Kelapa sawit merupakan tumbuhan tropis golongan Palmae yang banyak digunakan oleh industri pembuatan minyak sayur, kosmetik serta sebagai biofuel. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung (2013), kebun kelapa sawit negara seluas 11.787 ha dengan produksi 27.637 ton dan kelapa sawit swasta seluas 100.159 ha dengan produksi 194.700 ton. Rata-rata produktivitas kelapa sawit rakyat sekitar 16 ton TBS/ha/tahun. Tahun 2008, produksi minyak sawit Indonesia adalah 17.539.788 ton dan meningkat menjadi 24.431.640 ton pada tahun 2013 (Ditjenbun 2014). Penurunan produksi kelapa sawit terjadi akibat kematian kelapa sawit yang disebabkan oleh penyakit busuk pangkal batang (basal stem rot).

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat inovasi untuk mengatasi penyakit busuk pangkal batang (basal stem rot) pada tanaman kelapa sawit. Mereka adalah Muhammad Alwin Azhari, Ike Wahyuni Putri, Ahmad Irvan Pratama dan Radika Evita Hidayah dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan IPA IPB. Mereka tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-PE) dengan judul “Fungisida Eco-Friendly Ganoderma boninense Berbasis Nano-trichodermin sebagai Pengendalian Basal Stem Rot pada Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)”.

“Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) pada kelapa sawit disebabkan oleh patogen Ganoderma boninense yang menyerang tanaman tua, tetapi juga tanaman yang masih muda. Hingga saat ini pengendalian yang efektif untuk pengendalian serangan hama tersebut belum ada,” ujar Alwin.

Perlakuan dengan menggunakan bahan kimia dapat merusak komposisi mikroba di dalam tanah, akibatnya keseimbangan kondisi mikroba tanah terganggu, polusi lingkungan, dan adanya dampak negatif pada tumbuhan dan manusia.

Penggunaan bahan kimia dalam penanganan penyakit busuk pangkal batang salah satunya menggunakan fungisida heksakonazol. Heksakonazol memiliki bahan aktif yang berbahaya bagi organisme di lingkungan kelapa sawit tersebut, sehingga tidak aman dan tidak ramah lingkungan.

“Diperlukan solusi yang lebih baik dalam mengatasi masalah penyakit busuk pangkal batang yakni menggunakan agen hayati (organisme tertentu) yakni Thricoderma sp.,” katanya.

Trichoderma sp. merupakan fungi indigenous yang berpotensi sebagai biokontrol dalam menekan pertumbuhan Ganoderma penyebab penyakit BPB. Aplikasi Trichoderma yang selama ini diberikan pada lubang tanam saat di pre-nurserymain nursery atau lubang tanam di lapangan dinilai kurang efektif dan efisien.

“Pembuatan dalam bentuk nano-trichodermin akan membantu penggunaan obat lebih efiesien (hanya perlu konsentrasi rendah), mudah dalam mencari bahan dan membuatnya, langsung mengenai target (hama), tidak bersifat racun dan ramah terhadap lingkungan (Eco-friendly),” tuturnya.

Penelitian ini dilaksanakan pada Februari hingga Agustus 2017, bertempat di Laboratorium Biokimia IPB dan Laboratorium Penelitian Pusat Studi Biofarmaka Tropika, Bogor, Jawa Barat. Metode yang dilakukan yaitu penyiapan isolat, pembuatan nanoemulsi, analisis dan enkapsulasi. Setelah itu dilakukan optimasi dosis dan uji aktivitas antifungiTrichoderma, Nano-Trichodermin dan Heksakonazol terhadap G. boninense. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Nano-Trichodermin lebih mampu dan efektif dalam mengatasi penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh G. Boninense.

Melalui penelitian ini Alwin dan kawan-kawan berharap dapat memberikan alternatif fungisida yang aman dan ramah lingkungan yang sekaligus dapat menghambat penyakit busuk pangkal batang di perkebunan kelapa sawit, serta nantinya teknologi berbahan dasar fungi ini dapat berguna dan lebih lanjut bisa dikembangkan pada skala massal.(AT)

img_20170718_225638_245 img_20170809_124626_521