YOGYAKARTA – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia. Begitu pula dunia industri mengalami hal yang sama. Kini, tantangan semakin berat sebab dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0. Indonesia pun terkena dampak dari revolusi industri tersebut. Perkembangan teknologi semakin canggih. Pola gerak industri mulai menekankan pada pola ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan teknologi robotik.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan untuk menghadapi tantangan tersebut, pengajaran di perguruan tinggi dituntut untuk bisa menghasilkan lulusan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan industri. Revolusi digital ditandai dengan disrupsi digital yang harus disikapi. Untuk bisa bertahan dari revolusi ini, diperlukan kesiapan sumber daya manusia. Revolusi industri 4.0 juga membutuhkan sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada Kuliah Umum dan Peresmian Gedung Grha INSTIPER (7/3). Acara ini dihadiri juga oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Ali Gufron, Koordinator Kopertis Wilayah V Bambang Supriyadi, Ketua APTISI DIY Kasiyarno, dan Civitas Akademika Lainnya.

“Dengan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, lulusan INSTIPER diharapkan akan mampu menjawab kebutuhan industri terutama di bidang perkebunan dan kehutanan yang juga turut berubah seiring revolusi digital” ujar Nasir.

Menristekdikti mengharapkan dengan Model “University – Industry Partnership” yang telah diterapkan INSTIPER saat ini dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi. Sebagai pionir dalam pendidikan perkebunan dan pertanian, seluruh program pendidikan di INSTIPER diarahkan untuk selalu sesuai dengan kebutuhan industri masa kini dan masa depan.

Rektor INSTIPER Purwadi mengatakan INSTIPER siap untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan menjawab tantangan kemajuan zaman dengan pendidikan berbasis “University- Industry Partnership”.

“Dengan model tersebut alumni akan dibekali dengan keterampilan di bidang agro technology, forest management and technology, agro technic, agro technology and process, agro business, serta agro information technology,” jelas Purwadi.

Purwadi meyakini dengan model pendidikan seperti itu kompetensi lulusannya akan siap bersaing di dunia industri. Kompetensi yang dimiliki itulah yang menjadi bekal bagi para lulusan perguruan tinggi untuk masuk dalam pasar tenaga kerja. “Sejatinya, kalau mau pendidikan berbasis kompetensi, mesti menggunakan pendekatan model university industry partnership,” ujar Purwadi.

Sejak berdiri pada 1958, INSTIPER senantiasa memainkan menjadi perguruan tinggi swasta bidang pertanian terdepan di Indonesia. Sejak berdiri INSTIPER konsisten dengan pendidikan kompetensi perkebunan dan kehutanan beserta industri. Saat ini INSTIPER terkenal sebagai pemasok lulusan SDM bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. INSTIPER saat ini telah menjadi role model bagi pengembangan pendidikan tinggi dengan model pendidikan University-Industry Partnership. (HS)

Galeri