Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) mulai menurunkan alat canggih dalam pencarian bangkai KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara pada 18 Juni lalu. Sebut saja Multi Beam Echo Sounder yang digunakan untuk memetakan kondisi di dasar Danau Toba, sedangkan Remotely Operated Vehicle (ROV) atau robot di bawah air ditujukan untuk memastikan indikasi bangkai kapal dengan cara menangkap visual objek yang ditemukan secara langsung.

Hari pertama pencarian, Rabu (27/06), ROV telah beroperasi dengan baik hingga kedalaman 450 meter, bahkan mencapai dasar danau di sekitar lokasi suspect. Namun belum menemukan langsung objek yg diperkirakan sebagai KM Sinar Bangun. Operasi hari pertama dipimpin langsung Kepala BASARNAS Marsekal Madya Saugy dan didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL, BMKG, PT. PADI, dan PT MGS.

BPPT melalui Deputi bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza mengungkapkan bahwa peran dari alat canggih (teknologi survei kelautan) itu tidak selalu untuk kebutuhan riset dan penelitian saja, namun juga untuk kemanusiaan, salah satuya untuk kebencanaan seperti yang dilakukan BPPT saat membantu mencari AirAsia QZ8501 yang jatuh pada 28 Desember 2014.

“Semua perekayasa dan peneliti di Indonesia pasti akan setuju jika diminta untuk membantu dalam kebencanaan. Saya yakin mereka akan meminjamkan ilmu dan pemikirannya khususnya dibidang survei kelautan, dan dengan bantuan teknologi, pencarian bangkai kapal akan lebih cepat dan mudah,” ungkap Hammam saat ditemui di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu (27/06).

Hammam menceritakan bagaimana teknologi survei kelautan berperan besar membantu BPPT dalam pencarian kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Tim BPPT waktu itu berangkat, sesuai dengan instruksi langsung dari Presiden RI Jokowi, dengan menggunakan Kapal Riset BPPT Baruna Jaya 1 (BJ 1). Kapal ini menurut Hammam, merupakan kapal yang paling cocok yang dimiliki BPPT untuk melakukan pemetaan bawah laut karena telah dilengkapi oleh empat alat canggih, yaitu Multibeam Echo SounderSide Scan SonarMagneto Meter, dan Remotely Operated Vehicles (ROV).

“Alat canggih yang ada di Kapal BJ 1 biasa digunakan untuk survei bawah laut atau pemetaan dasar laut. Karena resolusi hasil tanggapan gambarnya cukup bagus dalam melihat objek yang kecil di bawah laut, maka teknologi ini kerap kali digunakan untuk operasi SAR,” terangnya.

“Alat pertama yaitu Multibeam Echo Sounder digunakan untuk pemetaan kedalaman laut, kondisi topografi laut, memiliki resolusi tinggi, dan yang tepenting cepat dan akurat” ujar Deputi TPSA BPPT.

Secara teknis, menurutnya, Multibeam Echo Sounder memiliki kemampuan melakukan pemetaan batimetri dengan sapuan sisi hingga 150 derajat. Dengan frekuensi 50 kHz dapat memetakan hingga kedalaman 3000m dengan maksimum sensor 126 beams.

“Peralatan ini digunakan untuk memetakan dasar laut menggunakan sistem sonar dengan hasil data berupa image profile dasar laut pada kedua sisi sapuannya. Frekuensi kerjanya antara 120-410kHz dengan maksimum operasi pada kedalaman 2000m,” terang Hammam.

Selanjutnya Hammam menyebutkan Side Scan Sonar, alat yang berbentuk roket ini digunakan untuk melihat kondisi pemetaan objek yang berada di dasar laut. Alat ini bekerja dengan menggunakan teknologi suara ultra medis untuk meningkatkan resolusi target yang dicari.

Side Scan Sonar mampu membedakan jenis sedimen pembentuk permukaan dasar laut, seperti batu karang, lumpur, pasir, dan objek lainnya,” terang Hammam.

Alat canggih lainnya adalah Magneto Meter. “Alat ini adalah adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur kekuatan medan magnet bumi, pengukuran medan magnet bumi ini bertujuan untuk mengetahui lokasi objek dibawah permukaan laut yang berupa logam seperti bangkai kapal karam dan lain sebagainya,” jelasnya.

Alat terakhir yang tak kalah penting adalah ROV. Hammam menjelasakan Alat ini memiliki fungsi yang sama untuk melihat kondisi bawah laut, hanya saja, ROV menampilkan gambar visual bergerak secara jelas, langsung, dan dapat dikontrol di atas permukaan laut untuk memastikan yang ditemukan oleh ketiga alat sebelumnya.

Proses Pencarian Bangkai Pesawat AirAsia QZ8501

Deputi TPSA BPPT menerangkan bagaimana proses pencarian badan pesawat AirAsia QZ8501 ini. Untuk langkah awal, Tim BPPT menurunkan Multibeam Echo Sounder dilanjut dengan Side Scan Sonar yang ditarik ditarik Kapal BJ I beberapa meter di bawah permukaan laut.

Multibeam nantinya akan memotret kondisi morfologi di dalam laut. Bila ada gundukan yang berbeda dari sekeliling, bisa diperkirakan itu berasal dari bangkai AirAsia yang hilang,” jelas Hammam.

Selanjutnya, Side Scan Sonar akan memetakan objek yang sebelumnya terekam bentuknya oleh Multibeam Echo Sounder. Dengan menggunakan prinsip gelombang suara yang dipantulkan, hasil diproses menjadi gambar yang mirip foto udara, dan dapat terlihat secara langsung pada monitor komputer.

Usai kedua alat tersebut, Magneto Meter akan diturunkan untuk memastikan apakah yang ditemukan mengandung logam atau tidak. “Kalau trafonya tinggi, berarti mengandung logam. Untuk memastikannya, kita turunkan alat terakhir ROV,” ucapnya.

ROV akan merekam benda di sekeliling temuan ketiga alat sebelumnya melalui padangan visual bergerak. “ROV ini diturunkan jika memang sudah dipastikan lokasinya. ROV bisa menyelam hingga kedalaman 2000m. Kita bisa melihat kondisi langsung di bawah laut itu seperti apa, apakah itu memang benar bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang kita cari,” tutup Hammam.

Sebagai informasi Tim BPPT berhasil menemukan bagian ekor pesawat tepat di hari ke-sembilan pencarian, tepatnya tanggal 7 Januari 2015, dan merupakan tim pertama yang berhasil mengidentifikasi bangkai pesawat AirAsia QZ8501.

Empat hari berselang, Tim BPPT mengidentifikasi sinyal PING dari pesawat AirAsia QZ8501 berada disekitar 4 kilometer dari area temuan ekor pesawat AirAsia QZ8501. Adapun kedua lokasi Black box dan ELT hasil survei Baruna Jaya J1BPPT itu adalah di titik kordinat: 03°37?20.7?S 109°42?43?E. Dan sinyal satu lagi berada pada kordinat: 03°37?21.13?S 109°42?42.45?E.

Dengan temuan tersebut Tim BPPT berhasil menyelesaikan misi yang diberikan Presiden RI, yaitu menemukan kotak hitam dari pesawat AirAsia QZ8501.

Menko Maritim RI kala itu, Indroyono Soesilo menegaskan bahwa hasil yang diperoleh tim BPPT ini perlu mendapat apresiasi. Ini adalah bukti bahwa teknologi dibutuhkan dalam berbagai aspek, salah satunya dalam Operasi SAR Air Asia ini. “Anda bisa bayangkan bahwa BPPT bukanlah ahli SAR, namun kemampuan teknologi akhirnya bisa menemukan hal penting ini. Ini bukti bahwa tidak hanya otot, tapi juga butuh otak (kemampuan teknologi) dalam menyelesaikan isu nasional seperti ini,” pungkasnya.