Kepulauan Seribu, Humas LIPI. Mengenalkan teknologi tingkat tinggi kepada masyarakat luas dengan cara sederhana dan mudah dipahami menjadi target penyelenggaraan diseminasi iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selain itu, kegiatan ini diharapkan juga mendongkrak ekonomi kerakyatan melalui aplikasi teknologi hasil riset.

Inilah yang menjadi sasaran utama LIPI tatkala melakukan diseminasi iptek di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Di kegiatan ini, LIPI mengenalkan teknologi untuk pengemasan makanan lokal setempat dan juga teknologi pengolahan limbah.

Khusus bagi teknologi pengemasan makanan, LIPI memfokuskan alih teknologi bagi masyarakat agar mampu menaikkan nilai ekonomi makanan khususnya untuk oleh-oleh. Jenis makanan ini adalah hasil lokal dari Pulau Panggang seperti ikan asing kering, kerupuk ikan, manisan rumput laut, dan kerang.

Nurul Taufiqu Rochman, Kepala Pusat Inovasi LIPI menuturkan, diseminasi iptek kali ini memberikan bantuan lima unit alat pengemasan hasil teknologi LIPI kepada masyarakat Pulau Panggang dengan bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI. “Kami harapkan alat dan transfer teknologi ke masyarakat mampu meningkatkan nilai jual makanan lokal. Artinya peran inovasi teknologi bisa langsung dirasakan oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) di masyarakat,” jelasnya di sela-sela kegiatan diseminasi iptek pada Sabtu (24/2/2018).

Diseminasi iptek LIPI juga memberikan pelatihan kepada masyarakat secara langsung. Praktik penggunaan alat pengemasan dipandu langsung oleh peneliti LIPI. Para peserta, yang sebagian besar adalah ibu-ibu, sangat antusias dalam mengikuti jalannya praktik. Alat yang dikenalkan adalah alat pengemasan berjenis semi otomatis dan bahan makanan yang dikemas adalah makanan lokal setempat.

Asep Nurhikmat, peneliti Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI Yogyakarta, menyampaikan bahwa teknologi pengemasan yang diaplikasikan ke masyarakat tersebut adalah pengembangan alat yang berorientasi kepada bisnis skala UMKM dan rumah tangga. Teknologi pengemasan yang dibawa BPTBA memiliki keunggulan selain tanpa bahan pengawet, juga bisa menjaga kualitas makanan hingga dua tahun. “Dengan adanya teknologi itu, kami berharap makanan tradisional atau lokal setempat mampu bersaing di pasar nasional, bahkan internasional,” ujarnya.

Pengolahan Limbah

Selain teknologi pengemasan makanan, diseminasi iptek LIPI juga membagikan teknologi pengolahan limbah. Tarzan Sembiring, peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI menjelaskan, limbah-limbah yang ada di Pulau Panggang bisa diolah sesuai karakternya. “Limbah harus diperlakukan sebagai sahabat, kita olah sesuai karakter limbah yang ada,” katanya.

Ia mengatakan, limbah bisa dipisah dalam bentuk organik dan anorganik. Dengan teknologi LIPI yang dibagikan ke masyarakat, limbah organik bisa diolah menjadi pupuk cair dan kompos. Hasil pengolahan limbah bisa digunakan sendiri atau dijual. Sedangkan limbah lain yang bersifat anorganik seperti botol plastik, besi, aluminium harus dipisahkan secara  langsung dan dapat di diberikan ke pemulung untuk kemudian didaur ulang.

Terkait limbah cair, Tarzan menyarankan agar menggunakan teknologi tanaman vetiver. Teknologi ini memungkinkan tanaman yang menyerap semua kotoran dalam limbah cair dengan teknologi hidroponik dan wetland. Tanaman vetiver yang sudah besar pun bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku anyaman untuk kerajinan seperti tas, sendal, alat rumah tangga, dan lainnya.

Kemudian untuk limbah oli yang biasa tumpah dari kapal yang bersandar di Pulau Panggang atau pulau di Kepulauan Seribu lainnya, proses pengolahannya juga memanfaatkan tanaman vetiver. Limbah oli yang terkumpul bisa ditempatkan dalam tempat tersendiri dan dijadikan bahan bakar untuk keperluan sehari-hari.

Dalam kesempatan diseminasi iptek ini, Anggota Komisi VII DPR RI, Ivan Doly Gultom, memberikan apresiasinya ke LIPI. “LIPI hadir di Kepulauan Seribu dengan unit kerjanya di Pulau Pari untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) pesisir dan wisata serta penjagaan lingkungan dan terumbu karang. Kini, lembaga ini hadir pula dengan teknologi lain untuk membantu masyarakat di sini (Pulau Panggang). Tentu kita perlu mengapresiasinya dengan baik,” tutupnya. (irs/ed: pwd,dig)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI