Surabaya- Sabtu (15/7), Menristekdikti Mohamad Nasir menghadiri Kongres IQRA I & Seminar Nasional Penelitian Kualitatif yang diselenggarakan oleh Indonesian Qualitative Research Association(IQRA).

“IQRA sangat mirip dengan iqro’, bahasa arab yang artinya “bacalah”. Kata ini merupakan kata pertama dari wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW.  Kita semua sebagai dosen dan peneliti harus dapat “membaca” alam dan isinya dengan jeli karena banyak pesan yang tersimpan di dalamnya,” ujar Nasir dalam acara yang berlangsung di Universitas 17 Agustus Surabaya tersebut.

Menurut Nasir, hasil dari “membaca” alam dan isinya dengan menggunakan perspektif metode kuantitatif telah menghasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknololgi yang luar biasa pesat. Kita telah menikmati bersama hasil teknologi yang membawa kemudahan. Meski begitu, alam dan isinya masih banyak menyimpan rahasia. Tidak semua kejadian di alam dapat “dibaca”  dengan perspektif kuantitatif, akan tetapi lebih tepat jika “dibaca” dengan perspektif kualitatif.

Metode kualitatif mengandalkan kedalaman interview atau pengamatan oleh peneliti terhadap obyek yang diteliti. Oleh karena itu metode ini sangat cocok digunakan untuk menganalisa sejarah, kebudayaan, etnografi dan sejenisnya demi mendapatkan hasil yang akurat.

Menurutnya, saat ini Kementerian telah memberikan ruang gerak dalam penelitian melalui bentuk Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

“RIRN ini nantinya akan membantu setiap penelitian yang memiliki manfaat bagi masyarakat, apabila tidak ada manfaat bagi masyarakat, maka riset menjadi tidak bermakna,” jelasnya.

Sejauh ini, metode kualitatif sudah digunakan dalam berbagai penelitian yang memberi dampak positif bagi negara. Terdapat delapan bidang yang termasuk pada ranah metode kualitatif ini, yakni di bidang pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Transportasi, Teknologi pembangunan, Teknologi pertahanan, Teknologi terbarukan dan nantinya akan disusul dengan bidang Sosial dan Humaniora yang sedang dalam proses pengesahan oleh Presiden.

“Semoga di tahun 2045, Indonesia sudah bisa menikmati hasil riset dari para peneliti sekarang ini,” tutur Nasir.

Ia berharap segala manfaat penelitian yang dapat memudahkan masyarakat bisa segera dinikmati bersama. Dalam penutupan sambutan, Menteri Nasir mengingatkan para mahasiswa untuk tetap memperluas cara pandangnya sebagai peneliti dengan memperbanyak studi referensi. Ia juga menambahkan agar para mahasiswa tetap berpegang teguh pada pancasila dan menjunjung tinggi toleransi.

“Ini sebagai upaya yang tetap kita bangun dari berbagai elemen, maka dari itu, Saya mengajak para mahasiswa untuk membangun indonesia lebih baik tanpa adanya radikalisme,” kata Nasir. (TJS)