#Siaran Pers Kemenristekdikti#
Nomor : 85/SP/HM/XI/2017

Serpong- Inovasi anak bangsa dalam bidang teknologi nuklir kembali mengemuka dengan lahirnya teknologi Iradiator Gamma. Penemuan yang diberi nama Iradiator Gamma Merah Putih ini diresmikan oleh Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, dan Walikota Tangerang Selatan Airin, di Puspiptek, Serpong, Rabu (15/11/2017). Selain itu Wapres juga meresmikan Laboratorium Radioisotop dan Radiofarmaka di Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN.

Iradiator Gamma merupakan alat pengawet makanan dengan menggunakan teknologi nuklir, yang didesain, dibangun, sekaligus dioperasikan oleh anak-anak negeri Indonesia. Ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan, ditengah-tengah penerimaan masyarakat atas pemanfaatan nuklir untuk energi yang masih perlu terus ditingkatkan.

Wapres Jusuf Kalla berharap peresmian iradiator ini dapat memberikan sumbangsih baik bagi bangsa Indonesia maupun negara lain.
“Ini adalah contoh pemanfaatan teknologi nuklir untuk damai. Bagaimana meningkatkan hasil pertanian dimana lahan berkurang. Teknologi ini adalah solusi untuk menghasilkan bibit yang baik,” ujar Wapres.

Wapres melanjutkan, berkaitan dengan masalah logistik, kendala mendistribusikan logistik sampai ke negara lain salah satunya adalah waktu. Bagaimana kendala waktu ini dapat diatasi sehingga memudahkan logistik.

Pada kesempatan yang sama Menristekdikti memaparkan dari sisi anggaran belanja untuk Riset dan Pengembangan, memang Indonesia masih memiliki keterbatasan anggaran dan baru mengalokasikan 0,25% per GDP, atau jumlah totalnya sekitar 30,8 Trilyun rupiah, dan itu pun masih didominasi oleh APBN Pemerintah sebesar 84%. Hal ini berarti peran swasta atau Industri masih 16%. Jumlah penelitinya baru berkisar 1.071 peneliti per satu juta penduduk, dan fasilitas. Sementara jika dibandingkan negara maju seperti Korea yang sudah mempunyai belanja R&D 4,2% per GDP, dan penelitinya sudah 8.000 peneliti per satu juta penduduk.

Namun ditengah-tengah kondisi tersebut, Menristekdikti mengapresiasi sebagian peneliti masih mampu menunjukkan prestasinya, seperti capaian publikasi internasional terindeks global pada pertengahan tahun ini telah mampu melewati capaian Thailand, dimana sudah 20 tahun lebih Indonesia selalu berada dibawah Thailand, Singapura dan Malaysia untuk lingkungan Asean.

“Hari Kemarin kita telah mencapai angka 14 ribuan sementara Thailand masih berada di angka 12 ribuan,” ungkap Nasir.

Tidak hanya di publikasi, Nasir menyebutkan beberapa inovasi juga telah ditelorkan oleh para peneliti anak-anak negeri, seperti temuan bibit padi SIDENUK oleh BATAN, bibit kedelai hitam Malika oleh UGM, Motor Listrik GESITS oleh ITS, metode percepatan penggemukan sapi secara genetik oleh LIPI, pengembangan kapal datar oleh UI, dan pengembangan N219 oleh LAPAN yang baru saja diberi nama Nurtanio oleh Presiden RI minggu lalu.

Nasir berharap Iradiator Gamma Merah Putih dan Laboratorium Radioisotop dan radiofarmaka ini dapat menjadi tonggak dimulainya kebangkitan teknologi nasional dan dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan masyarakat.

 

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik

Kemenristekdikti