Cibinong, Humas LIPI. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Kolombia untuk kekayaan keanekaragaman hayati. Namun aktivitas manusia dan bencana alam yang sering terjadi membuat laju degradasi ekosistem dan habitat hidup hewan dan tumbuhan terus merosot. “Aspek biosekuriti di Indonesia masih terabaikan, sebagai contoh laju deforestasi mencapai 1,8 juta hektar per tahun membuat hilangnya spesies endemik tumbuhan dan hewan asli Indonesia,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Hayati (LIPI), Enny Sudarmonowati pada “Bilateral Workshop on Biosecurity and Biosafety 2018” yang diadakan di Cibinong pada Senin (3/8).

Menurut Enny, aspek biosekuriti di Indonesia belum dikelola secara sistematis. “Selama ini, Indonesia lebih banyak menaruh perhatian pada keamanan hayati atau biosafety sehingga aspek biosekuriti terabaikan,” ungkapnya. Dirinya menjelaskan, aspek biosekuriti penting untuk mencegah berkurangnya populasi spesies lokal akibat hama, penyakit, atau spesies asing invasif dari luar wilayahnya. “Hal itu terjadi karena belum ada regulasi biosekuriti, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan belum memuat biosekuriti, akibatnya tidak ada lembaga khusus biosekuriti, beberapa lembaga karantina yang menerapkannya belum terintegrasi satu sama lain,” jelas Enny.

Enny meminta perlu memasukkan klausul ataupun pasal tentang biosekuriti dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan yang direvisi. “Harapannya, ada badan yang fokus pada biosekuriti dan karantina dalam riset serta penanganan risiko untuk menghindari hilangnya spesies endemik ikan dan tumbuhan asli Indonesia,” tutur Enny. Selain itu, pengawasan tidak lagi bersifat karantina, tetapi dapat dilakukan sebelum barang tiba atau dilakukan di negara asal.

Direktur Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Antarjo Dikin, mengingatkan pentingnya pengawasan ketat yang tersistem untuk mencegah masuk hama, penyakit, virus maupun bakteri dari hewan, tumbuhan, maupun manusia. “Kita memerlukan pengawasan yang ketat, karena negara kita punya ribuan pelabuhan ilegal, petugas kita minim, perkuat keamanan dengan regulasi,” kata Antarjo.

John Lovett, perwakilan The Australian Plant Biosecurity Science Foundation, memaparkan kerugian ditimbulkan invasi tanaman asing, hewan, dan mikroba secara global mencapai 1,4 triliun dolar AS atau 5 persen dari ekonomi dunia. “Jadi, biosekuriti internasional, nasional, hingga komunitas perlu diperketat untuk mencegah kerugian ekonomi dan ekologi,” ujarnya. (dnh/ed: fza, dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

 

http://lipi.go.id/berita/LIPI-Sistem-Biosekuriti-Nasional-Perlu-Diperkuat/21291