Homesick merupakan permasalahan yang sering dihadapi oleh mahasiswa baru yang sedang belajar di luar negeri. Homesick merupakan sebuah penyakit bagi orang yang sedang tinggal di luar rumah baik untuk kepentingan belejar ataupun bekerja, homesick ditandai dengan perasaan tidak nyaman dan menderita dengan orientasi selalu ingin segera pulang ke rumah (Thurber, 1995). Homesick yang dialami oleh mahasiswa yang sedang kuliah diluar negeri disebabkan oleh beberapa hal diantaranya penyesuaian diri dari perbedaan bahasa, yang dapat menghambat ekspresi diri, perbedaan budaya misalnya, makanan, humor, custom, dan agama, perbedaan lingkungan misalnya cuaca (Poyrazli dan Lopez, 2007). Homesick tentu secara psikologis akan berpengaruh terhadap etos belajar bagi mahasiswa.

Belajar di Taiwan pasti akan melewati yang namanya liburan tahun baru cina, dimana liburan ini jatuh dalam pekan liburan musim dingin. Banyak mahasiswa dari Indonesia memutuskan untuk menghabiskan liburan di rumah dalam rangka mengurangi homesick. Liburan tahun baru cina sangatlah bermakna bagi semua masyarakat di Taiwan, baik dari kalangan pegawai, pelajar maupun para pedagang, sehingga pada liburan ini hampir banyak sekali dari mereka yang menonaktifkan diri dari pekerjaan dan hasilnya kampus menjadi sepi, seakan tak ada aktivitas sama sekali, restaurant di dalam kampus pada tutup begitu juga dengan restaurant-restarant yang ada di sekitar luar kampus. Moment ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa homesick yang harus tinggal di asrama kampus selama liburan musim dingin dan libur tahun baru cina, dikarenakan waktu liburan yang lebih pendek, karena harus mengerjakan penelitian di Laboratorium, secara otomatis tidak bisa meninggalkan Taiwan.

Ada kalimat “Tantangan dapat diubah menjadi kesempatan”. Ini yang harus dicatat dipikiran mahasiswa. Kesempatan itu muncul dari organisasi I.L.D.A (Ilan leadership development assosiation), sebuah organisasi bukan pemerintah yang menawarkan para foreigner untuk mempelajari budaya asli Taiwan dan menikmati makanan tradisional Taiwan selama liburan tahun baru cina dalam program 2014 International Chinese Newyear for Foreign Youth. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 27 Januari sampai 2 Februari 2014 di Provinsi Yilan, Taiwan utara. Dalam acara ini hal-hal yang telah saya lakukan adalah mempelajari bagaimana cara menulis aksara cina yang ternyata tidak mudah dan memerlukan ketrampilan khusus, mempelajari bagaimana menyajikan makanan tradisional taiwan seperti membuat kue keranjang yang menjadi makanan tradisi orang Taiwan dalam merayakan tahun baru cina, menyajikan minuman teh yang menjadi minuman khas orang taiwan dengan rasa original yang pahit, makan siang bersama manula-manula yang tidak memiliki keluarga yang biasanya merayakan tahun baru cina seorang, serta makan malam bersama masyarakat taiwan di kota Yilan di malam tahun baru cina. Di hari terakhir para peserta dari berbagai negara diberi kesempatan untuk membuat dan menyajikan makanan tradisional dari masing-masing negara. Pada kesempatan ini saya menyajikan makanan nasi pecel sayur, krupuk udang dan sambal goreng, ternyata masyarakat sangat menyukai makanan yang saya sajiikan, walaupun awalnya mereka takut bahwa makanan Indonesia selalau memiliki rasa pedas. Hal lain yang bisa dipelajari pada hari terakhir adalah nasi bukan menjadi makanan utama bagi kebanyakan peserta dari negara selain Indonesia. Program ini memperkenalkan berbagai macam obyek wisata Yilan kepada para peserta diantaranya Pantai Yilan, museum, pusat oleh-oleh kerajinan tangan tradisional Taiwan, operet cina, dan taman- taman kota. Semua wisata yang disediakan benar-benar terawat dan teratur, serta sangat memanjakan setiap pengunjung.

Selama satu minggu saya tinggal bersama hostfamily, dalam sepekan tersebut saya berkesempatan untuk melihat kebiasaan keluarga Taiwan sehari-hari mulai dari menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam, serta persiapan dalam menyambut tahun baru cina. Dalam program ini seakan memiliki keluarga baru karena hostfamily yang saya tempati benar-benar memberikan penghargaan kepada saya sebagai seorang tamu. Mulai dari mempersiapkan tempat ibadah saya sebagai seorang muslim dan menyiapkan makanan diluar pantangan saya. Dalam kesempatan tinggal bersama keluarga Taiwan, saya memperkenalkan tentang budaya Indonesia seperti adat memakai jilbab bagi orang perempuan, masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi tata krama dan keramah ramahan, serta  memperkenalkan beberapa obyek wisata Indonesia disaat santai.

Hal-hal yang bisa dipetik dari kegiatan ini adalah mengurangi homesick dengan menemukan sebuah keluarga baru yang akan selalu ada untuk kita selama tinggal di luar keluarga kita, menikmati pesona alam Taiwan, belajar beberapa hal diantaranya bagaimana peran sebuah keluarga dalam kehidupan kita, bagaimana menghadapi persilangan budaya, bagaimana mendapatkan keluarga baru ketika kita harus tinggal diluar keluarga asli kita. Serta point terpenting adalah mendapatkan referensi bagi para pelajar Indonesia tentang bagaimana metode untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga negara asing, karena saat ini tidak sedikit warga negara asing yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Indonesia.

Laman video kegiatan yang telah disiarkan di TV swasta Taiwan

http://www.youtube.com/watch?v=CNezvr7nkzw&app=desktop

Daftar Pustaka

Thurber CA. 1995. The experience and expression of homesickness in preadolescent and adolescent boys. Child Dev 66:1162–1178.

Poyrazli S, Lopez MD. 2007 An exploratory study of perceived discrimination and homesickness: a comparison of international students and american students.J Psychol 141:263–280.

_________________________________

Penulis:

M. Nur Ghoyatul Amin

Departemen Bioteknologi

National Pingtung University of Science and Technology