PIH UNAIR Salah satu capaian membanggakan bagi mahasiswa adalah ketika dirinya mampu meraih prestasi. Bukan hanya di bidang akademik, melainkan juga non-akademik. Apalagi, prestasi yang diraih sudah level internasional.

Ialah Adi Wisnu Nugraha, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga berhasil memenangkan kompetisi logo ASEAN+3 Unet. Logo resmi Asean+3 Unet ini akan dipakai secara internasional sejak hari penyerahan, Kamis (26/7) hingga seterusnya ke depan.

Penghargaan kepada Wisnu, sapaan karibnya, dilakukan pada Kamis, (26/7), bertempat di Ballroom Hotel Rizqun, Brunei Darussalam. Acara bertajuk AUN+3 Rector’s Meeting dihadiri oleh rektor dan perwakilan seluruh anggota AUN di ASEAN, ditambah dengan 3 negara (+3) lain, Jepang, Korea, dan Cina.
Upacara penganugerahan itu juga dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam Dr Sujatmiko.

“Selamat kepada Adi Wisnu Nugroho yang telah mendapatkan penghargaan sebagai pemenang ASEAN+’3 Logo competition yang diikuti oleh 93 peserta, dengan entry sebanyak 152 dari 9 negara ASEAN, terang Sujatmiko.

“Tentu ini merupakan pertarungan yang berat, dan Adi dapat menang. Ini dapat membawa nama baik Indonesia. Saya ucapkan selamat untuk Adi, dan juga selamat untuk UNAIR Surabaya yang kali ini kembali membawa nama harum Indonesia di kancah ASEAN+3Unet, tambahnya.

Proses Kreatif

Wisnu adalah mahasiswa program studi Manajemen UNAIR angkatan tahun 2014. Ia cukup terkejut saat menerima pengumuman pada Rabu, 10 Januari 2018 lalu. Sebab, lomba tersebut sudah cukup lama dan ia nyaris melupakan bahwa dirinya telah mengikuti lomba level internasional itu.

Wisnu mendapatkan informasi lomba dari official akun LINE UNAIR. Dengan dibantu beberapa teman untuk memberi masukan, Wisnu mengirim sepuluh logo untuk diikutsertakan dalam lomba tersebut. Dari sepuluh desain logo itu, memang ada satu yang menurutnya paling dijagokan.

Wisnu tak mendapatkan inspirasi yang muluk-muluk atas desain yang ia kirim. Sebelum pembuatan desain logo, ia melakukan riset tentang logo-logo ngetren yang banyak dipakai institusi pendidikan. Ia menggabungkan warna bendera tiga negara yang tergabung dalam ASEAN+3 Unet, yakni Cina, Jepang, dan Korea.

“Pada awalnya cuma mau ngirim satu logo. Ternyata dari panitia terserah ngirim berapa. Saya kirim sepuluh untuk memperbesar peluang menang. Saya mengambil warna dari masing-masing bendera negara, kuning untuk Cina, biru untuk Korea, dan merah untuk Jepang, papar Wisnu.

Wisnu mengakui, sebelumnya dirinya belum pernah mengikuti event serupa. Namun, ia memang memiliki skill desain yang hanya ia pakai dalam keikutsertaan kepanitiaan atau kegiatan organisasi di kampus.

Atas prestasinya itu, Wisnu mendapatkan menghargaan berupa uang tunai senilai 800 US Dollar atau setara dengan 10.810.810,8 Rupiah Indonesia bersert sertifikat pengakuan dari ASEAN+3 Unet.

Atas penganugerahan itu, Rektor UNAIR Prof Moh Nasih mengucapkan selamat dan sukses untuk Wisnu. Kami semua bangga dengan prestasi ini. Prestasi ini membuktikan bahwa di UNAIR mahasiswa tidak hanya dididik dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan akademik, tapi juga sottskill mahasiswa, terang rektor.

Wisnu adalah mahasiswa UNAIR yang tergabung dalam unit start-up kami. Hasilnya terbukti, kreatifitas mereka (mahasiswa, Red) dapat diadu, paling tidak se-ASEAN, tambahnya.

Selain Wisnu yang menang awarding Logo ASEAN UN NET +3 (AUN+3), acara dihadiri juga oleh pemenang lomba pidato antar-pemuda ASEAN, yaitu Christella Finisianti, mahasiswi Universitas Indonesia. Christella menerima penghargaan sebagai Delegasi Terbaik pada The 18th AUN and 7th ASEAN+3 Educational Forum and Young Speakers’ Contest. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh