UNAIR NEWS – Sebanyak 17 mahasiswa dan satu dekan dari Lincoln University mengikuti program inbound exchange yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Ke-17 mahasiswa itu tiba di UNAIR dan disambut jajaran pimpinan FEB sejak awal tahun pada 2 Januari lalu.

Senin siang, (8/1) bertempat di Sages Institute, mereka mengikuti program cooking class. Yakni, belajar memasak makanan khas Indonesia.

“Hari ini kita bakal memasak tiga masakan tradisional Indonesia. Yang khas, ada sambal bawang, nasi goreng, dan pepes,” ujar Kepala Kemahasiswaan dan Hubungan Masyarakat Sages Institute Victor M. Manaf saat membuka cooking class.

Dalam agenda tersebut, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berisi dua orang. Seorang dari mahasiswa Lincoln University dan seorang dari UNAIR.

Meski bahan-bahan dan panduan memasaknya lengkap di meja setiap kelompok, keraguan dan canggung peserta masih saja terlihat. Sebab, bagi mereka, selain bahan-bahannya yang baru dikenali, cara memasak dengan memanfaatkan daun pisang menjadi hal luar biasa yang mereka temui.

“Ini sangat menakjubkan dan menyenangkan,” ujar Rachiel, salah seorang peserta sekaligus mahasiswa Faculty of Agribusiness and Commerce Lincoln University.

Meski sudah mencicipinya, Rachiel tetap mendapatkan kesan yang berbeda saat menikmati masakan Indonesia yang lain. Sebab, menurut dia, masakan Indonesia sangat variatif. Selain itu, bumbunya sangat terasa jika dibandingkan dengan masakan di New Zealand.

“Bumbunya bermacam-macam. Juga bercampur dari banyak jenis bumbu. Sangat terasa. Berbeda dengan di negara saya (New Zealand,  Red),” ungkap perempuan pirang tersebut sambil membolak-balikan nasi goreng masakannya.

Beberapa peserta laki-laki juga tampak bersemangat. Bahkan, Dekan Faculty of Agribusiness and Commerce Lincoln University Prof. Dr. Hugh Bigsby sangat serius mengikuti kelas memasak itu. Tangannya cukup terampil mencacah bawang merah dan putih serta cabai. Termasuk saat menuang minyak dan menaburkan bumbu-bumbu perasa.

Sementara itu, Ketua Panitia Program inbound exchange Tika Widiastuti, SE.,M.Si., mengungkapkan bahwa agenda cooking class itu adalah salah satu rangkaian kegiatan yang digelar sejak Senin (1/1) hingga Minggu (14/1). Sesuai dengan jadwal, lanjut dia, peserta bakal menggelar pertemuan dengan Konsulat Jenderal New Zealand di Surabaya setelah kegiatan tersebut.

”Jadi, ada kegiatan non-akademik. Karena itu, hari ini ada agenda memasak makanan khas Indonesia, terutama Surabaya. Sebelumnya, mereka juga mengikuti latihan menari tradisional, mencoba permainan-permainan tradisional, dan mempelajari konstruksi atau arsitek budaya Indonesia,” tuturnya. ”Sebelum cooking class, tadi pagi mereka mengikuti kelas kuliah di fakultas (FEB, Red),” imbuhnya. (*)