Kerusakan pada kornea merupakan penyebab kebutaan kedua di dunia setelah katarak. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan, mencatat 966.329 dari dua juta penduduk Indonesia mengalami kebutaan. Pasalnya, kornea merupakan lapisan pelindung pada mata yang bersifat tembus cahaya. Kerusakan kornea dapat terjadi akibat infeksi seperti trakoma dan lepra, kurangnya nutrisi pada kornea, serta trauma. Sampai saat ini, gold standar penanganan kerusakan permanen pada kornea adalah dengan cara keratoplasti, yaitu mentransplantasikan kornea pendonor kepada pasien. Namun, metode ini belum sempurna dikarenakan jumlah pendonor kornea masih terbatas.

Di Indonesia sendiri, data Bank Mata Indonesia pada tahun 2017 menunjukan bahwa hanya 5-10 persen pasien kebutaan di Indonesia yang dapat menjalani transplantasi kornea. Selain itu, ada beberapa kelemahan juga dalam metode ini. Sehingga alternatif pengganti kornea perlu diupayakan untuk mengatasi masalah tersebut. Berangkat dari hal itu, tim PKM Penelitian Universitas Airlangga yang diketuai oleh Novi Dwi Widya Rini dan beranggotakan Marsya Nilam Kirana dan Tri Astutik dengan dosen pembimbing Dr. Prihartini Widiyanti drg., M.Kes., S.Bio., CCD berinovasi untuk membuat kornea buatan.

Mengenai hal tersebut, Novi mengatakan bahwa kornea buatan tersebut berbahan dasar kolagen dengan tambahan kitosan dan sodium hyaluronate. Novi yang juga ketua menjelaskan, bahwa ada alasan dari pemilihan bahan-bahan itu. Kolagen tipe I yang merupakan komponen terbesar dari kornea, jelasnya, memiliki sifat mampu meningkatkan biokompatibilitas dan kekuatan mekanik dari material.

“Kolagen juga mampu meningkatkan sifat hidrofilik biomaterial pengganti kornea, yang membuat lingkungan topografi yang sesuai untuk interaksi seluler dan spesifitas jaringan,” jelasnya.

Sementara kitosan, lanjutnya, memiliki sifat yang baik pada bioadhesi, permeabilitas, toksisitas, dan ocular tolerance. Kitosan yang ditambahkan pada kolagen, imbuh Novi, dapat memperbaiki waktu biodegradasi serta meningkatkan sifat mekanik dan kestabilan dari kolagen. Sedangkan sodium hyaluronate juga ditambahkan karena diketahui dapat meningkatkan presentase transmitansi cahaya.

“Kornea buatan ini tidak hanya di lakukan uji in vitro atau skala lab saja tetapi juga dilakukan uji in vivo pada hewan coba yaitu diimplankan pada kelinci,” tuturnya.

Pada akhir, Novi juga mengatakan bahwa hasil riset yang ia lakukan dan tim diharapkan memiliki sifat biokompatibel, memenuhi fungsi dari kornea itu sendiri, mudah untuk diimplankan, tidak mengakibatkan inflamasi, dan bersifat biodegradable.

“Sehingga mampu menjadi rekayasa jaringan yang dapat membantu atasi masalah penglihatan, terutama di Indonesia,” pungkasnya.

Sumber berita :
http://news.unair.ac.id/2019/06/18/mahasiswa-unair-berhasil-membuat-kornea-buatan-untuk-atasi-masalah-penglihatan/