Surabaya – Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenristekdikti menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat III Angkatan I sejak tanggal 13 Agustus -29 November 2019. Peserta kegiatan, saat ini memasuki Agenda Tahap III, yaitu Merancang Perubahan dan Membangun Tim. Salah satu kegiatan pada tahap ini adalah Benchmarking to Best Practice, yang bertujuan untuk mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi yang selanjutnya akan dipakai dalam pengelolaan kegiatan pada Proyek Perubahan yang akan disusun peserta Pelatihan.

Lokasi yang dipilih untuk kegiatan Benchmarking to Best Practice adalah PT. PAL Indonesia (Persero) dan Pemerintah Kota Surabaya. Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti, Wisnu S. Soenarso, berharap dengan melakukan Benchmarking ke dua lokasi ini para peserta mendapatkan wawasan mengenai kepemimpinan, inovasi, dan budaya kerja yang baik tidak hanya dari instansi pemerintah, namun juga dari perusahaan ternama di Indonesia. Setelah melakukan kegitan ini para peserta diharapkan dapat mengadopsi dan menduplikasi keunggulan dari locus yang dikunjungi.

Hari pertama Benchmarking to Best Practice diadakan di PT. PAL Indonesia (Persero) pada tanggal 10 September 2019. Pertemuan diadakan di ruang meeting Kantor PT. PAL Indonesia (Persero). Rombongan yang dipimpin oleh Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti disambut oleh Etty Soewardani selaku Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum beserta Dewan Direksi dan jajarannya.

Dalam sambutannya Etty Soewardani menyampaikan tentang implementasi perubahan nilai dan budaya perusahaan. Etty menjelaskan upaya-upaya serta perubahan yang dilakukan hingga PT. PAL Indonesia (Persero) menjadi seperti sekarang ini. Sebagai salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang industri perkapalan yang memproduksi alat utama sistem pertahanan Indonesia khususnya untuk matra laut. Keberadaannya tentu memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung pengembangan industri kelautan nasional. Kegiatan bisnis utama PT. PAL Indonesia yang berlokasi di Ujung Surabaya ini adalah memproduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, dan rekayasa umum dengan spesifikasi tertentu. Selain itu saat ini PT. PAL Indonesia (Persero) juga memproduksi kapal selam.

“Moto dari  PT. PAL Indonesia (Persero) ini mengutip pernyataan dari BJ Habibie yaitu Berawal di akhir, dan berakhir di awal. Yang berarti bahwa kemajuan bisa diraih dari akhir sembari menuju ke awal sehingga ada lompatan-lompatan kemajuan, meraih percepatan dan pada akhirnya mampu mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju lainnya,” ujar Etty.

PT.PAL Indonesia (Persero) berupaya merubah mindset yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negara konsumtif menjadi negara produktif yang mampu menghasilkan karya-karya terbaik. Pada kesempatan ini juga disampaikan beberapa kunci keberhasilan PT. PAL Indonesia (Persero), yaitu budaya “guyub”, dimana seluruh pegawai merasa terlibat dengan perusahaan. Selain itu juga ada prinsip “leader as a role model” yang berarti bahwa untuk memperbaiki kualitas pegawai maka yang pertama kali diperbaiki adalah kualitas para pimpinannya.

Setelah diskusi dan tanya jawab, para peserta juga berkeliling di wilayah kerja PT. PAL Indonesia (Persero). Pada kesempatan ini peserta mengunjungi kapal selam pertama buatan Indonesia, bangunan tertua di kompleks kantor PT. PAL Indonesia (Persero), hingga bengkel tempat pembuatan kapal yang saat ini sedang membuat kapal bantu Rumah Sakit.

Kegiatan Benchmarking selanjutnya dilakukan pada tanggal 11 September 2019 di Kantor Pemerintah Kota Surabaya. Berbagai inovasi yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam membangun kota dan melakukan pelayanan kepada masyarakat merupakan alasan utama dipilihnya Pemkot Surabaya sebagai salah satu Locus Benchmarking. Kota Surabaya pernah meraih penghargaan sebagai Online Popular City pada pagelaran Guangzhou International Award 2018 karena pembangunan dan tata kotanya yang baik.

Pada kegiatan ini rombongan diterima oleh Asisten Administrasi Umum, Hidayat Syah. Dalam sambutannya, Hidayat Syah memaparkan beberapa inovasi yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam membangun kota dan melakukan pelayanan publik yang terintegrasi dengan menerapkan e-government dan konsep smart city. Parameter yang menjadi acuan yaitu smart people, smart living, smart government, smart economy, smart mobility, dan smart environment.       

Selanjutnya para peserta dibagi ke dalam empat locus, yaitu Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo), dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Dinas Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu Locus visitasi peserta Benchmarking memiliki peranan penting dalam penerapan e-government di Pemkot Surabaya. Secara garis besar e-government di Pemkot Surabaya dibagi atas proses pengelolaan pembangunan daerah dan layanan masyarakat. Proses pengelolaan pembangunan daerah terdiri dari e-planning, e-budgeting, e-DPA, e-project, e-procurement, e-delivery, e-accounting, e-inventory, e-controlling, e-performance, e-monitoring, e-payment, e-surat, e-narsum, dan JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum). Sedangkan layanan masyarakat terdiri dari Surabaya Single Window (SSW), e-pendidikan, e-kios, e-112 Sistem Penanggulangan Bencana, BLC (Broadband Learning Center), e-health, Simprolamas (system informasi program layanan masyarakat), dan Sipandu. Masing-masing aplikasi tersebut saling terintegrasi, dan memudahkan pelayanan kepada masyarakat.

Dinas Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu Locus visitasi peserta Benchmarking, memegang peranan penting dalam penerapan e-government di Pemkot Surabaya. Secara garis besar e-government di Pemkot Surabaya dibagi atas proses pengelolaan pembangunan daerah dan layanan masyarakat. Proses pengelolaan pembangunan daerah terdiri dari e-planning, e-budgeting, e-DPA, e-project, e-procurement, e-delivery, e-accounting, e-inventory, e-controlling, e-performance, e-monitoring, e-payment, e-surat, e-narsum, dan JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum). Sedangkan layanan masyarakat terdiri dari Surabaya Single Window (SSW), e-pendidikan, e-kios, e-112 Sistem Penanggulangan Bencana, BLC (Broadband Learning Center), e-health, Simprolamas (system informasi program layanan masyarakat), dan Sipandu. Masing-masing aplikasi tersebut saling terintegrasi, dan memudahkan pelayanan kepada masyarakat.

Peserta yang melakukan visitasi ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) memperoleh banyak informasi penting terkait pelaksanaan tugas dan fungsi yang menjadi kewenangan daerah di bidang kepegawaian. Kesimpulan hasil visitasi di BKD Kota Surabaya bahwa dengan menerapkan e-government melalui pelayanan aplikasi e-perfomance dan e-SDM yang meliputi rekrutmen CPNS, kenaikan pangkat, gaji berkala, pensiunan, mutasi, dan TEKO CAK (Tanda Kehadiran Online dan Catatan Absensi Karyawan) akan membuat pelayanan kepegawaian menjadi lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan cara pelayanan langsung atau tatap muka.

Visitasi ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), peserta dikenalkan dengan layanan yang ada di Dispendukcapil yaitu surat pindah masuk, pindah keluar, akta kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian dan pelayanan lainnya. Hal itu mengakibatkan kantor Dispendukcapil menjadi penuh sesak oleh masyarakat yang melakukan pengajuan. Sehingga dibuatlah terobosan lewat inovasi 7 in 1 melalui aplikasi e-lampid yang menggabungkan beberapa fasilitas pelayanan kependudukan. Melalui aplikasi tersebut pelayanan tatap muka bisa digantikan lewat layanan yang terintegrasi, dan diakses secara online. Masyarakat yang mengurus keperluan kependudukan tidak perlu datang ke kantor lagi dan juga tidak perlu mengeluarkan biaya, alur kepengurusan dan waktu penyelesaian jelas, dan masyarakat dapat memonitor langsung prosesnya.

Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau mengusung konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) penyediaan fasilitas pengurangan sampah seperti rumah kompos dan TPST Super Depo Sutorejo, dan pengelolaan sampah dengan memberdayakan masyarakat yaitu pengolahan sampah dari sumbernya, Bank Sampah, Lomba-lomba kebersihan, dan Fasilitator Kebersihan. Inovasi yang dikembangkan yaitu pengelolaan sampah di pasar, pembangkit listrik tenaga sampah skala kecil, dan system SWAT (Solid Waste Transportation) yaitu manajemen system untuk memantau proses pengambilan sampah sampai ke tempat pembuangan akhir dengan mengimplementasikan aplikasi komputerisasi online yang terdiri dari modul TPA, modul BBM, modul rute, modul kendaraan, modul pengemudi dan modul izin retribusi.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenristekdikti