UGM kembali mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti misi seni dan budaya Ensamble of Gamelan (EoG) dan Festival of Colours of the World (FESCO) yang dihelat pada 15-16 April 2016 di Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Dalam misi ini UGM menurunkan tiga tim kesenian yaitu Unit Kesenian Jogja Gaya Surakarta (UKJGS), Rampoe, dan Gasita.
EoG diikuti 35 tim dari sejumlah universitas di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Sementara FESCO diikuti 24 tim dari universitas di Indonesia dan Malaysia.
Dalam EoG UGM mengirimkan dua delegasi yaitu dari UKJGS dan Gasita. Tim UKJGS dengan 12 pengrawit dan satu sinden menyuguhkan iringan kontemporer dengan judul Lindur. Sedangkan tim Gasita dari Prodi Bahasa Inggris Sekolah Vokasi menurunkan 12 pengrawit dan dua sinden. Mereka menampilkan dua lagu yaitu Penghijauan karya Ki Cokro Warsito, dan Liyep Layaping Aluyup karya Ki Wahono.
Sementara dalam FESCO, UGM mengirimkan tiga delegasi yaitu UKJGS, Gasita, dan Rampoe. Disini UKJGS menampilkan tarian yang mengambil salah satu fragmen dari kisah ramayana yaitu fragmen Rama Kidang Cakil. Disini UKJGS menurunkan empat penari untuk membawakan tarian tersebut.
Selanjutnya, Gasita menyuguhkan sebuah tarian yaitu Srimpen Kembar yang dibawakan oleh delapan penari. Sedangkan Rampoe yang merupakan komunitas tari Aceh di bawah naungan Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat (IMABA) menampilkan dua tarian di acara itu. Adapun tarian tersebut adalah tari Meusare-sare dan tari Terak Pukat.
Fara Dina Dwi Rahayu AS., salah satu delegasi kesenian UGM menyampaikan keikutsertaan mereka dalam kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam pelestarian tradisi gamelan dan tari Indonesia. Selain itu juga untuk menjalin hubungan dengan berbagai universitas luar negeri lainnya.
“Melalui EoG dan FESCO ini diharapkan dapat tercipta persahabatan dan kolaborasi antara pemuda dari masing-masing negara,” kata Ketua UKM UKJGS UGM ini, Selasa (19/4).
Sementara Yunita Herin J, Ketua Gasita mengatakan melalui kegiatan ini sebagai wahana promosi kepada dunia bahwa Indonesia memiliki produk seni dan budaya tinggi dan adiluhung. Juga sebagai ajang untuk meningkatkan kualitas softskill melalui bidang seni, menjalin hubungan lintas budaya, serta memperkuat nama nama UGM di kancah internasional.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ridwan, anggota tim Rampoe UGM. Tujuan Rampoe mengikuti acara ini adalah untuk memperkenalkan dan mengemban misi seni, budaya, dan pendidikan Indonesia di level global, khususnya seni budaya Aceh. (Humas UGM/Ika)