Lima mahasiswa UGM mengembangkan sistem pertanian hidroponik dan aquaponik. Dalam pengembangan pertanian itu mereka menggandeng kalangan muda Desa Pucanganom 1, Sanden, Bantul.
“Dengan pemberdayaan pemuda untuk menjalankan pertanian seperti itu diharapkan mampu meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan mereka,” kata Bima Sakti V P, ketua tim mahasiswa pengembang program pertanian hidroponik di Desa Pucanganom 1, Rabu (20/4) di Kampus UGM.
Program alokasi pengembangan aquaponik vertikultur sayur-ikan desa atau yang disebut Aloevera ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) UGM. Bima menjalankan program ini bersama dengan Hengky Anang Wijaya (D3 Elektronika dan Instrumentasi SV), Rahma Firdiana Nurnahar (Fakultas Pertanian), Rima Darmawanti (Fakultas Teknologi Pertanian) serta Rian Nur Hidayat (FEB).
Program alovera ini muncul sebagai solusi atas persoalan pemuda di Desa Pucanganom 1 di kampung Hengky Anang W yang merupakan anggota tim mahasiswa UGM. Aloevera lahir dari keresahan pemuda di kampung itu. Mereka berkeinginan menjalankan usaha agar bisa lebih produktif dan mandiri dalam perekonomian. Namun begitu, persoalan keterbatasan modal masih menjadi kendala utama yang menghambat produktivitas mereka.
“Sebenarnya mereka punya semangat dan etos kerja yang tinggi, tapi terhambat persoalan finansial,” tuturnya.
Dari persoalan itulah mereka menawarkan pengembangan usaha pertanian hidroponik dan aquaponik bagi warga setempat.  Program ini ternyata disambut antusias oleh pemuda dan warga sekitar.
Bima menuturkan pertanian hidroponik dan aquaponik sengaja dikembangkan karena perawatan pola tanam ini lebih mudah dibandingkan dengan pola tanam konvensional. Selain itu, tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga bisa dilakukan di pekarangan rumah dengan lahan terbatas dan juga hemat air.
Mereka memanfaatkan lahan warga setempat seluas 10×10 meter untuk pembuatan satu buah rumah kaca (green house) untuk pengembangan pola tanam hidroponik dan aquaponik. Nantinya, tanaman yang akan dibudidayakan antara lain sawi kriting, selada, seledri, kangkung, cabai, terong, daun bawang, dan tomat.
“Rencananya juga akan membudidayakan ikan lele dalam kolam seluas 4×4 meter. Nantinya, kotorannya digunakan sebagi pupuk dalam pertanian aquaponik,” kata mahasiswa D3 Elektronika dan Instrumentasi SV UGM ini.
Program ini telah dimulai sejak awal Maret 2016 lalu. Saat ini, Bima dan kawan-kawan bersama dengan pemuda setempat tengah dalam proses membangun rumah kaca untuk pelaksanaan program aloevera. Selain membangun fasilitas fisik, mereka juga memberikan sejumlah pelatihan terkait pengembangan pertanian hidroponik dan aquaponik mulai dari pembibitan, perawatan, panen, dan pengelolaan pasca panen.
“Kami menggandeng sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian hidroponik untuk berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan pada pemuda Pucanganom 1,” katanya.
Hengky menambahkan dalam menjalankan program ini mereka juga memberikan tambahan sentuhan teknologi. Mereka mengembangkan sebuah sistem otomatis untuk mengontrol kadar pH air dalam pertanian hidroponik agar tetap netral. Dengan begitu diharapkan dapat menjaga laju pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Sistem pengontrol kadar pH air ini dibuat terintegrasi dengan smartphone berbasis android dan website http://aloeveraproject.tk/ .
“Jika kadar air mengalami kenaikan atau penurunan akan muncul notifikasi dan secara otomatis sistem akan menyeimbangkan kembali kadar pH air,” jelasnya.
Hengky menyebutkan pengembangan website ditujukan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Didalamnya memuat berbagai materi maupun artikel pertanian hidroponik. Selain itu, terdapat pula tutorial dalam menjalankan sistem pertanian ini.
Dengan fasilitasi program yang berhasil mendapatkan dana hibah dari DIKTI ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian warga. Tidak hanya itu, bisa menjadikan Desa Pucanganom 1 sebagai menjadi sentral pendidikan hidroponik di masa mendatang.
“Kita berharap nantinya juga bisa menjadi kampung percontohan untuk pertanian hidroponik,”pungkasnya. (Humas UGM/Ika)