Sudah menjadi rahasia umum, kalau matematika bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan menakutkan. Namun, kini sepertinya anggapan tersebut bakal jadi sesuatu yang usang. Dikemas secara unik, adalah salah satu kuncinya, yakni dengan berbentuk komik. Namun, bukan komik sembarang komik, melainkan komik dengan sentuhan kearifan lokal, yakni dengan menggunakan bahasa Ngapak Banyumasan, salah satu sub dialek dalam bahasa Jawa. Adalah ‘Komat Kamit’ atau Komik Matematika Kocak Asyik Menarik dan Inspiratif adalah inovasi Hanna, Gani, Rickson, Melia dan Naufal, mahasiswa Jurusan Matermatika FMIPA UNSOED menggagas media belajar yang unik, yakni melalui komik. Tidak hanya itu ide tersebut bahkan berhasil mendapatkan hibah Program Kreativitas Mahasiswa 2016 dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Ketua Tim, Hanna Hilyati mengungkapkan, pilihan komik dalam bahasa ibu didasarkan karena dalam mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tersebut, sehingga diyakini akan lebih mudah membahasakan konsep matematika yang abstrak dalam keseharian mereka. Saat ini telah dibuat satu jilid komik dari rencana tiga jilid yang akan diterbitkan. Tidak hanya menghasilkan karya inovatif, kegiatan ini juga dimanifestasikan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, yakni dengan menggandeng dua sekolah di Kabupaten Banyumas sebagai mitra, yakni SMPN 1 Sumbang dan SMP Muhammadiyah Sumbang. “Pada awalnya kami mengirim kuesioner, materi apa yang dirasakan paling sulit oleh mereka, dan ternyata menurut mereka adalah lingkaran, “ tutur Hanna. Selanjutnya, tim kemudian menetapkan tiga sub materi, yakni sudut pusat dan sudut keliling lingkaran, segi empat tali busur dan panjang minimal lilitan.

“Kita membuat alur cerita, terus diolah dalam naskah dan gambar sesuai dengan materinya, “ tambah Hanna. Rickson, yang juga anggota tim menambahkan, materi yang dibuat berdasarkan buku materi utama dan pendamping yang ada, diskusi dengan guru serta mencari referensi yang terkait. “Kami berharap melalui bentuk komik, anak-anak lebih mudah menangkap materi yang diajarkan di sekolah, “ ungkap Rickson. Harapan tim, kiranya matematika akan menjadi pelajaran yang lebih dicintai, “karena matematika itu menyenangkan, “ pungkas Hanna. (Wis/Unsoed)