Indonesia dan Iran adalah dua Negara Islam yang bersahabat sejak lama. Hubungan bilateral ke dua Negara telah dibuka pada tahun 1950, melalui Kedutaan RI di Iran, dan ditingkatkan menjadi Kedutaan Besar RI di Iran pada tahun 1960 (sumber http://www.kemlu.go.id/tehran/id/Pages/Iran.aspx). Dalam bidang kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), Indonesia dan Iran telah memulai dengan penanda-tanganan Memorandum of Understanding (Nota Kesepahaman) antar dua Negara per 2006, dan membentuk Komite Iptek Bersama sejak tahun 2008.

Pada tanggal 9 Oktober 2017, di Tehran, Iran, telah dilaksanakan Pertemuan Kelima Komite Kelompok Kerja Bersama Bidang Iptek (The 5th Joint Working Committee on Science and Technology) Indonesia Iran. Pertemuan dibuka oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir, PhD, Ak., sedangkan pihak Iran oleh acting Menteri Prof. Dr. Zia Hashemi, Kementerian Ilmu Pengetahuan, Riset dan Teknologi Iran (The Ministry of Science, Research and Technology – MSRT).

Dalam pembukaan, kedua Menteri saling memberikan apresiasi atas keberlangsungan kerjasama bilateral bidang Iptek, yang mencakup kerjasama kesehatan dan obat-obatan (termasuk stem cell atau sel punca), teknologi material maju (termasuk nanoteknologi), bioteknologi, teknologi kebumian, pengembangan Science Technology Park (STP). Selanjutnya, disamping kegiatan-kegiatan bersama melalui penyelenggaraan seminar, workshop, focus group discussion, konferensi; kedua Menteri mengingatkan akan pentingnya mengembangkan suatu kerjasama riset yang kongkrit, yang nantinya diharapkan dapat menghasilkan ‘produk inovasi’ yang merupakan perpaduan teknologi Iran dan Indonesia di masa yang akan datang, dalam bidang-bidang yang telah dan akan disepakati bersama. Dalam bidang kerjasama pendidikan tinggi, Menteri Nasir juga mengungkapkan keinginanya untuk meningkatkan kerjasama mobility program atau program pertukaran mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, Visiting Professors antar dua Negara.

Pertemuan bilateral Komite Kelompok Kerja ke-5 tersebut, dipimpin oleh Prof. H. Salar Amoli, acting Menteri Kerjasama Internasional, dari Kementerian Ilmu Pengetahuan, Riset dan Teknologi (MSRT) Iran dan Nada DS Marsudi, Kepala Biro Kerjasama dan Kompublik (KSKP), Kemenristekdikti Indonesia, menghasilkan beberapa rencana kegiatan yaitu
(i) Pembentukan ‘Indonesia Iran University Networking’,
(ii) Pelaksanaan Indonesia Iranian Joint Symposium, back to back dengan
(iii) Pertemuan ke-6 Komite Kelompok Kerja Iptek Indonesia Iran di Indonesia pada semester-1 Tahun 2019,
(iv) Implementasi Mobility Program, antara lain partisipasi para peneliti dan stakeholder Indonesia pada forum International Seminar dan atau Symposium on Nanotechnology di Iran, Februari dan atau Maret 2018.

Pada hari kedua, 10 Oktober 2017, Menristekdikti Mohamad Nasir juga mengadakan kunjungan kerja ke Islamic World Science Citation Center (ISC) di Shiraz, Iran pada tanggal 10 Oktober 2017, serta bertemu dengan President ISC, Prof. Muhammad Jayad Dehghani. ISC – Iran dan Kemristekdikti – Indonesia akan memfinalisasi perjanjian kerjasama antar kedua Institusi dalam bidang kerjasama publikasi saintifik dan riset.

Dalam pertemuan di ISC, juga dipaparkan juga mengenai ‘The State of the Art of Scientific Production in the World, the Organization of Islamic Cooperation (OIC), and Indonesia’, (ISC article, 10 Oktober 2017). Data menunjukkan bahwa dalam periode 2000–2016, laju pertumbuhan jumlah publikasi ilmiah dunia dalam bidang (i) ilmu pertanian meningkat sampai 99%, sementara rata-rata pertumbuhan publikasi OIC dan Indonesia mencapai 450% dan 903%, masing-masing. Dalam bidang (ii) rekayasa dan teknologi, kemajuan laju pertumbuhan jumlah publikasi dunia mencapai 272%, sementara untuk negara anggota OIC mencapai 1090%, sedangkan pertumbuhan publikasi di Indonesia adalah 4402%. Dalam bidang publikasi (iii) kemanusiaan, laju pertumbuhan jumlah publikasi tingkat dunia adalah 97%, tetapi laju pertumbuhan jumlah publikasi di Negara OIC adalah 1088%, sedangkan untuk Indonesia 3167%. Dalam bidang (iii) kesehatan dan obat2an, laju pertumbuhan publikasi ilmiah dunia adalah 97%, OIC Countries 543%, sedangkan Indonesia mencapai 1156%. Dalam bidang (iv) ilmu dasar, laju pertumbuhan jumlah publikasi dunia mencapai 90%, OIC Countries 976%, sedangkan Indonesia 2547%. Dalam bidang (v) ilmu sosial, laju pertumbuhan jumlah publikasi di dunia adalah sebesar 101%, di kalangan OIC Countries 976%, sedangkan Indonesia mencapai 2547%. Total rata-rata dari laju pertumbuhan jumlah publikasi pada ke enam bidang tersebut, untuk laju publikasi dunia mencapai 105%, laju publikasi OIC Countries 666%, sedangkan laju publikasi Indonesia mencapai 1567%.

Dalam kurun waktu 9-11 Oktober 2017, juga dilaksanakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Wisma Indonesia, kunjungan kerja ke Shiraz University, Sharif University, the Iranian Nanotechnology Initiative Council (INIC), University Tehran Science, Technology Park (USTSP). Adapun pendamping Menristekdikti Mohamad Nasir adalah Duta Besar Octavino Alimudin, Dubes LBBP RI untuk Iran, Nada Marsudi, Kepala Biro Kerjasama dan Kompublik, Kemenristekdikti; Prof. Dr. Kadarsah Suryadi, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB); Dr. Yusril Yusuf, Kepala Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu, Universitas Gadjah Mada (UGM); Bahris Paseng, Asisten Deputi Menteri untuk kerjasama Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, Kementerian Perekonomian, Annisa Pranowo, Kasubid Kerjasama Luar Negeri,Tety Mudrika Hayati Pensosbud, Deddy Eka Januardi, Yanti, dan Adella Virosa – KBRI Tehran. (NM/AP)