Siaran Pers
No : 206/SP/HM/BKKP/X/2018

 

Jakarta – Dalam masa 4 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di bawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah berhasil memberikan sumbangsih besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, riset dan teknologi bagi bangsa Indonesia. LPNK di bawah koordinasi Kemenristekdikti yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Penelitian (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (BAPETEN) dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah berkontribusi langsung memberikan solusi bagi berbagai permasalahan bangsa.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan prestasi selama 4 tahun terakhir Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) dapat dikelompokan ke dalam 6 bidang, yaitu bidang pangan, energi, kesehatan, teknologi informasi & komunikasi, transportasi dan kebencanaan.

“Dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang telah di petakan sejak tahun 2015, ada sepuluh bidang yang menjadi perhatian pemerintah saat ini. Namun pada bidang IPTEK, ada enam aspek yang menjadi concern Kemenristekdikti, yakni bidang pangan, energi, kesehatan, teknologi informasi & komunikasi, transportasi dan kebencanaan. LPNK di bawah koordinasi Kemenristekdikti telah mencatatkan capaian-capain penting dalam empat tahun ini yang hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat ,” ucapnya pada acara Jumpa Pers Capaian 4 Tahun Kinerja Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di lingkungan Kemenristekdikti, di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti , Senayan.

Jumpa Pers ini selain dihadiri Menristekdikti juga diikuti oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Wisnubroto, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko, Plt. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wimpie Agoeng Noegroho, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Kepala Badan Standarisasi Nasonal (BSN) Bambang Prasetya dan dimoderatori oleh Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristekdikti Hari Purwanto.

Menteri Nasir mengatakan bahwa selama puluhan tahun Indonesia belum memiliki cetak biru pengembangan riset nasional, namun dalam 4 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kemenristekdikti telah berhasil menetapkan Rencana Induk Riset nasional (RIRN). RIRN menjadi penting untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang Indonesia
karena pembangunan nasional membutuhkan perencanaan dari setiap bidang untuk mengintegrasikan langkah-langkah yang terpadu dan terintegrasi, khususnya antar Kementerian/Lembaga, untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya.

Menteri Nasir memaparkan capaian-capaian penting LPNK di bawah koordinasi Kemenristekdikti dalam 6 bidang yaitu bidang pangan, energi, kesehatan, teknologi informasi & komunikasi, transportasi dan kebencanaan. Di bidang pangan BATAN berhasil menciptakan varietas padi yang mampu meningkatkan produksi 35,5% di bandingkan varietas non BATAN. BPPT telah mengembangkan metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk memperbaiki metode pengumpulan data pertanian. LAPAN menciptakan inovasi Remote Sensing untuk melakukan penginderaan lahan pertanian. LIPI menghasilkan Pupuk Organik Hayati yang mampu meningkatkan produksi pertanian 25-50% dan BSN telah menetapkan 2.458 sertifikasi di bidang pangan.
“Data capaian ini menunjukkan bahwa setiap LPNK memiliki kontribusi penting dan saling melengkapi bagi peningkatan produksi pangan nasional. Kemenristekdikti dan LPNK bekerja di hulu bagi ketahanan pangan nasional,” jelas Menristekdikti.

Menristekdikti menambahkan di bidang energi LPNK di bawah koordinasi Kemenristekdikti juga telah menghasilkan temuan-temuan penting seperti Smart Micro Grid dari LIPI, sebuah inovasi yang mampu mengkoversi sumber energi DC yang bersumber dari surya/aingin/angin/biogas. Juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi hasil inovasi dari BPPT dan Reaktor Daya Eksperimental inovasi dari BATAN.

“Untuk memastikan keamanan penggunaan tenaga nuklir, Indonesia memiliki BAPETEN, inovasi Reaktor Daya Eksperimental BATAN telah mendapatkan izin keamanan dari BAPETEN,” jelas Menristekdikti.

Salah satu capaian LPNK yang menjadi fokus Menristekdikti dalam kesempatan ini adalah capaian di bidang Kebencanaan. Menristekdikti menyampaikan ungkapan duka mendalam atas berbagai bencana yang menimpa bangsa Indonesia dalam beberapa waktu ini. LPNK di bawah koordinasi Kemenristekdikti turut berkontribusi aktif dalam penanganan bencana. Teknologi-teknologi dari LPNK telah digunakan dalam penanganan berbagai bencana seperti teknologi Wiseland (LIPI) yang berfungsi pemantauan tanah longsor.

“Kapal Survey Baruna Jaya dari BPPT merupakan teknologi yang sangat diandalkan pemerintah dalam penanganan kebencanaan. Kapal ini telah digunakan Basarnas dan KNKT untuk menemukan korban KM. Sinar Bangun pada kedalaman sekitar 450 m di dasar danau Toba menggunakan teknologi remotely operated underwater vehicle (ROV). Selain itu juga membantu pasca bencana alam di Palu dan Kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610,” ungkap Menristekdikti.

Untuk bencana yang diakibatkan cuaca, LAPAN juga memiliki satelit pemantau cuaca yang berpotensi menjadi bencana seperti hujan deras ataupun angin badai yang dinamakan SADEWA (satellite Disaster Early Warning). Sedangkan BPPT memiliki TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA yang digunakan untuk pencegahan kebakaran hutan.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Wisnubroto menjelaskan BATAN telah banyak menghasilkan produk-produk yang telah disebarluaskan kepada masyarakat, terutama di bidang pangan dan kesehatan. Diantaranya, BATAN telah menghasilkan tanaman padi, kedelai dan terigu varietas unggul, prototipe radioisotop dan radiofarmaka untuk dagnosis dan terapi, serta perangkat diagnosis fungsi ginjal dan thyroid terpadu.

Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto menyebutkan, Bapeten sebagai badan pengawsan tenaga nuklir menjamin bahwa segala aktifitas nuklir di Indonesia aman, baik teknologi dalam menghasilkan produk pangan, kesehatan maupun energi. Ia menyebutkan, bahwa masyarakat perlu diedukasi bahwa nuklir aman digunakan selama ada pengawasan dari badan yang berwenang.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan LIPI sebagai lembaga riset merupakan hulu dari pengembangan riset yang dilakukan, ia berharap dapat mempererat kerjasama dengan industri untuk memproduksi masal hasil penilitian dan teknologi yang dibuat oleh LIPI sebagai bentuk kontribusi LIPI dalam pembangunan ekonomi nasional. LIPI juga berkerjasama dengan Kementerian Kesehatan dalam pengolahan bahan makanan dari UMKM lokal yang melahirkan industri kecil dan strartup.

Plt. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wimpie Agoeng Noegroho mengungkapkan pihaknya juga bekerja sama dengan Badan Puat Statistik (BPS) mengembangkan metode Kerangka Sampel Area untuk memperbaiki metode pengumpulan data pertanian (fase tumbuh padi). Metode tersebut mulai digunakan sejak Januari 2018 untuk memperbaiki data produksi padi. Hasilnya, berdasarkan data BPS terkoreksi data pangan, yakni luas baku sawah yang berkurang dari 7,75 juta hektare tahun 2013 menjadi 7,1 juta hektare tahun 2018.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan selain dapat mengefisiensi anggaran, sinergi IPTEK nasional merupakan hal yang penting sebagai solusi bagi tantangan yang dihadapi bangsa. Ia mengungkapkan saat ini LAPAN berkerjasama dengan Kementerian Pertanian dalam memantau pertumbuhan padi menggunakan Remote Sensing Application (pengindraan jauh).

Kepala Badan Standarisasi Nasonal (BSN) Bambang Prasetya menyebutkan segala hal yang di pasarkan kemasyarakat tentu harus melalui proses standarisasi dari BSN. Ia mengungkapkan standarisasi merupakan kunci daya saing bangsa, karena seiring semakin terbukanya perdagangan global Indonesia harus mampu menguasai pasar global dengan menerapkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) pada produk-produk karya anak bangsa. Ia menyebutkan dengan menerapkan SNI dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa produk yang dipilih sesuai dan layak dipakai, juga aman, nyaman, dan berkualitas. SNI menjadi salah satu instrumen penting dalam memenangi persaingan global.

Turut hadir dalam acara ini Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, Pejabat Eselon I dan II dari LPNK dan Kemenristekdikti, serta tamu undangan lainnya.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti