Pamekasan-Madura, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, melakukan kunjungan kerja ke Madura, dalam kegiatannya Nasir memberikan orasi ilmiah serta meresmikan tambak garam laboratorium lapang PUI garam Universitas Trunojoyo Madura (UTM), (11/06/2018).

Mohammad Nasir mengatakan, Indonesia memiliki garis pantai terbesar kedua di dunia. Namun, ungkapnya, dari Aceh hanya 11.000, Jawa Tengah 6.000 hektar hingga Papua ada satu kabupaten yang memiliki lahan garam terbesar di Indonesia yakni Madura. “Mulai Aceh sampai Papua lahan garam terbesar ternyata ada di Madura. Terbesar. Sampai 15.000 hektar garam. Madura pun menjadi penyuplai garam terbesar di Indonesia,” katanya pada pembukaan Tambak Garam Laboratorium Lapang Pusat Unggulan Iptek Garam- Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Pamekasan.

Oleh karena itupula, katanya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan instruksi kepada tiga kota untuk membuka lahan baru sebagai daerah pemasok kebutuhan garam dalam negeri. Pilihan pertama ada di Pamekasan, Madura. Lalu kedua dipilih Jeneponto, Sulawesi Selatan dan kota ketiga adalah di Nusa Tenggara Barat yaitu kota Bipolo.

Madura menjadi potensi produksi garam karena lahannya yang sangat luas. Yakni mencapai 15.000 hektar lahan. Sebab, kata dia, di Bipolo saja hanya ada 1.500 hektar lahan. Nasir pun meminta masalah lahan ini dicarikan solusi dengan teknologi. Misalnya saja lahan garam dibuat bertingkat agar tidak memakan lahan banyak. “Seperti rumah dibuat bertingkat. Jadi lahannya naik keatas agar tidak makan lahan banyak,” terangnya.

Indonesia pun masih bergantung pada garam impor sebab kandungan NACL garam luar negeri diatas 92% sementara garam lokal dibawah 90%. Disini teknologi memegang peranan penting selain masalah lahan dan kandungan NACLnya. Teknologi pun, kata dia, akan bisa mengerek harga garam yang saat ini kala panen hanya dihargai Rp2000 per kilogram.

Nasir menjelaskan, dengan teknologi maka garam industri jika meningkat menjadi garam farmasi bisa dihargai hingga Rp200.000/kg sedangkan garam analisa bahkan bisa seharga Rp150.000/kg. “Kebutuhan garam itu sangat tinggi. Untuk garam konsumsi, industri, farmasi dan analisa. Kebutuhan pertahun garam itu 4,4 juta ton sementara produksi garam kita hanya 1,2-1,6 juta ton pertahun,” katanya.

Nasir mengatakan, PUI yang ada di Pamekasan merupakan satu-satunya PUI yang bergerak dibidang garam.

Semoga dengan adanya kampus yang mengelola maka akan ada inovasi yang diciptakan agar bisa memacu produksi garam di Indonesia. Dia berharap, UTM (Universitas Trunojoyo Madura) bisa menghasilkan garam yang unik dari Pamekasan sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.