Siaran Pers
Nomor : 203/SP/HM/BKKP/X/2018

 

Palembang, 27 Oktober 2018

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT turut berupaya mencegah dan mengurangi kebakaran hutan dan lahan di wilayah nasional. Upaya paling jitu yakni dengan optimalisasi pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca, atau biasa dikenal hujan buatan.

Menurut Sekretaris Utama yang juga menjadi Plh Kepala BPPT Wimpie AN Aspar, teknologi modifikasi cuaca (TMC) dalam setiap operasi berupaya mencegah atau mengurangi potensi kebakaran hutan dan lahan, sehingga tidak sampai meluas dan mengakibatkan kabut asap.

“Upaya tersebut kian intens karena Sumatera Selatan sedang dalam puncak musim kemarau,” ujar Wimpie saat meninjau pelaksanaan operasi TMC di Palembang, Sabtu (27/10/2018).

Dalam Kunjungannya Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, saat ini dengan semakin meningkatnya frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia, aktivitas teknologi modifikasi cuaca banyak dimanfaatkan untuk tujuan mitigasi bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca.

“Seperti untuk mengantisipasi kekeringan, bencana banjir, serta bencana kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan. Selain itu, teknologi modifikasi cuaca juga sudah dipercaya dalam pengamanan proyek strategis nasional dan kegiatan penting kenegaraan yang bersifat nasional dan internasional, baik untuk mengurangi gangguan kabut asap maupun menjaga agar lokasi kegiatan tidak terkendala oleh cuaca ekstrem,” paparnya.

Event kenegaraan tersebut diantaranya (1) SEA Games 2011 di Provinsi Sumatera Selatan dalam pengamanan mengurangi curah hujan; (2) Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2013 yang terganggu kabut asap maupun curah hujan di areal lapangan olah raga; (3) Islamic Solidarity Games 2013 di Sumatera Selatan; (4) redistribusi curah hujan di wilayah DKI pada 2013 dan 2014; (5) lengurangan curah hujan di area proyek pembangunan jalan tol Samarinda-Balikpapan tahun 2018; (6) Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang; (7) Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali serta kegiatan kenegaraan lainnya seperti peringatan HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara.

Kegiatan penyemaian awan atau hujan buatan ini, dimotori oleh Balai Besar-Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT. Diungkap Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT Hammam Riza, dalam melaksanakan operasi BBTMC hanya memiliki dua armada pesawat terbang. Kedua pesawat ini dalam kondisi unserviceable.

Menurut Nasir, teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga dapat diterapkan untuk mendukung kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, terutama pertanian yang dititikberatkan pada upaya mewujudkan kedaulatan pangan.

“Kedepannya kami harapkan adanya tambahan armada pesawat untuk menunjang kegiatan operasi teknologi modifikasi cuaca,” ungkap Wimpie selaku Plh Kepala BPPT.

Selain untuk kebencanaan, operasi TMC juga dapat digunakan untuk mendukung program nasional pemerintah dalam program kedaulatan pangan, khususnya dalam menjamin keberlangsungan pasokan air irigasi.

“TMC ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pasokan air irigasi pada beberapa waduk strategis di 10 provinsi sentra penghasil beras di Indonesia, sehingga TMC dapat menjadi salah satu solusi teknologi yang bisa dikedepankan untuk dapat diterapkan di 10 provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia guna mendukung program kedaulatan pangan,” tutur Deputi TPSA.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi publik Kemenristekdikti