Jakarta – Menumbuhkan wawasan kebangsaan dengan tetap menjunjung tinggi 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu nilai-nilai pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, menjadi sangat penting untuk menangkal masuknya paham radikalisme yang bisa memecah belah bangsa.

Hal ini dikatakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir pada saat menghadiri “Deklarasi Kebangsaan Melawan Radikalisme” dengan seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di lingkungan Kopertis Wilayah III Jakarta yang diselenggarakan di Auditorium GWS Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur, Selasa (19/9).

Menteri Nasir mengatakan, deklarasi ini harus dilakukan secara nyata dan bersama sebagai bentuk penegasan dan komitmen untuk melawan dan menolak paham dan gerakan yang dapat melemahkan ideologi dan dasar Negara.

“Sebagai bangsa yang besar, kita harus menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan memahami arti dari pancasila. Apapun suku, ras, dan agamanya, kita tetap sama, kita Indonesia,” ujar Menteri Nasir diiringi tepuk tangan dari seluruh tamu undangan yang hadir.

Koordinator Kopertis Wilayah III Jakarta, Illah Sailah melaporkan, acara ini dihadiri sekitar 155 pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), antara lain Rektor dan Wakil Rektor PTS yang tersebar di wilayah Kopertis III Jakarta, serta perwakilan mahasiswa dari masing-masing PTS yang ikut menyukseskan deklarasi ini.

Dalam rangka menangkal radikalisme di dalam kampus, Menteri Nasir menegaskan, Kemenristekdikti melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan nantinya akan mengaktifkan semua kegiatan-kegiatan di dalam kampus yang berbasis pada Pancasila dengan menjaga 4 (empat) pilar kebangsaan.

“Saya juga telah menginformasikan kepada para Rektor Perguruan Tinggi yang bertindak sebagai koordinator seluruhnya di Kampus, bahwa Perguruan Tinggi harus menyelenggarakan pendidikan Pancasila yang dapat diterapkan didalam kehidupan sehari-hari,” imbuh Nasir.

Menteri Nasir juga mengingatkan kepada mahasiswa, dalam berorganisasi antar sesama mahasiswa nantinya harus berbasis pada pancasila dengan tetap menjaga 4 (empat) pilar kebangsaan.

“Dalam pendidikan Pancasila, mahasiswa juga harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, jangan sampai ngomongnya Pancasila tetapi sikapnya tidak mencerminkan Pancasila, ini tidak boleh,” tegas Nasir.

Sekali lagi, Menteri Nasir menekankan kepada seluruh Perguruan Tinggi dengan tetap menjaga dan mengimplementasikan 4 (empat) pilar kebangsaan sebagai pandangan hidup bersama, maka dengan itu tidak ada lagi saling hujat-menghujat antar sesama warga Negara atau antar umat beragama.

“Ini yang perlu dilakukan seluruh Warga Negara Indonesia khususnya di Perguruan Tinggi, dengan tidak ada lagi saling menghujat antar satu dengan yang lainnya dan semua berakhir pada NKRI dan Pancasila,” kata Nasir.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Nasir menginformasikan bahwa setelah deklarasi hari ini, akan ada pertemuan pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia yang membawa tema “Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme”, dan rencananya akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali pada 25-26 September 2017.

“Ini bagian dari sikap dan langkah konkret melawan gerakan radikalisme di Perguruan Tinggi, dan rencananya aksi kebangsaan ini akan diikuti sekitar 4.000 pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia, dimana rencana akan dihadiri Presiden Republik Indonesia Joko Widodo,” seru Nasir.

Selain Menteri Nasir, acara ini juga dihadiri Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Intan Ahmad, Dirjen Kelembagaan Kemenristekdikti Patdono Suwignjo, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Mauarar Siahaan sebagai tuan rumah, dan beberapa Anggota Komisi X DPR RI. (ard)