Indonesia merupakan salah satu dari 50 negara tempat pembuangan sampah terbesar di dunia.  Sementara itu, Japan External Trade Organization (JETRO) memproyeksikan bahwa kondisi ini akan semakin memburuk di masa mendatangdengan jumlah produksi sampah sekitar 9200 ton per hari pada tahun 2025.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata pemanfaatan sampah yang sudah terpilah oleh masyarakat Indonesia hanya berkisar 10,28 persen di tahun 2013. Jumlah tersebut terus menurun ke angka 8.75 persen di tahun 2014.

Prihatin terhadap permasalahan tersebut, tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada(UGM) berinisiatif melakukan penelitian terkait perilaku membuang dan memilah sampah. Mereka adalah Esa Asyahid, Ega Yazid, dan Handoko.

Di bawah bimbingan Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D, ketiganya meneliti perilaku membuang sampah di kawasan Pasar Minggu Pagi (Sunday Morning) UGM melaluiProgram Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Sosial Humaniora yang diselenggarakan oleh DIKTI.

Esa mengatakan pemilihan lokasi penelitian dikawasan tersebut melihat kondisi sampah yang cukup banyak. Hasil penelitian awal yang dilakukan diketahui secara umum perilaku membuang sampah sembarangan serta tidak memilah sampahdikarenakan kurangnya informasi serta rasa malas.

“Berdasarkan temuan tersebut, kami melakukan eksperimen dengan menyediakan tempat sampah yang telah kami desain sedemikian rupa,” katanya.

Dalam eksperimen pertama itu mereka memberikan ilustrasi sampah sesuai dengan jenis tempat sampahnya serta membuat lubang yang berbeda-beda untuk tiap jenis tong sampah. Pada eksperimen kedua, merekayasa motif pembuang sampah dengan cara memberikan papan dengan tulisan bahwa penjulan sampah yang telah dipilah selanjutnya akan didonasikan untuk anak yatim.

“Hasil eksperimen menunjukkan hasil yang cukup baik. Pemberian ilustrasi sampah serta desain lubang tempat sampah meningkatkan ketepatan memilah sampah dari semula 27% menjadi 35%,” urainya.

Hal serupa juga terjadi pada rekayasa penambahan himbauan serta keterangan hasil pemilahan sampah akan didonasikan ke anak yatim. Dengan metode ini mampu meningkatkan ketepatan pemilahan sampah pengunjung hingga hampir dua kali lipat dibanding jika menggunakan tempat sampah pilah biasa.

“Ini membuktikan bahwa ketika orang berniat membantu sesama, mereka cenderung akan bersedia berusaha lebih keras dalam melakukan sesuatu”, tukas Esa.

Ketiga mahasiswa ini berharap temuan dari penelitian tidak hanya berhenti di atas kertas, namun dapat diaplikasikan terutama pada lingkungan kampus UGM. Tantangannya utamanya adalah membangun sistem pengelolaan sampah yang tepat.

“Temuan kami berfokus pada aspek perilaku pengunjung, selanjutnya perlu dikaji pula bagaimana sistem serta kelembagaan mengenai manajemen sampah yang dapat mendukung hal tersebut”pungkasnya