MEULABOH – Juara 1 kompetisi UTU Awards Ke-4, Kategori Inovasi  Berbasis Pertanian dan Perikanan (Produk  Inovatif Berbasis Agro and Marine) hadiahnya disekolahkan ke luar negeri selama satu semester oleh Kemenristekdikti RI dengan sistim transfer kredit.

Pernyataan pemberian hadiah kuliah ke luar negeri bagi pemenang pertama Kategori Produk  Inovatif Berbasis Agro and Marine, yang diraih Farhan Khalil Sani dari Universitas Sumatra Utara (USU), disampaikan langsung Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. H. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA, pada malam Anugerah UTU Awards ke-4, Sabtu malam, 10 November 2018, di Halaman Utama UTU.

Malam Anugerah UTU Awards yang dihadiri Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum dan Pemerintahan, Drs. H. Rahmad Fitri HD, MPA mewakili Gubernur Aceh, berlangsung meriah dalam suasana kegembiraan, yang juga dihadiri unsur pimpinan, para dekan, para dosen dan mahasiswa UTU, serta unsur Muspida Kabupaten Aceh Barat.

Prof. Jasman menjelaskan, transfer kredit itu maksudnya adalah kuliah di luar negeri selama satu semester, mata kuliah di luar negeri itu kreditnya atau SKS bisa digunakan di Kampus masing-masing. Selama enam bulan meninggalkan kampus belajar di luar negeri pulang dapat SKS sebanyak yang diperlukan di kampus dimana mahasiswa tersebut kuliah. Jadi mata kuliahnya nanti disesuaikan. “Intinya,  ambil mata kuliah di luar negeri bisa digunakan di negeri kita  di kampus kita masing-masing di Indonesia”, ujar Prof. Jasman.

Prof. Jasman menyampaikan, untuk tahun depan akan diperjuangkan ke- Kemenristekdikti agar dapat menyetujui ke empat kategori yang diperlombakan dalam kompetisi UTU Awards setiap tahun untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri bagi pemenang UTU Awards. “Tahun 2018 ini baru satu kategori yaitu pemenang pertama Produk  Inovatif Berbasis Agro and Marine yang disetujui oleh Kemenristekdikti kuliah di luar negeri”, ujarnya.

Ke empat Kategori yang diperlombakan dalam kompetisi UTU Awards setiap tahun adalah Produk  Inovatif Berbasis Agro and Marine, Riset Unggulan Berbasis Kewirausahaan, Perencanaan Bisnis dan Desain Toko Online.

Pada malam Anugerah UTU Awards ke-4, Prof. Jasman mengatakan,  sekarang kita sedang berada di era revolusi 4.0 dimana telah meluluh-lantakkan sendi-sendi ekonomi konvensional.  Sekarang kita sedang berhadapan dengan begitu banyaknya sarjana yang menganggur, bukan tidak pintar sarjana itu, tetapi mereka tidak kreatif dan tidak inovatif. Kreatif dan inovatif tidak bisa diajarkan di sekolah, tidak ada guru yang bisa mengajarkan kreativitas dan inovatif itu. Untuk itu, sarjana harus melatih dirinya untuk berfikir dan merenung  membayangkan apa yang tidak biasa.

Menurut Prof. Jasman, berpikir yang tak biasa tetapi  ada sesuatu  yang beda dengan yang biasanya itulah namanya kreatif. Begaimana cara agar bisa kraetif, salah satunya adalah dengan mengikuti lomba. Oleh karena itu, UTU merasa bertanggungjawab terhadap kondisi tersebut, sehingga melakukan kegiatan perlombaan UTU Awards dalam rangka memotivasi masyarakat indoensia untuk terus berusaha berpikir dan merenung. Artinya berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang tak biasa. “Yang menang itu tantu ada sesuatu disitu—ada novelty (kebaruan) oleh karena itu, melalui perlombaan UTU Awards akan menghasilkan sarjana yang kraetif. Karena, sepintar apapun, kalau tidak kreatif tidak inovatif, akan ketinggalan.

Prof. Jasman menjelaskan, ada tiga jenis cara hidup manusi di muka bumi ini, yang pertama; adalah manusia berbuat sesuatu yang belum pernah ada tetapi dia berbuat. Manusia membuat sesuatu yang tak biasa. Kedua; manusia kedua adalah inventor (penemu). Ciri manusia kedua ini melihat sesuatu yang terjadi lalu dia mengikutinya. Manusia seperti ini bisa memodivikasi itu produk. Ini namanya pengikut, dan itu masih tergolong bagus. Prof. Jasman misalnya memberikan contoh, kalau Amerika sebagai penemu, maka Jepang-lah penirunya. Mereka sukses, sebagai orang yang mengikuti perkembangan.

Ketiga; manusia yang terheran-heran apa yang terjadi. Manusia seperti itu bingung dengan apa yang terjadi. Nah, kalau ada sarjana yang tergolong jenis ke 3 ini, walaupun IPK-nya 3, 90 sampai kapanpun sarjana tersebut  tidak akan berkembang. Namun, walapun IPK-nya rendah, tetapi dia kreatif, dia inovatif, dan rajin berpikir sesuatu yang tak biasa, maka sarjana itu akan sukses. Untuk itu, bahanilah dalam diri Anda itu semangat untuk berbuat sesuatu. Atas kesadaran seperti itu, maka UTU melaksanakan UTU Awards.

Untuk itu diharapkan, semoga semua perguruan tinggi di Indonesia dapat membuat kompetisi seperti perlombaan UTU Awards sehingga bangsa Indoensia selalu berbuat dan selalu mengikuti kompetisi seperti ini. Karena semakin sering mengikuti kompetisi, maka semakin bagus dan akan semakin terlatih. “Maka akan terpikirlah oleh para sarjana itu bagaimana menciptakan pekerjaan, bukan mencari kerja. Lebih separuh pekerja di Bank dikurangkan, demikian juga di media cetak dan dibeberapa perusahaan lain karena sudah diambil alih oleh teknologi.

Maka, orang-orang yang kreatif sajalah yang bisa membuat sesuatu bisa terjadi. “Saya sangat gembira, ternyata sambutan mahasiswa seluruh Indonesia terhadap perlombaan UTU Awards ini sangat luar biasa. Saya punya keyakinan, bangsa Indonesia akan maju, karena telah memiliki semangat juang untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.   Hal itu, dapat kita buktikan begitu banyaknya peserta mengikuti kompetisi semacam perlombaan UTU Awards ini”.  Ruang kuliah tersedia, namun kalau kita hanya berkutat dengan ilmu saja, tidak menyesuaikan diri dengan pasar, tentu tdak akan berkembang. “Saya berharap, mari kita memndorong terutama yang menjadi nominator UTU Awards terus berpikir sesuatu yang tak biasa. dan Jangan takut berpikir, walaupun berpikir sesuatu yang tak mungkin, namun harus dilakukan agar suatu saat bisa menjadi penemu-penemu yang hebat, seperti yang terjadi di Negara Amerika dan Eropa , atau paling kurang kita menjadi peniru hebat seperti Negara Jepang, Korea dan Taiwan. Hal itu, menjadi modal dasar bagi kita. “Ingat, tidak ada artinya sarjana kalau hanya menjadi manusia-penghafal”. Ada manusia kraetif, inovatif  akan maju ke depan. Sebuah negara maju itu sekurang kurangnya 2,5 persen rakyatnya itu harus memiliki semangat entrepreneurship (kewirausahaan). Jadi kalau ada sarjana kita yang lulus setiap tahun 10 ribu, berapa banyak yang bisa terserap tenaga kerja.

Sementara itu, H. Rahmad Fitri, Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum dan Pemerintahan saat membuka acara malam Anugerah UTU Awards, mengatakan, globalisasi yang berhembus begitu kencang dewasa  ini menyadarkan kita betapa pentingnya membangun pendidikan dan melahirkan sumber daya manusia yang mampu merespon tantangan zaman. Untuk itu, lembaga pendididikan dituntut bisa berkreasi dalam menyelenggarakan kegiatan dan belajar yang berkualitas agar mampu menghasilkan alumni yang siap menjawab kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar yang dimaksud tidak hanya berorientasi pada nilai akademik saja, tapi juga terfokus pada kompentensi.

Fakta menunjukkan, bahwa keunggukan akademik saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang lebih kreatif, hal itu terbukti begitu banyak sarjana yang baik dari segi akademis tetapi gagal dalam dunia kerja. Penyebabnya tidak lain adalah minimnya kreativitas. Untuk itu, sudah seharusnya perguruan tinggi memperkuat karya kreativitas mahasiswa sehingga dari kreasi itu terjamin individu-individu yang mampu menyelesaikan problematika yang ada dalam msayarakat kita.

“Tentu kita mendengar nama-nama manusia terkenal dan hebat di dunia seperti Bill Gates, dan banyak lainnya. Mereka itu semua adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki prestasi mumpuni di perguruan tinggi, namun karena kreativitasnya mereka mampu menciptakan karya yang menggemparkan dunia. “Inipun tidak akan terlepas dari kemampuan mahasiswa khususnya mahasiswa UTU. Dan UTU Awards ke 7 nantinya diharapkan akan tampil dikancah internasional. Salah satu ruang untuk menampilkan kreativitas mahasiswa adalah UTU Awards yang rutin digelar UTU. Ini kompetisi yang ketat, apalagi kategori yang diperlombakan sejalan dengan train yang berkembang di masyarakat. Bukan tidak mungkin karya mahasiswa itu nantinya layak dikembangkan menjadi produk komersil.

“Pemerintah Aceh menyampaikan rasa kagum terhadap UTU yang telah sukses menjadikan lomba UTU Awards itu menjadi salah satu ajang kreasi mahasiswa yang bergengsi di tanah air. Kita berharap kegiatan UTU Awards menjadikan kalender akademik UTU setiap tahunnya, sehingga kegiatan UTU Awards menjadi salah satu ikon ajang kreativitas mahasiswa di Indoensia. Tahun depan Pemerintah Aceh, Insya Allah akan mendorong UTU ini lebih besar lagi. Apalagi UTU Awards ke-7 nanti kita akan Go Internasional, dan Pemerintah Aceh tidak akan tinggal diam, tidak akan membiarkan UTU ini berjalan sendiri.  Pemerintah Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada semua peserta yang telah tampil pada ajang UTU Awards ini, meski tidak semua mendapatkan penghargaan yang terbaik, namun kami yakin karya-karya yang telah ditampilkan sangat berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Untuk itu, kami mimta kepada adek-adek mahasiswa jangan pernah berhenti untuk berkreasi, jadilah inovator yang tangguh agar kelak hasil karya adek-adek bisa menjadi motor penggerak bagi perubahan di negara kita. (Zakir)