Potensi industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia melalui barang dan jasa yang dihasilkan. Namun, di sisi lain pertumbuhan industri telah menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Buangan air limbah industri mengakibatkan timbulnya pencemaran air sungai dan laut yang dapat merusak lingkungan dan menurunkan kualitas hidup.

Upaya pencegahan dampak lingkungan telah dilakukan oleh industri, salah satunya melalui penerapan instalasi pengolahan air limbah. Hanya saja hal ini memerlukan biaya pembangunan dan biaya operasional yang mahal, sehingga banyak industri yang berpikir dua kali untuk membangun instalasi pengolahan air limbah sendiri. Pengolahan air limbah oleh industri, hanya menambahkan biaya pengeluaran tanpa memberikan keuntungan dari limbah tersebut bagi perusahaan.

Berangkat dari persoalan itu, Fajar Syahreza, Mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) tergerak untuk melakukan penelitian, yaitu menerapkan teknologi Microbial Fuel Cell (MFC) pada proses pengolahan limbah cair perikanan yang dapat menghasilkan energi listrik.

Judul penelitiannya adalah “Kinerja Microbial Fuel Cells pada Pengolahan Limbah Cair Pemindangan dengan Membran Separator Campuran Polimer Kitosan/PVA”. Penelitian tersebut dilakukan di bawah bimbingan Dr. Bustami Ibrahim dan Dr. Pipih Suptijah.

“MFC adalah teknologi yang memanfaatkan bakteri untuk menghasilkan listrik dengan cara menguraikan material organik. Limbah cair perikanan sendiri merupakan limbah cair dengan kandungan organik yang tinggi, sehingga dapat dijadikan sebagai substrat dalam MFC,” ujar Fajar.

Cara kerja MFC dalam menghasilkan listrik yaitu bakteri yang terdapat dalam substrat MFC akan menguraikan material organik pada limbah cair menjadi sumber makanan baginya. Material organik yang telah dipecah tersebut akan membentuk ion-ion. Ion tersebut kemudian menjadi sumber energi listrik yang dimanfaatkan melalui bakteri MFC.

Dalam penelitiannya, Fajar menggunakan air limbah dari industri pengolahan pindang. Ia juga menambahkan separator untuk meningkatkan kinerja dalam menghasilkan energi listrik. Separator tersebut terdiri dari bahan kitosan yang memiliki konduktivitas ionik yang tinggi dan kemampuan mekanis yang rendah, dicampur dengan Polyvinyl Alcohol (PVA) yang memiliki kemampuan resistensi ionik rendah dan kemampuan mekanis yang tinggi. “Penambahan polimer campuran kitosan/PVA ini diharapkan dapat meningkatkan recovery elektron, sehingga berdampak pada peningkatan elektrisitas,” katanya.

Berdasarkan penelitiannya, Fajar menyimpulkan bahwa kandungan organik pada limbah cair yang diolah menggunakan MFC dapat menghasilkan energi listrik dan menurunkan beban limbah, sehingga aman untuk diemisikan ke lingkungan.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan informasi terhadap teknologi pengolahan limbah dengan MFC menggunakan separator polimer kitosan/PVA dan elektrisitas yang dihasilkan. Ia juga berharap penelitian terkait MFC bisa menjadi perhatian bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian dan bisa lebih dikembangkan lagi. (NIRS/NM)