PIH UNAIR – Ketertarikan terhadap pelestarian manuskrip yang terbuat dari daun lontar mendorong I Putu Ari Kurnia, mahasiswa S-1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga untuk mengikuti konferensi tahunan yang diadakan himpunan akademisi di bidangnya.

Dalam konferensi The 83rd International Federation of Library Association (IFLA) General Conference and Assembly yang diadakan di Wroclaw, Polandia tanggal 19-25 Agustus 2017, di hadapan ratusan akademisi sekaligus pustakawan dunia, Ari “sapaan akrabnya” mempresentasikan tentang kisah sukses digitalisasi manuskrip lontar yang berasal dari daerah asalnya, Bali.

Mahasiswa tahun angkatan 2014 itu patut berbangga sebab ia adalah satu-satunya delegasi UNAIR dan Indonesia yang tampil membawakan makalah di hadapan akademisi dan praktisi di bidang keilmuan informasi dan perpustakaan.

Makalahnya berjudul “Cultural Entropy on Digitizing Balinese Lontar Manuscripts: Overcoming Challenges and Seizing Opportunities” bercerita tentang strategi preservasi dan konservasi bahan pustaka atau manuskrip lontar.

Ari bercerita digitalisasi manuskrip lontar di Bali masih dilakukan secara manual. Setiap lembar daun lontar difoto satu per satu. Supaya hasilnya lebih jelas dan tajam, foto tersebut diolah dengan sebuah perangkat lunak. Setelah diolah, baru kemudian dibuatkan metadata untuk disimpan dalam sebuah database.

Digitalisasi manuskrip lontar di Bali dilaksanakan oleh komunitas bernama Hanacaraka Society, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pelestarian manuskrip lontar. Ari juga bergabung dengan komunitas tersebut. Sehingga, tak sulit bagi dia untuk menggambarkan tentang praktik penyelamatan manuskrip-manuskrip lontar dengan digitalisasi di Bali.

Menurut Ari, peserta konferensi IFLA tertarik dengan makalah yang ia presentasikan. Hampir semua peserta baru pertama kali melihat wujud manuskrip lontar. Tak sedikit dari mereka yang bertanya tentang program preservasi manuskrip lontar.

Tak hanya itu, salah seorang profesor asal Filiphina yang berada dalam forum yang sama merasa sangat bersyukur dapat melihat wujud manuskrip lontar.

“Menurut penuturannya, Filiphina juga memiliki naskah manuskrip yang dibuat di atas daun lontar. Hanya saja saat ini sudah tidak ada lagi karena banyak yang hancur akibat perang dan tidak ada penyelamatan fisiknya. Jadi, ia berniat untuk membuat rekonstruksi dan sebagainya terkait keberadaan dan pengetahuan tentang naskah lontar di Filiphina,” terang Ari.

Konferensi IFLA bukan hal baru yang diikuti Ari. Tahun 2016, ia terpilih sebagai pemakalah dalam konferensi IFLA yang diadakan di Ohio, Amerika Serikat. Di AS, Ari memberikan paparan tentang metode penemuan informasi tentang kawitan (silsilah keluarga) di Bali.

“Kebetulan tahun ini saya mencoba untuk ikut kembali dengan mendaftarkan paper (makalah) untuk diseleksi. Pada akhir Juni saya mendapat kabar bahwa paper saya lolos untuk dipresentasikan. Agak khawatir juga tidak bisa lolos karena saingannya cukup ketat. Beberapa kenalan akademisi dan praktisi dari Indonesia banyak yang mencoba tapi tidak lolos,” imbuh lelaki kelahiran 18 Agustus 1995.

Apa tantangannya?

Ari tak menampik, praktik digitalisasi manuskrip lontar menghadapi sejumlah hambatan dan tantangan. Hambatan dan tantangan itu berasal dari masyarakat itu sendiri. Ia menilai, sikap masyarakat terhadap pelestarian manuskrip lontar baru sebatas keharusan menjaga warisan budaya namun tak ditunjukkan dengan upaya yang signifikan.

Contohnya, pada kebutuhan upacara agama. Ari mengatakan, pelaksanaan ritus-ritus agama tak berpengaruh terhadap upaya pelestarian manuskrip lontar. Kondisi entropi budaya itulah yang membuat masyarakat tak memaksimalkan keberadaan manuskrip lontar yang telah didigitalisasi.

“Padahal inti poin dari kegiatan preservasi adalah kebermanfaatan informasi dan pengetahuan secara berkelanjutan dalam media apapun termasuk naskah lontar. Namun, akibat keterbatasan masyarakat terhadap bahasa dan aksara lontar, membuat mereka tidak mampu memanfaatkannya lagi,” terang Ari.

Melihat hal itu, ia sebenarnya tak tinggal diam. Ari bersama Hanacaraka Society bergerak melestarikan manuskrip lontar di Jawa, Bali, dan Lombok. Bersama komunitasnya, ia sering kali mengadakan kelas menulis lontar. Termasuk, menyelenggarakan pameran-pameran tentang lontar.

Sekitar tahun lalu di Sanur, Bali, pihaknya bekerja sama dengan salah satu perusahaan menyelenggarakan pameran tentang lontar. Ia dan tim berusaha untuk mengilangkan stigma “sakral” lontar. Tujuannya, untuk menyampaikan bahwa informasi yang tertulis di manuskrip lontar bisa dinikmati siapa saja.

Contohnya, pengetahuan tentang tanaman obat dan metode pengobatan (di Bali disebut usadha). Ada pula pengetahuan tentang arsitektur hingga ilmu perbintangan astronomi.

Selain itu, pada tahun 2016, pihaknya juga berkesempatan untuk mengadakan pameran lontar di acara Ubud Writers and Readers Festival.

Sebagai anggota komunitas dan mahasiswa yang peduli terhadap pelestarian naskah lontar, ia juga bisa menulis di atas lontar. Ia mengaku, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, ia seringkali mengikuti lomba-lomba yang berhubungan dengan penulisan lontar.

Baginya, menulis lontar tidaklah susah asal tekun berlatih. “Ada yang bilang menulis lontar sama dengan beryoga karena teknik bernafas, konsentrasi, gerak tangan sangat menggunakan pengrupak (pisau kecil untuk membuat guratan di lontar) mencerminkan yoga. Semakin sering berlatih, tulisan di atas lontar akan semakin halus,” ujar Ari membagi tips.

Di akhir wawancara, ia berharap agar manuskrip lontar kian populer. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki masyarakat tentang lontar, masyarakat akan semakin peduli dengan keberadaan dan pelestarian manuskrip itu. (PIH UNAIR)