Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor: 151/SP/HM/BKKP/VIII/2019

Buleleng – Kompetensi, kreativitas, inovasi, dan juga kemampuan berpikir kritis semakin diperlukan pemuda Indonesia dalam menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 melalui industri kreatif, demikian menurut Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa baru Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja, Bali pada Selasa (20/8).

Menristekdikti mengadakan kunjungan ini terkait dengan rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 yang mengusung tema “Iptek dan Inovasi dalam Industri Kreatif 4.0” dan berlangsung di Denpasar, Bali pada pekan depan.

“Ini menjadi hal yang sangat penting. Di kampus dosen akan memberikan bekal bagaimana agar para mahasiswa memiliki cara berpikir yang kreatif, bagaimana cara melakukan inovasi, dan bagaimana cara untuk berpikir kritis, sehingga anak-anak ini dapat menyelasaikan masalahnya sendiri,” ungkap Menteri Nasir.

Menristekdikti juga mengharapkan agar para mahasiswa tidak bergantung pada materi perkuliahan dan mengandalkan apa yang disampaikan oleh dosen saja. Menurutnya, kuliah hanya mengantarkan kita agar bisa berpikir kreatif dan selebihnya bisa dipelajari di luar perkuliahan.

“Dosen yang Anda serap nanti ilmunya hanya sekitar 20 sampai 40 persen maksimal, sementara yang 60 persen itu dari luar perkuliahan maka saya berharap dari kalian semua bisa berpikir lebih modern, lebih maju, dan saya mengharapkan di antara kalian akan menjadi calon-calon pemimpin di negeri ini,” tutur Menristekdikti.

Selain mengenai kemampuan individual mahasiswa, Menristekdikti juga menyinggung masalah toleransi yang belakangan kembali menyeruak di kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, masalah perbedaan keyakinan jangan sampai dipergunjingkan kembali, karena agama dan keyakinan itu ada pada diri kita masing-masing. Menteri Nasir berharap intoleransi tidak terjadi di kampus Undiksha.

“Pentingnya toleransi harus kita lakukan secara aktif. Jangan hanya ngomong toleransi, tapi sikapnya apatis terhadap orang lain. Hal ini harus kita hindari, jangan sampai masalah urusan agama dibenturkan yang akibatnya kita menjadi tercerai berai. Saya harap kampus Undiksha menjadi kampus persemaian kebangsaan Indonesia”, ungkap Menristekdikti.

Lebih lanjut Menristekdikti mengatakan bahwa jika kampus sudah menjadi persemaian untuk kebangsaan, persemaian terhadap Pancasila, catatan berikutnya yang menjadi sangat penting adalah kampus jangan dijadikan pusat menyalurkan keinginan nafsu pribadi, terutama masalah narkoba.

“Narkoba merusak masa depan kita. Narkoba tidak akan memberikan masa depan anda menjadi lebih baik. Maka dari itu, narkoba harus kita hentikan! Jauhi narkoba supaya Anda bisa meraih prestasi! Kalau bisa dicanangkan oleh Pak Rektor bahwa kampus harus bebas narkoba” tegasnya.

Selain itu, Menristekdikti juga mengulas mengenai transparansi di lingkungan kampus. Menurutnya jika kampus sudah bebas dari narkoba, harapannya semua kegiatan yang ada, dan semua uang yang ada dilakukan secara transparan serta terbuka dengan baik.

Good governance, kejujuran itu menjadi penting. Jangan sampai kita melakukan kebohongan dan pembohongan pada diri kita, bahkan melakukan korupsi. Berani jujur itu hebat untuk anak Indonesia! Undiksha jujur, hebat untuk Indonesia!” lanjutnya.

Hal lain yang dibekali oleh Menristekdikti kepada para mahasiswa baru yang hadir di Auditorium Undiksha adalah mereka harus memperhatikan literasi, baik itu literasi data, literasi teknologi, dan juga literasi manusia. Menteri Nasir menyampaikan jika literasi mahasiswa sudah berjalan dengan baik, nanti akan berkembang mengenai kemanusiaan, komunikasi, dan kerjasama dalam diri mahasiswa.

“Canggihnya teknologi yang kita miliki tidak ada artinya kalau manusianya bermasalah. Kalau Anda pintar jangan membodohi orang lain. Justru kalau pintar itu bagaimana bisa bermanfaat untuk orang lain, itu yang penting” jelasnya.

Menristekdikti juga menghimbau para mahasiswa agar tidak pernah berhenti untuk belajar dan jangan hanya mempelajari satu bidang saja, karena dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 perusahan besar di dunia tidak lagi bertanya mengenai latar belakang pendidikan, melainkan keahlian yang kita miliki. Dia juga mengungkapkan kebijakan Kemenristekdikti dalam hal ini adalah bagaimana agar mahasiswa memiliki entrepreneur mindset.

Di akhir paparannya, Menristekdikti memberikan laptop kepada 10 orang mahasiswa baru yang terpilih, di antaranya mahasiswa Bidikmisi, mahasiswa Beasiswa Afirmasi, dan mahasiswa dari SBMPTN sekaligus menutup kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) mahasiswa baru Undiksha. Selanjutnya, Menristekdikti yang didampingi oleh Rektor Undiksha I Nyoman Jampel meresmikan mesin filterisasi air minum, inkubator bisnis di kampus pusat, meresmikan kebun tanaman buah tropis di Kampus Jinengdalem di Buleleng, serta penyerahan beberapa produk inovasi teknologi kepada pemerintah dan masyarakat Bali.

Turut hadir dalam kesempatan ini Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Direktur Kemahasiswaan Didin Wahidin, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Retno Sumekar, Rektor Universitas Udayana Anak Agung Raka Sudewi.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti