Ibu hamil yang kekurangan gizi merupakan penyebab utama kematian ibu hamil maupun bayi yang dilahirkannya. Anemia sering terjadi pada ibu hamil, penyebab utamanya ialah kekurangan zat gizi yang berperan dalam pem­bentukan hemoglobin, yaitu protein, besi, vita­min B12, vitamin C dan asam folat. Prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 37,1% (Riskesdas 2013) dan angka kematian ibu adalah 359/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012).

Tiga orang peneliti dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (Fema IPB) yaitu Hardinsyah, Eka Puspita Astriningrum dan Naufal Muharam Nurdin melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis asupan asam folat, B12 dan vitamin C pada ibu hamil di Indonesia.

Vitamin B12 dibutuhkan untuk mengaktifkan asam folat dan metabolisme sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang dan jaringan syaraf. Asam folat berperan dalam metabolisme asam amino yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah.

“Kekurangan vitamin B12 dan asam folat selama kehamilan berhubungan dengan pening­katan risiko kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah dan terganggunya pertumbuhan janin,” ujar Hardinsyah.

Vitamin C juga dibutuhkan selama ke­hamilan yang berfungsi membantu penyerapan besi non heme dengan mereduksi besi ferri men­jadi ferro dalam usus halus sehingga mudah di­serap, kekurangan vi­tamin C juga dapat menyebabkan kerusakan hipoc­campus.

Dari hasil riset yang menggunakan data sekunder Studi Diet Total 2014 dengan subjek penelitian adalah 606 ibu hamil umur 14-49 tahun, ditemukan bahwa 88,3 persen ibu hamil mengalami kekurangan asupan vitamin tingkat berat.

Berdasarkan hasil analisis, ibu hamil berumur lebih muda dengan status ekonomi menengah dan bawah lebih berisiko mengalami defisiensi asam folat. Ibu hamil dengan tingkat pendidikan di bawah SMA dengan status ekonomi menengah dan bawah lebih berisiko mengalami defisiensi B12, sementara defisiensi vitamin C lebih sering terjadi pada ibu hamil yang berpendidikan di atas SMA.

“Rata-rata asupan asam folat dan vitamin C masih belum memenuhi standar kebutuhan. Tingkat pemenuhan asam folat dan vitamin C sebagian besar tergolong defisit berat, sedangkan vitamin B12 tergolong cukup. Status ekonomi bawah dan menengah berisiko 3,8 kali meningkatkan defisiensi asam folat dan 1,6 kali meningkatkan defisiensi vi­tamin B12, konsumsi sumber vitamin perlu ditingkatkan untuk mencegah masalah selama kehamilan, seperti anemia, prematur, dan kematian ibu dan anak,” ujarnya

Ia menambahkan ibu hamil berumur 19-49 tahun cenderung berisiko 22,3 persen lebih rendah mengalami defisien­si asam folat. Pendidikan tidak tamat SD dan wa­jib belajar berisiko 2,5 kali meningkatkan de­fisiensi vitamin B12 dan 2,0 kali meningkatkan defisiensi vitamin C.

“Perlu upaya peningkatan konsumsi sumber asam folat seperti hati, telur dan susu. Sumber B12, seperti kerang, hati dan ikan serta vitamin C seperti daun katuk, bayam, jambu dan pepaya,” tandasnya.(IR/Zul)