Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengikuti kegiatan 7th Asean+3 Junior Science Odyssey (APT JSO) pada 29 Juli – 4 Agustus 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pembukaan APT JSO ke-7 dibuka oleh Menteri Minister of Energy, Science, Technology, Engineering and Climate Change (MESTECC).

Penyelenggaraan APT JSO merupakan ajang kompetisi siswa usia 13 – 15 tahun setingkat SMP di bidang sains terkait dengan kemampuan untuk mempergunakan peralatan laboratorium dan melakukan pemecahan masalah terhadap suatu penelitian yang dilakukan. Peserta APT JSO berasal dari negara-negara ASEAN ditambah Jepang, Korea, dan China. Tema APT JSO tahun ini “Science and Innovation for Good Health and Societal Well Being”.

Tujuan APT JSO ini diselenggarakan, yaitu mendorong siswa untuk mengembangkan minat di bidang Sains, Teknologi, dan Informasi (STI), berbagi ide dan pengetahuan tentang peranan STI dalam membentuk kesehatan yang baik dan kesejahteraan sosial, mengintensifkan keingintahuan dan minat intelektual terhadap STI melalui pengalaman belajar, serta menumbuhkan persahabatan dan jaringan di antara peserta dari negara-negara anggota APT JSO.

Peserta yang hadir pada APT JSO tahun ini berasal dari 9 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Republik Korea. Tim Indonesia diwakili oleh 3 orang siswa dari Brighton Junior High School (Brighton JHS) Cibubur.

Perlombaan yang diselenggarakan pada APT JSO ini di antaranya Great Science Ideas (GSI), yaitu  tiap kelompok peserta membuat video berdurasi 3 menit berisi ide tentang peranan STI dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di tahun 2050. Setelah membuat video, peserta harus membuat poster yang materinya merupakan resume dari video yang telah dibuat. Poster tersebut dipresentasikan di hadapan dewan juri.

Perlombaan berikutnya Great Science Quest (GSQ), yaitu tiap kelompok peserta ditantang untuk memecahkan permasalahan yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan konsep STI sederhana. GSQ dilaksanakan di lokasi outdoor (GSQ-O) dan di laboratorium (GSQ-L). Selain kemampuan menuntut nalar dan logika, GSQ juga menuntut kemampuan fisik dan skill dalam menggunakan peralatan laboratorium, untuk dapat menyelesaikan tantangan dengan baik dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Selanjutnya perlombaan Great Science Pitch (GSP) pada lomba ketiga, kelompok peserta diacak, sehingga satu peserta dari suatu negara bergabung dengan peserta lain dari negara yang berbeda. Masing-masing kelompok diberi satu topik tentang penyakit tertentu, seperti malaria, kolera, alzheimer, dsb. Peserta diminta menggunakan STI untuk membuat alat peraga/display/informasi/produk yang terkait dengan solusi permasalahan dari penyakit tersebut.

Perlombaan terakhir Great Cultural Odyssey (GCO), yaitu setelah pengumuman pemenang, peserta melakukan pertukaran budaya melalui acara GCO. Peserta menampilkan seni budaya (kultur) negara masing-masing, seperti menyanyi, menari, demonstrasi hasil budaya, dsb. Pada ajang ini juga dipilih video GSI terfavorit pilihan peserta, Mister dan Miss JSO 2018, Best Friendly Participant, dsb.

Selain acara lomba, para peserta juga melakukan serangkaian kunjungan. Para guru, mentor atau observer pendamping juga memiliki kegiatan tersendiri, yaitu berkunjung ke sekolah-sekolah milik pemerintah (public school) yang ternama di Malaysia dan ke science center Petrosains KLCC dan Pusat Sains Negara.

Tim Indonesia yang dibimbing oleh PP-IPTEK berhasil mendapatkan medali di masing-masing lomba GSI, GSQ, dan GSP dengan total medali yang didapatkan adalah 9 medali, dengan rincian:

  1. Kemal Susanto (3 perunggu)
  2. Awluna Ramadhya (3 perunggu)
  3. Keisha Putri (2 perunggu, 1 silver)

Selamat kepada tim Indonesia telah membanggakan bangsa Indonesia mengikuti ajang internasional APT JSO 2018.

Sampai jumpa tahun depan!