Yang sangat kami hormati dan banggakan:

Para Menteri Kabinet Kerja yang hadir di ruangan ini,

Para Pejabat Tinggi Eselon I, II dan III di lingkungan Kemendikbud dan Kemenristekdikti

Para wartawan dan seluruh pengunjung dan hadirin

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatuh,

Selamat sore dan salam sejahtera bagi kita semua,

Alhamdulillahirabbilalamin, atas hidayah dan inayah Allah SWT, hari ini kita diijinkan berkumpul dalam acara Pameran Foto tentang pengalaman dan kesaksian dalam jejak pengabdi pendidikan SM-3T dengan tajuk “Melahirkan Sang Penyayang”

Semoga tempat ini dan yang hadir disini diberikan barokah oleh Allah SWT. Amin

 

Hadirin yang saya muliakan. 

Membangun Indonesia baru adalah ikhtiar yang tidak pernah selesai, sebab wajah Indonesia sesungguhnya adalah petak-petak Nusantara yang seringkali terlupa. Ada yang mesti terus di rengkuh di tapal batas. Tak ada guru, tak ada akses mudah menuju sekolah, dan setumpuk ketidakadilan hak pendidikan lain adalah masalah tak berkesudahan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. 

 

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berkomitmen untuk meniadakan batas kesenjangan itu, lewat program SM-3T. Sejak tahun 2011, sebanyak 10.452 sarjana pendidikan telah berangkat untuk mengabdi. Setahun mengabdi, menempa karakter diri, sekaligus turut merekatkan Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka lalu kembali ditempa lewat beasiswa program Pendidikan Profesi Guru, sebelum siap pakai jadi guru bermutu. 

 

Papua, Aceh atau Nusa Tenggara Timur, hanyalah sebagian kecil sebab penyebaran pasukan SM-3T meluas di berbagai pelosok. Menjadi pilihan efektif agar daerah miskin guru di tanah air bisa teratasi. Bahkan di tahun 2014 ini, wilayah sebaran telah menjangkau ke daerah Papua yang terkenal sulit dijangkau seperti Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Paniai, Dogiai, Jayawijaya, dan Asmat. Pengorbanan pendidik SM-3T di wilayah yang sebelumnya tidak mereka kenal ini menjadi ujian tersendiri. Betapa tidak, datang dari kota yang segalanya nyaris tersedia, mereka harus bersiasat untuk hidup dengan kondisi yang serba terbatas. Selama setahun, mereka mencurahkan segudang ilmu untuk para pelajar di pedalaman yang memang sangat membutuhkan sosok guru. 

 

Mengusung misi asah, asih, dan asuh, murid yang mereka hadapi adalah murid yang haus pendidikan dengan sentuhan kasih sayang. Marsidi tidak canggung memberi pelajaran tentang mandi menggosok gigi anak didiknya, menciptakan kebiasaan baru bagi masyarakat Kampung Air Garam, Distrik Assotipo, Kabupaten Jayawijaya. Sarwenda Kongtesa, muslimah asal Manado ini tidak canggung turut serta mengikuti prosesi pemakaman warga dengan ritual agama Katolik di dusun Waekela, Adonara Tengah, NTT. Di Lanny Jaya, Papua, Ketika Obi Ofleni, guru SM3T asal Riau yang tak lama lagi selesai bertugas berpamitan, tangis siswa-siswi tak terbendung. Mereka telah memberi kita semua pelajaran sederhana tentang bagaimana Menjadi Indonesia.

 

 

Dalam ikhtiar ini, aneka jalan terjal terjadi. Ada duka yang datang satu demi satu, ada nyawa yang gugur di tanah pengabdian. Itu terjadi, salah satunya, ketika Gegeut Annafi dan Winda Yulia gugur dalam tugas setelah terseret deras arus Sungai Tamiang, Aceh, dalam perjalanan menuju sekolah. Tapi itu semua tidak menyurutkan langkah para sarjana pendidikan untuk turut menyalakan pelita di pelosok. Gairah itu justru kian meluap. Nyatanya, 78 persen dari guru SM-3T bersedia ditempatkan kembali di daerah 3T selepas mereka lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG). Penghargaan pemerintah kepada mereka tidak akan pernah cukup, sebab pengorbanan bagi mereka bukan sebatas dongeng, pengorbanan bukanlah isapan jempol belaka.

 

 

Hadirin yang berbahagia. Waktu satu tahun memang tidak cukup untuk menyelesaikan masalah dan membangun pendidikan di daerah 3T. Tetapi saat ini kami sedang mempersiapkan peserta SM-3T angkatan kelima. Dari hampir 20 ribu pendaftar SM-3T tahun ini, sebanyak 8.670 peserta dinyatakan lulus seleksi adiministrasi dan telah mengikuti seleksi nasional on line. Insyaallah kita akan segera mendapatkan 3000 peserta terbaik yang akan kembali diberangkatkan ke tempat pengabdian pada awal September 2015 untuk menggantikan peserta angkatan 4 yang saat ini masih dalam pengabdiannya di 45 kabupaten daerah 3T.

 

 

Hari ini kita menyaksikan jejak peserta SM-3T itu melalui pameran foto. Mengeluh dan mengecam tidak akan mengubah sesuatu lebih baik. Foto-foto adalah bukti abadi kisah perkasa mereka selama masa pengabdian. Bukti bahwa pemerintah telah hadir sampai di pelosok negeri, bukti bahwa kita telah berbuat sesuatu untuk negeri ini.

 

Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan kekuatan kepada kita semua. 

 

Wallohil muwafiq ila aqoomit toriq

Wassalamualaikum Warohmatullohi wabarokatuhu.

 

 

 

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

 

Mohamad Nasir