitas cahaya, dan nutrien. Kendala yang umum dihadapi dalam pengembangan biomassa mikroalga yaitu dalam tahap pemanenan. Proses pemanenan berupa pemisahan antara supernatan dengan biomassa masih membutuhkan teknologi yang tepat agar mudah dioperasikan dan kandungan sel tidak berubah ataupun rusak setelah proses pemanenan.
Metode pemanenan mikroalga yang umum digunakan antara lain sentrifugasi, koagulasi, dan filtrasi. Sentrifugasi merupakan teknologi yang efektif dalam pemanenan mikroalga, namun kekurangan teknologi ini adalah konsumsi energi yang besar dan biaya perawatan yang tinggi menyebabkan biaya operasionalnya tinggi serta menjadi tidak ekonomis. Metode koagulasi dapat diaplikasikan dalam skala besar dengan biaya yang relatif rendah, namun koagulan menyebabkan sel terperangkap dengan koagulan dan sulit dikeluarkan. Hasil pemisahan biomassa dengan filtrasi mendekati sentrifugasi walaupun memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan sentrifugasi. Metode filtrasi dapat digunakan untuk pemanenan mikroalga dalam skala besar karena biaya operasi dan perawatannya lebih murah.
Membran filtrasi merupakan suatu teknologi alternatif yang dapat dikembangkan secara konvensional untuk memulihkan biomassa mikroalga. Membran dapat memisahkan partikel secara selektif dengan ukuran yang mikroskopis. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, membran kemungkinan cocok untuk pemanenan mikroalga berukuran kecil karena dapat menahan sel lebih baik. Modifikasi membran filtrasi dengan teknologi vakum pada proses backwash merupakan pemurnian modern yang dapat dikembangkan. Teknologi vakum sebagai backwash adalah teknologi pilihan untuk membersihkan konsentrasi padatan yang tinggi dan terus menerus secara efisiensi selama proses operasional. Pemisahan biomassa mikroalga Spirulina platenensis dari permeat hasil pemanenan menggunakan mikrofiltrasi dengan modifikasi vakum sebagai backwash diteliti oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa yaitu Laras Permatasari, Mutiara Dirga Agustina, Alvindo Chrisna Mukti, Hana Fauziyah Noor, dan Muhammaf Aridha Firdaus.
Spirulina platensis merupakan biota perairan yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi untuk dikembangkan di masa depan. Salah satu kendala dalam kultivasi mikroalga antara lain metode pemanenan, sehingga perlu dicari solusi metode pemanenan yang tepat. Metode pemanenan diduga mempengaruhi aktivitas komponen aktif yaitu biomassa. Penelitian ini membandingkan performa biomassa yang dihasilkan dari metode pemanenan dengan membran filtrasi dan modifikasi vakum dengan metode pemanenan pada umumnya.(KHO/NM)