SERPONG – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengajak seluruh insan Iptekdikti utk senantisa bergotong royong membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Hal ini disampaikan Nasir saat menjadi Inspektur Upacara HUT Ke-72 Republik Indonesia di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong pada (17/8).

Nasir mengemukakan bahwa gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagian semua. Ho lopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Hal ini sebagaimana disuarakan oleh Soekarno dihadapan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Lebih lanjut Nasir menjelaskan bahwa kerja bersama antara perguruan tinggi, institusi riset dan industri merupakan sebuah strategi dalam meningkatkan nilai tambah hasil penelitian menjadi sebuah inovasi dan produk iptek berskala pasar.

Dengan kerja bersama antar berbagai lembaga dan industri akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penciptaan inovasi. Dengan kata lain, peneliti dan inovator saling bekerja sama, bergotong royong, dan bersinergi dalam menghasilkan inovasi.

Lebih lanjut Nasir memaparkan bahwa selama tujuh dekade lebih kemerdekaan, Indonesia telah berhasil menjadi bangsa besar dengan dengan berbagai kemajuan baik di bidang ekonomi, sosial, maupun politik. “Semua ini bisa dicapai karena gotong royong antar anak bangsa”, tegas Nasir.

Saat ini paradigma pembangunan telah berubah dari yang awalnya bersifat konsumtif, berubah menjadi pembanguna yang bersifat produksi. Pembangunan infrastruktur fisik dan manusia tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari ujung Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.
Berbagai pencapaian pembangunan antara menurunnya angka kemiskinan, menurunnya tingkat pengangguran, meningkatnya peluang dan akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta banyak aspek lainnya.

Lebih lanjut Nasir menjelaskan bahwa kerja bersama antara perguruan tinggi, institusi riset dan industri merupakan sebuah strategi dalam meningkatkan nilai tambah hasil penelitian menjadi sebuah inovasi dan produk iptek berskala pasar. Dengan kerja bersama antar berbagai lembaga dan industri akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penciptaan inovasi. Dengan kata lain, peneliti dan inovator saling bekerja sama, bergotong royong, dan bersinergi dalam menghasilkan inovasi.

Selain itu, Nasir mengajak seluruh insan iptekdikti untuk senantiasa mewaspadai upaya-upaya memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Nasir mengungkapkan bahwa kemajuan teknologi saat ini dapat dijadikan sarana pemecah belah bangsa oleh oknum-oknun yg tak bertanggung jawab melalui ujaran kebencian, hujatan, hasutan, informasi hoax, dan paham radikalisme.

“Saya mengajak untuk kembali ke Bhinneka Tunggal Ika, merekatkan persatuan bernegara dan berbangsa, menyemai kebebasan yang bertanggung jawab, dan bersama-sama menangkal radikalisme. Karena untuk memerangi radikalisme, kita tidak memerlukan senjata, namun pengetahuan dan pendidikan yang baik lah yang dapat menangkalnya”, ajak Nasir di akhir sambutannya.

Merdeka…!!! (MSF)