PIH UNAIR – Sebanyak 25 Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RS PTN) di Indonesia menggelar acara pertemuan untuk pertama kalinya. Acara yang dihadiri oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir itu berlangsung di Aula Dharmawangsa RS Universitas Airlangga pada Sabtu (28/10).

Direktur RS UNAIR Prof. dr. Nasronudin, SpPD., dalam sambutannya menjelaskan berbagai perkembangan dan pengembangan RS UNAIR sebagai salah satu RS Pendidikan di Indonesia. Baginya, untuk mengembangkan ke arah yang lebih baik, diperlukan langkah untuk menata kemandirian dan layanan unggulan.

“Satu hal yang tengah menjadi target besar kami tahun ini adalah kendali muti dan kendali biaya,” jelasnya.

Meski mengalami perkembangan yang positif, Nasron juga menunjukkan beberapa permasalahan yang dihadapi. Hal ini sengaja ia paparkan mengingat kemungkinan besar juga dialami oleh RS PTN lainnya. Permasalahan yang mendasar menurutnya meliputi sumber daya manusia, sarana prasarana, persaingan, dan layanan BPJS.

“Permasalahn SDM misalnya, kita ini masih banyak tenaga kontrak. Nah tenaga kontrak ini kan rentan mutasi,” tegas Nasron.

Sambutan selanjutnya disampaikan langsung oleh Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak. Dalam kesempatan tersebut, Nasih menilai bahwa RS PTN dalam skema arsitektur kesehatan Indonesia adalah komponen yang relatif baru.

“Selama ini yang kita kenal adalah RSUD baik di provinsi maupun kota. Oleh karena itu, karena menjadi komponen yang baru, dalam mengembangkan dirinya harus kita kolaborasikan dengan komponen lain yang sudah ada,” terang Nasih.

Menanggapi berbagai permasalahan yang dilontarkan oleh Nasron, Nasih mengungkapkan bahwa RS PTN di Indonesia tentu saja sama mengalami permasalahan yang kurang lebih sama. Meski demikian, Nasih optimis bahwa ada jalan keluarnya.

“Asosiasi yang kita buat ini mari kita dorong untuk memecahkan permasalahan bersama yang kita hadapi,” pinta Nasih.

Menambahkan pernyataan Nasih, Menristekdikti M. Nasir dalam paparannya mengatakan bahwa RS PTN ke depan bisa menjadi wahana pembelajaran kesehatan. Perihal beberapa kendala yang ada, Nasir menyatakan bahwa salah satu solusi yang bisa digunakan adalah dengan kolaborasi yang baik.

“Konsep utamanya dengan cara kita koordinasikan antar rumah sakit agar bisa berjalan dengan baik. Dalam hal ini, saya tunjuk 5 kampus untuk jadi pembina. Hal ini agar pendidikan di bidang kesehatan semakin lebih baik,” paparnya.

Selanjutnya, Nasir juga menjelaskan bahwa dengan adanya asosiasi RS PTN di Indonesia ini ke depan bisa memberikan gebrakan dan solusi terhadap dunia kesehatan. Baginya, RS PTN harus mampu melakukan inovasi dengan terus terintegrasi dengan pendidikan, pembelajaran, dan pelayanan.

“Inilah yang harus kita dorong bahwa RS PTN ke depan harus bisa menjadi solusi kesehatan,” pungkasnya. (PIH UNAIR)