Malang – 80 tim yang berasal dari 45 perguruan tinggi bersaing dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) Tahun 2019, yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tanggal 24-28 September 2019, di Sirkuit JSI (Jl Jakarta-Jl Simpang Ijen) Kota Malang. KMHE 2019 ini mengusung tema “Utas Awij untuk Alam” yang didasarkan pada bahasa khas Arek Malang dengan tujuan menyatukan jiwa untuk kembali melestarikan alam. Dengan harapan besar bisa menyatukan jiwa warga masyarakat demi kelestarian lingkungan melalui konsep kendaraan hemat energi.

Direktur Kemahasiswaan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Didin Wahidin menyampaikan terima kasih kepada Rektor Universitas Negeri Malang yang bersedia menjadi tuan rumah dan telah mepersiapkan kegiatan KMHE dengan baik. Pelaksanaan KMHE tahun 2019 memasuki tahun yang ke – 7, yang membuktikan bahwa KMHE sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan bagi kegiatan Kemahasiswaan terhitung dari tahun 2012. Pada pelaksanaan KMHE tahun 2019 terdiri dari 45 Perguruan Tinggi, terdiri dari 2 Kategori yaitu Kategori Prototipe sebanyak 45 Tim dan Kategori Urban sebanyak 35 Tim , terdiri dari 4 kelas motor penggerak yaitu Bahan Bakar Diesel sebanyak 16 Tim, Bahan Bakar Etanol sebanyak 11 Tim, Bahan Bakar Gasoline sebanyak 19 Tim dan Bahan Bakar Listrik sebanyak 34 Tim.

“Kita memberikan apresiasi kepada semua Perguruan Tinggi peserta KMHE yang secara konsisten mengembangkan Mobil Hemat Energi sebagai bagian dari pengembangan keilmuan. Pada kegiatan ini juga akan dilaksanakan Workshop kerjasama dengan Shell, sehingga memberikan nilai tambah dan peningkatan kompetensi untuk mahasiswa Indonesia,” ucapnya saat membuka Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) tahun 2019.

Didin mengatakan penerapan Revolusi Industri Tahap 4.0 sangat terlihat pada kegiatan Kontes Mobil Hemat Energi. Hal tersebut dapat dibuktikan karena penggunaan Teknologi Informasi, Software development pada Mobil KMHE, Pengembangan desain, bahan bakar, dan lainnya menjadi hal yang penting dan Inovatif. “Kita terus mengembangkan inovasi dan kreativitas pada era revolusi industri 4.0, sehingga terjadi continuous improvement pada setiap kegiatan dan proses pembelalajaran untuk kita semua,” terangnya.

Pada saat ini sumber energi terutama sumber energi dari fosil (minyak dan gas) menjadi salah satu masalah yang harus diperhatikan. Indonesia sebagai salah salah satu negara yang masih menggunakan sumber energi dari fosil, harus menyikapi masalah ini dengan baik dan bijak. Hal ini menuntut kita untuk berpikir mencari solusi terbaik dalam mengatasi krisis energi tersebut. “Kita ketahui bersama beberapa negara telah melakukan upaya untuk menanggulangi masalah tersebut, diantaranya dengan melakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Hampir semua perusahaan yang bergerak di bidang otomotif berlomba untuk menghasilkan produk yang mampu menghemat pemakaian bahan bakar melalui pengembangan teknologinya,” jelas Didin.

Pelaksanaan KMHE sendiri bertujuan untuk mewadahi kreativitas mahasiswa seluruh Indonesia dalam merancang, membangun, menguji, dan mengkompetisikan mobil hemat energi yang aman dan ramah lingkungan. Selain itu juga untuk mendorong mahasiswa untuk dapat berperan aktif dalam menjaga kesinambungan dan ketahanan energi nasional dengan teknologi kendaraan hemat energi yang diciptakannya.

Kontes Mobil Hemat Energi 2019 terdiri dari dua kategori kendaraan yaitu: (1) Prototype : Kendaraan masa depan dengan desain khusus yang memaksimalkan aspek aerodinamika untuk keperluan lomba, terdapat Kelas Bahan Bakar : Gasoline, Diesel, Ethanol, dan Listrik; (2) Urban Concept : Kendaraan roda empat yang tampilannya mirip kendaraan pada umumnya dan sesuai untuk kendaraan di jalan, terdapat Kelas Bahan Bakar : Gasoline, Diesel, Ethanol, dan Listrik.

KMHE 2019 memiliki beberapa peraturan yang telah dicantumkan pada dua regulasi, yaitu: (1) Regulasi Teknis Kontes Mobil Hemat Energi 2019, dan (2) Regulasi Non Teknis Kontes Mobil Hemat Energi 2019. Target jangka pendek dari kompetisi ini adalah menjadi tolok ukur atau acuan bagi mahasiswa untuk melanjutkan ke kompetisi sejenis ditingkat Internasional. Target jangka panjang dari kompetisi ini putra-putri Indonesia mampu mendesain dan membuat sendiri kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Kendaraan ini minimal dapat dipergunakan sebagai alat transportasi internal di lingkungan kampus.