Medis Masa Kini

PIH UNAIR – Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berhasil membuat peralatan sarana klinis untuk mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan kesehatan bernama Electronical Injecting Mannequin (ELIQUIN).

Tim yang beranggotakan lima orang Lidya Pertiwi, Siti Ermawati, Mega Rizkya, Annisa Aulia, dan Muchlas Rabbani menuangkan gagasan briliannya dalam proposal PKM–K berjudul “Eliquin (Electronical Injecting Mannequin) sebagai Media Pembelajaran Mahasiswa dalam Injeksi Intramuskular dan Intravena”.

Gagasan tersebut berhasil lolos seleksi pendanaan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2017.

rilis-pih-unair-eliquin_2

Dalam dunia kedokteran, tambah Lidya, keterampilan klinis merupakan salah satu penentu amat penting dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan masalah kesehatan.

Menurut Lidya selaku ketua tim, Eliquin merupakan alat peraga injeksi yang diyakini sebagai produk dalam negeri pertama yang menggabungkan dua aplikasi injeksi, yakni injeksi intramuskular dan intravena dalam bentuk manekin tangan manusia yang berisi sensor yang diletakkan pada lokasi injeksi.

”Jadi, keterampilan klinis menyuntik secara intravena dan intramuskular merupakan satu hal esensial yang wajib dikuasai oleh tenaga medis. Untuk itu, kami berharap, keberhasilan inovasi ini akan memberikan solusi bagi tenaga medis untuk mengasah kemampuan dan kompetensi dalam hal keterampilan tersebut melalui produk Eliquin ini,” kata Lidya.

”Jadi jika seorang pengguna secara benar dalam melakukan injeksi intramuskular, maka sensor akan mengeluarkan bunyi dan lampunya menyala,” papar Lidya Pertiwi mengenai produknya.

Sensor pada produk ini diletakkan pada lokasi, kedalaman, dan sudut kemiringan injeksi yang akurat dan disesuaikan dengan anatomi tubuh manusia.

Selain itu, Eliquin ini dilapisi oleh bahan lateks yang tahan lama, halus dan sesuai dengan anatomi kulit manusia, sehingga pengguna akan merasa nyaman dan tidak merasa canggung saat berhadapan dengan pasien.

Produk Eliquin juga mempunyai slot baterai jenis A2 yang mudah didapatkan di pasaran. Produk ini dikemas dengan tas cantik yang fleksibel untuk bisa dibawa kemana-mana menyesuaikan target.

“Target pasar kami adalah mahasiswa jurusan kesehatan dan institusi pendidikan dalam bidang kesehatan yang notabene mereka memiliki mobilitas tinggi dan aktivitas yang cukup padat,” tandas Lidya.

Eliquin yang dibanderol seharga Rp 599 ribu ini, diyakini lebih murah, lebih fleksibel, dan fungsional, sedangkan harga produk manekin impor mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta dan hanya memiliki satu fungsi injeksi.

”Eliquin is a must have medical mannequin,” pungkas mahasiswa S-1 Pendidikan Dokter tahun angkatan 2014. (Humas UNAIR)