Tanpa membolak-balik kliping berita, catatan wawancara, dan aneka makalah kita bisa meneroka dunia pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui deret visual, baik dalam bentuk foto maupun tulisan. Pendekatan alih wahana semacam ini sengaja dipilih untuk memperkenalkan program unggulan Kemristekdikti yang sudah bergulir sejak 2011, Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T). Pojok ruang di lantai 2 Gedung Dikti, Jakarta, Jumat (26/6) ini menjelma ruang pameran. Berderet-deret foto dan cuplikan kisah terangkum dalam pameran foto “Melahirkan Sang Penyayang”. Ini semacam gelaran untuk mempresentasikan catatan perjalanan dari para jurnalis dan fotografer ketika tahun lalu mereka merandai daerah-daerah 3T, yaitu ke Aceh Besar, Malinau, Sangihe, Sumba Timur, Flores Timur, dan Manokwari Selatan. Memasuki usia ke-5 program SM-3T, pameran ini menjadi kian berharga sebab tim kurator memutuskan untuk menyertakan foto karya para sarjana yang terlibat program ini.

“Dalam beberapa kunjungan kami ke daerah sebaran, kami diberi oleh-oleh foto keseharian mereka di sana. Saya terperangah ketika dapati foto seorang guru yang memberi pelajaran tentang mandi dan menggosok gigi di Jayawijaya, Papua,” terang Supriadi Rustad, Direktur Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan sekaligus penggagas SM-3T.

Para profesional yang terlibat dalam program ini di antaranya adalah Rifa Nadia, Agus Sampurno, Amirah H. Nelson, Gama Satria, Igor Henk Oneil, Lika Aprilia Samiadi dan Sandy Jaya Saputra, Yoppy Pieter, Yoggi Herdani, Feri Latief, Henrycus Napitsumargo, dan Ifan F. Harijanto. Mereka memaknai SM-3T sesuai dengan titik pandang mereka sehingga memungkinkan muncul kritik tersendiri bagi Kemristekdikti untuk terus memperbaiki muatan program.

“Ini semacam monitoring dan evaluasi untuk program kami, namun lebih substantif dan tepat sasaran. Ke depan, cara seperti ini akan kami lanjutkan,” kata Agus Susilohadi, Kepala Subdirektorat Program dan Evaluasi Diktendik.

Kontribusi Publik dan Perayaan Kultural

Tidak cuma sebatas pameran foto, upaya melibatkan publik dalam penyempurnaan program diwujudkan pula melalui pembentukan SM-3T Institut. Lembaga nirlaba yang dibangun oleh alumni SM-3T ini bertujuan memberikan bantuan pendidikan berkelanjutan untuk sekolah-sekolah di pelosok, terutama yang pernah mereka rambah dan abdikan. Buku pelajaran yang masih menggunakan kurikulum lawas, buku tulis yang terbatas, meja-kursi yang rapuh, ruang kelas yang tidak memadai, tiadanya seragam dan alas kaki, nampaknya menjadi pekerjaan rumah yang tidak habis sudah.

Berbarengan dengan pameran foto ini, SM-3T institut diluncurkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Kementerian-kementerian, BUMN, dan korporasi dapat bersinergi untuk bersama-sama mendukung ikhtiar ini. Tidak lupa, lembaga kebudayaan diharapkan turut memaknai upaya kami agar tidak berhenti pada penghabisan anggaran, daya serap, atau satuan biroktatif Kemristekdikti. Kami ingin SM-3T dan pendidikan di daerah 3T pada umumnya dapat menjadi sebuah gerakan riset budaya dan perenungan kultural di hati manusia.(nrs)