Jakarta – Bangsa Indonesia beberapa hari lagi akan memasuki usia yang ke 72 tahun. Daya saing, kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), maupun sisi inovasi menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama di tengah era globalisasi ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir saat membuka Dialog Kebangsaan dengan tajuk “Mengelola Keberagaman, Meneguhkan Keindonesiaan” yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bertempat di Auditorium LIPI, Selasa, (15/8).

Nasir sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh LIPI ini. Bahkan Nasir menyebut, kegiatan ini sebagai Presidential Lectures karena mampu menghadirkan 3 orang Presiden Republik Indonesia sebagai narasumber antara lain; B. J. Habibie (Presiden Indonesia Ke-3), Megawati Soekarnoputri (Presiden Indonesia Ke-5), dan Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Indonesia Ke-6).

Pada kesempatan pertama, Megawati Soekarnoputri menyoroti bahwa ilmu pengetahuan merupakan penanda maju mundurnya suatu bangsa bahkan suatu peradaban. Kita bisa belajar dari sejarah, begitu banyak bangsa di dunia ini yang dulu begitu besar namun saat ini hanya tinggal sejarah belaka. Bangsa Mesopotamia dan Romawi contohnya.

Untuk itu dengan ilmu pengetahuan inilah seharusnya kita bangun Indonesia. “Meminjam istilah Bung Karno, jika kemerdekaan Indonesia itu diibaratkan sebagai ‘jembatan emas’ maka apa yang akan kita lakukan di seberang ‘jembatan emas’ tersebut?,” tanya Megawati kepada seluruh peserta.

“Kita harus membangun sebuah negeri yang luar biasa. Sebuah negeri yang dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Dan di situlah ilmu pengetahuan berperan penting,” tegas Megawati disambut riuh tepuk tangan peserta Dialog Kebangsaan.

Berbeda dengan Megawati, B. J. Habibie Presiden Indonesia Ke-3 lebih menyoroti pada faktor-faktor yang mampu menjaga kehidupan berbangsa bernegara. Pertama adalah kesadaran setiap individu Bangsa Indonesia bahwa kita memiliki satu kesatuan bahasa yaitu Bahasa Indonesia.

“Bahasa adalah satu-satunya jalan menyampaikan informasi antar manusia,” papar Bapak Teknologi Indonesia BJ Habibie.

Lebih lanjut, Habibie menambahkan, kita harus sadar bahwa kita orang Indonesia, harus menggunakan Bahasa Indonesia dan bangga akan hal itu dimanapun kita berada.

Faktor kedua, menurut Habibie adalah kesadaran akan adanya kesatuan nilai. Meskipun Indonesia terdiri dari berbagai suku namun memiliki satu kesadaran akan nilai-nilai yang dianut sebagai sebuah bangsa.

Lebih lanjut Habibie menjelaskan faktor ketiga yang menjaga rasa kebangsaan kita yaitu kesadaran secara politik atau political will dari setiap individu bahwa dirinya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita harus bersyukur bahwa kita masih dianugerahi rasa persatuan dan kesatuan di bawah payung Indonesia,” tegas Habibie menutup paparannya.

Di segmen terakhir, Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Indonesia ke-6 dalam paparannya menyoroti pentingnya sikap saling menghormati antar insan Indonesia untuk meredam gejolak yang timbul dalam mengelola keberagaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mengelola keberagaman tidak hanya cukup dengan sikap toleransi. Tidak hanya cukup dengan mengembangkan sikap tenggang rasa. Namun harus menumbuhkan sikap saling menghormati. Sikap menghargai antar komponen bangsa, ini yang harus ditumbuhkan,” ujar Yudhoyono.

Selain itu Yudhoyono mengingatkan seluruh peserta bahwa Indonesia harus lah menjadi Negara maju. Indonesia bisa lepas dari jebakan “Middle Income Trap”. Namun hal tersebut membutuhkan syarat yang tidak mudah yaitu sikap optimistik seluruh anak bangsa.

Menurut Yudhoyono, Indonesia sangat berpotensi menjadi negara maju yang adil dan makmur. Hal ini bisa dilihat dari berbagai indikator antara lain pertama, usia Indonesia masih cukup muda (Young Country). Kedua, Indonesia memiliki potensi yang besar baik dari sisi sumber daya alam maupun dari sisi sumber daya manusia. Ketiga, Indonesia selalu mampu keluar dari berbagai krisis.

Namun demikian tanpa perjuangan dan ikhtiar seluruh anak bangsa, cita-cita tersebut akakn pupus.

“Untuk itu mari kita bangun bersama semangat Indonesia Bisa. Mari kita perjuangkan dan ikhtiarkan bersama cita-cita Indonesia Maju sebagai mana termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945,” pinta Yudhoyono mengakhiri paparannya.

Hadir juga dalam acara ini, Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto dalam sambutannya menjelaskan bahwa Dialog Kebangsaan ini merupakan salah satu upaya LIPI dalam berkontribusi mewujudkan Indonesia yang mandiri, adil, makmur, dan memperkuat jalinan persatuan dan kesatuan Indonesia. Dialog ini juga diselenggarakan dalam peringatan ulang tahun Emas LIPI dan dalam rangka semangat “Kerja Bersama” menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72. (MSF)

Galeri