JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai Instansi Pembina Jabatan Fungsional Perekayasa, setiap tahun memberikan penghargaan kepada unsur masyarakat, baik masyarakat Indonesia ataupun Internasional yang memiliki dedikasi dan komitmen tinggi serta menjadi tokoh panutan (motivator) dalam pengembangan teknologi/kerekayasaan di Indonesia.

Penghargaan berupa Penganugerahan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan (PUK) diberikan kepada mereka yang telah berjasa menghasilkan karya nyata dibidang teknologi/kerekayasaan kepada Negara Indonesia yang berimplikasi kepada peningkatan perekonomian, kesejahteraan masyarakat, martabat dan kemandirian bangsa Indonesia.

Penganugerahan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan (PUK) diberikan sejak tahun 2007 di tiap tahunnya dan telah diberikan kepada 10 putra-putri terbaik bangsa dalam berbagai bidang. Pada tahun 2017 ini Anugerah Gelar Perekayasa Utama Kehormatan diberikan kepada Mochamad Basuki Hadimuljono Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai Perekayasa Utama Kehormatan Bidang Infrastuktur pada (3/8) bertempat di Auditorium BPPT II, Jakarta. Hadir dalam acara penganugerahan adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Kepala BPPT Unggul Priyanto, dan undangan lain.

Pemberian Gelar Perekayasa Utama Kehormatan kepada Basuki didasarkan pada jasa-jasanya yang sangat besar dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam memimpin pengembangan inovasi teknologi/kerekayasaan pada bidang infrastruktur. Adapun beberapa contoh Prestasi Inovasi Teknologi yang telah dicapai oleh Basuki antara lain Pembangunan 7 Pos Lintas Batas Negara, pembangunan Jalan Trans Papua, dan peningkatan akses Trans Kalimantan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan bahwa Basuki adalah sosok yang tepat mendapatkan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan di Bidang Infrastuktur.

“Perekayasaan pada akhirnya membuat sesuatu itu lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. Apabila keberhasilan di bidang rekayasa dapat kita laksanakan maka bangsa ini dapat menjadi lebih baik, lebih bersaing dan lebih cepat”, ucap Wapres Jusuf Kalla.

Dalam orasi Ilmiahnya yang berjudul “Terobosan Dalam Pembangunan Infrastruktur Untuk Mengejar Ketertinggalan”, Basuki menjelaskan bahwa infrastruktur yang handal adalah kunci utama untuk bisa meningkatkan daya saing bangsa. Pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan selama ini pada dasarnya bukan untuk memenuhi keinginan kita untuk bermewah-mewahan namun untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara lain yang telah lebih dahulu membangun infrastrukturnya.

Daya saing Indonesia dalam konteks global masih berada pada peringkat 41, sedangkan peringkat daya saing infrastruktur Indonesia sendiri mengalami peningkatan pada posisi sebelumnya yaitu di tahun 2013 berada di peringkat 92 dan pada tahun 2017 berhasil naik ke peringkat 60. Untuk itu Indonesia perlu meningkatkan daya saing infrastruktur menuju peringkat 50 di 2018 nanti.

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan dalam sambutannya bahwa pemberian gelar ini melalui mekanisme penilaian dan pertimbangan yang sangat ketat oleh Majelis Perekayasa Nasional untuk Bidang Infrastruktur.

“Penganugerahan Perekayasa Utama Kehormatan kepada beliau dalam bidang infrastruktur dipandang sangat tepat, mengingat sebagai Menteri PUPR beliau mendapatkan tugas yang sangat penting dari pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur secara nasional”, jelas Unggul. (SH/AP)

Galeri