Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, mendorong perguruan tinggi dalam negeri untuk mulai menerapkan perkuliahan jarak jauh secara daring atau online.

Hal ini, ujarnya, menjadi salah satu langkah yang harus ditempuh untuk bersaing di era revolusi industri sekaligus memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk memperoleh akses ke pendidikan tinggi.

“Untuk pembelajaran daring kami sudah membuat standarnya, tapi ada beberapa aturan lain yang harus diperbaiki. Sebagian perguruan tinggi seperti UGM sudah mulai berjalan dengan blended learning di tahap awal,” ujarnya usai meresmikan Gedung Pusat Pembelajaran FEB UGM pada Sabtu (4/8) lalu.

Kemenristekdikti, jelas Nasir, mengatur tata tertib perkuliahan berbasis daring melalui cyber university. Ia menargetkan pada tahun ini ada 30 perguruan tinggi yang menerapkan perkuliahan semacam ini. Dia menerangkan, seperti halnya dengan yang dilakukan UGM, kuliah daring dapat dimulai dengan metode blended learning yang menggabungkan antara kuliah tatap muka dengan kuliah daring.

Inovasi perguruan tinggi Indonesia, menurutnya, menjadi penting di tengah rencana masuknya perguruan tinggi asing yang dalam waktu dekat akan membuka kelas di Indonesia. Ia menuturkan perguruan tinggi dalam negeri tak bisa bersikap defensif menghadapi hal ini karena persaingan ini justru dapat menjadi pendorong bagi perguruan tinggi dalam negeri untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, terus berinovasi dan berubah ke arah yang lebih baik.

“Ketika perguruan tinggi asing masuk tidak berarti yang dalam negeri justru menurun, tapi justru semakin meningkat. Kita lihat misalnya di Malaysia, dengan masuknya perguruan tinggi asing, perguruan tinggi negeri dan swasta dalam negeri justru semakin berkembang,” ucapnya.

Selain unggul dengan memaksimalkan perkembangan teknologi informasi, ia juga mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan kompetensi mahasiswanya di dalam berbahasa asing, terutama bahasa Inggris. Di zaman ketika warga dunia semakin terkoneksi, literasi bahasa ia sebut menjadi modal awal untuk masuk ke kelas dunia.

“Ini menjadi hal penting karena dalam komunikasi dunia memakai Bahasa Inggris. Saat ini, TOEFL 450 itu sudah tidak cukup. Penting bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan infrastruksur dan sarana pendukung untuk memperlengkapi mahasiswa dengan kemampuan ini,” jelas Nasir.

Hal yang sama diutarakan oleh Dekan FEB UGM, Eko Suwardi, Ph.D. Ia menuturkan FEB mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa, khususnya bagi mahasiswa program internasional, untuk mempersiapkan mereka menghadapi persaingan global.

Hal ini salah satunya dijalankan dengan mendorong mahasiswa untuk melakukan kegiatan pertukaran pelajar atau summer course di luar negeri serta mengundang mahasiswa asing untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di UGM.

“Mahasiswa saya pikir harus mendapat international exposure yang cukup. Ini semua dalam rangka peningkatan daya saing, untuk mempersiapkan mereka ke depan,” kata Eko.

Selain meresmikan Gedung Pusat Pembelajaran, Nasir dan Eko juga mengisi seminar bertajuk Information Session on Quality Improvement of Indonesian Universities: “Toward A Better Quality of Business and Economics Higher Education” di hari yang sama. Dalam acara ini, keduanya membahas berbagai kebijakan, tantangan strategis, dan langkah aktif dalam merespons dinamika pendidikan Indonesia. (Humas UGM/Gloria; Foto: Firsto)