UNAIR NEWS – Gempa yang terjadi di Lombok Utara beberapa waktu lalu membuat berbagai kalangan berempati. Selain dari kalangan pejabat pemerintah, bahkan Presiden Joko Widodo, kalangan lain turut datang memberikan bantuan. Termasuk dilakukan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga.

Sejak kali pertama kali beroperasi pada Sabtu, 11 Agustus 2018, Rumah Sakit (RS) Terapung Ksatria Airlangga turut mengatasi problem kesehatan di sana. Salah satunya, membantu persalinan pasien terdampak gempa di Lombok Utara. Bayi laki-laki lahir pada 16 Agustus 2018 dan diberi nama Airlangga Gempa Putra.

Atas kiprah itu, RS Terapung Ksatria Airlangga mendapatkan banyak apresiasi dari sejumlah kalangan. Salah satu ungkapan itu datang dari Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi saat mengunjungi Lombok Utara pada Minggu (26/8). Menhub mengungkapkan kebanggaannya atas RS Apung Ksatria Airlangga

Budi Karya mengunjungi Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Orang nomor satu di Kemenhub itu mengecek langsung kondisi pelabuhan pasca gempa bumi. Selain penting sebagai nadi perputaran ekonomi, pelabuhan menjadi tempat sandarnya kapal wisatawan lokal maupun domestik dari Lombok-Gili Trawangan PP berikut Bali-Lombok PP.

Selama di sana, Budi Karya sempat melihat pelayanan kesehatan Rumah Sakit Lapangan (RSL) bagi korban gempa. Bukan itu saja, dia menyempatkan melihat langsung RS Terapung Ksatria Airlangga yang saat itu bersandar di pelabuhan tersebut. Dia mengungkapkan banggaannya.

Selama di perairan Lombok Utara, RS Terapung Ksatria Airlangga melakukan banyak tindakan medis bagi korban. Orthopedi serta persalinan merupakan bagian layanan yang diberikan.

Atas keberadaan RS Terapung Ksatria Airlangga di sana, Menhub juga sempat masuk RSTKA. Budi Karya melihat bagian dalamnya.

Ada dua lantai dan satu anjungan. Di lantai dasar, terdapat ruang diagnosa sekaligus recovery dan kamar operasi besar. Di lantai dua, ada kamar operasi kecil, ruang sterilisasi peralatan medis, ruang ganti, dan  kamar mandi yang menjadi satu dengan ruang cuci pakaian yang dilengkapi mesin cuci. Direktur RSTKA, dr. Agus Harianto, Sp. B, menyertai dan menjelaskan fungsi setiap ruangan.

Sementara itu, nahkoda RSTKA, Capt. Mudatsir berada di ruang kemudi. Pria asal Bulukumba itu menjelaskan, kapal RS Terapung Ksatria Airlangga dibuat pada 2017. Kapal bisa berkecepatan hingga 10 knot/jam. Kapasitas mesin yang seharga mendekati Rp 1 miliar membuat akselerasi kapal tersebut tidak kalah dengan kapal cepat untuk wisata.

”Kapal seperti ini harganya berkisar tiga miliaran. Itu belum termasuk mesin,” ucap alumnus Pendidikan Pelayaran Makassar itu.

Merespons kegiatan itu, Ketua Pusat, Informasi, dan Humas UNAIR yang mewakili rektor menyambut baik upaya-upaya itu. Upaya serupa, lanjut dia, terus dilakukan UNAIR. Civitas akademika terus mengupayakan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pengurangan beban para korban di Lombok. (PIH UNAIR)