Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor : 248/SP/HM/BKKP/XI/2019

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan demi mewujudkan Indonesia menjadi 10 besar perekonomian dunia pada tahun 2030 dan negara maju pada 2045, diperlukan perubahan paradigma dalam hal Penguasaan Iptek dan Inovasi oleh SDM Indonesia, sebagai basis pengembangan dan penguatan daya saing bangsa. Indonesia harus bertransformasi dari efficiency-driven economy menjadi innovation driven economy.

” Hal ini dilaksanakan melalui sinergi dengan multisektor dalam Sistem Inovasi”, ujar Menteri Bambang pada acara Expo 55th dalam rangka Dies Natalis Fakultas Teknik Universitas Indonesia ke-55 yang diselenggarakan di Atrium Pondok Indah Mall II, Jakarta (8/11).

Menteri Bambang menambahkan pengembangan riset dan inovasi di era ekonomi berbasis inovasi (innovation based economy) harus memperhatikan permintaan dan kebutuhan pengguna pasar/industri (demand driven).

“Sesungguhnya ini merupakan amanah UU No. 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional (Sisnas) Iptek bahwa tujuan penyelenggaraan iptek adalah untuk menciptakan ilmu pengetahuan sebagai solusi permasalahan nasional demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan peradaban bangsa, dan menghasilkan nilai tambah dari produk dan atau proses produksi, ” ungkapnya.

Menteri Bambang menjelaskan pemerintah saat ini senantiasa mendorong dan memfasilitasi pengembangan inkubasi dan ‘flagship’ pendanaan inovasi untuk menjembatani hasil riset dan inovasi sehingga dapat sampai ke wilayah Industri.

“Kalau kita hanya berpatokan dari ‘research driven’, ekonomi kita akan sulit untuk menjadi negara yang maju. Seharusnya kita bisa mengacu pada innovation driven,” jelasnya.

Salah satu yang diunggulkan dalam Expo 55 tersebut adalah terobosan inovasi Kapal Pelat Datar FT UI yang mulai di gadang-gadang dalam 5 tahun terakhir. Kapal ini merupakan salah satu contoh keberhasilan inovasi karya anak bangsa yang dapat mendukung perekonomian Indonesia di masa yang akan datang.

Menteri Bambang mendorong kapal pelat datar dapat mulai diproduksi oleh industri perkapalan. Kapal pelat datar memiliki keunggulan mulai dari segi biaya sampai efektivitas kapal.

” Selain biayanya lebih murah, lebih cepat dan juga sesuai standar. Maka (kapal pelat datar) ini bisa memenuhi kebutuhan konektivitas antar pulau dan waktu pembuatannya juga lebih cepat,” terangnya.

Kapal pelat datar merupakan produk hasil pengembangan dan rekayasa desain dari FTUI yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar, diproduksi oleh PT Juragan Kapal Indonesia. Perusahaan startup ini bergerak dibidang produksi perkapalan, dibawah binaan Kemenristekdikti (sekarang Kemenristek/BRIN) dan berkolaborasi dengan jurusan Teknik Perkapalan UI. Pada bulan Juli tahun 2019, Kapal Pelat Datar telah diuji coba untuk menempuh perjalanan jauh yaitu dari Tanjung Pasir Banten menuju Pulau Tual yang memakan waktu selama 12 hari dengan hasil sangat memuaskan.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Hendri Dwi Saptioratri Budiono menyampaikan, melalui tema Dies Natalis FTUI ke-55 “Membumikan Engineering Untuk Indonesia”, FTUI berkomitmen meningkatkan kontribusi kepada masyarakat dengan melakukan edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan ‘awareness’ akan pentingnya profesi insinyur.

“Engineer atau insinyur, dalam penyebutan sehari-hari, adalah setiap orang yang memiliki profesi dalam berbagai bidang keteknikan, tugasnya adalah merekayasa solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan pendekatan ilmiah dan teknologi”, ujarnya.

Beliau juga menjelaskan penyelenggaraan pendidikan di FTUI dilaksanakan dengan metode-metode pembelajaran terkini dengan mengedepankan riset-riset yang adaptif dan solutif terhadap permasalahan bangsa dan membawanya ke tengah masyarakat melalui Expo dan Pameran Produk Riset Inovasi Unggulan Fakultas Teknik UI di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan pada tanggal 7-10 November 2019, dengan harapan dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap Teknologi dan profesi perekayasa (engineer).

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Rektor Universitas Indonesia periode 2014-2019 Muhammad Anis, Perwakilan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dadang Nasikin, Perwakilan Menteri Perhubungan Sugihardjo, Direktur Utama Damri Setia Milatia Moemin, Ketua Majelis Senat Akademik Universitas Indonesia Nachrowi, Para Wakil Rektor, Para Dekan dan Direktur Fakultas dan Sekolah serta Program Vokasi Universitas Indonesia, Ketua Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia periode 2018-2021 Cindar Hari Prabowo, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia periode 2019 – 2022 Andre Rahadian, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia periode 2016-2019 serta tamu undangan lainnya.

Dwi Rizqa Ananda, Firman Hidayat, Yayat Hendayana
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN