1. Pendahuluan

Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia, dimana setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama dan gender. Pemerataan akses dan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki keterampilan hidup (life skills) sehingga akan mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Pendidikan Tinggi sesuai amanat yang diembannya melalui UU No. 12 Tahun 2012 bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan berkewajiban untuk melakukan langkah-langkah strategis yang implementasinya disesuaikan dengan prioritas pembangunan pendidikan itu sendiri.

Keterpaduan dan relevansi antara keterampilan (skills) hasil dari proses pendidikan dengan dunia kerja/usaha/industri merupakan faktor utama dari bernilainya sumber daya manusia bagi masyarakatnya sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Politeknik sebagai lembaga Pendidikan Tinggi Vokasi (PTV) sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 12 Tahun 2012 berkewajiban untuk menjamin adanya keterpaduan dan relevansi antara keterampilan lulusannya dengan dunia kerja/usaha/industri sesuai bidangnya masing-masing. Hal ini dapat dicapai apabila Politeknik memiliki Teaching Factory/Industry dalam menjalankan proses pendidikannya.

2. Model Teaching Industry di Politeknik Saat Ini

Era pendidikan Politeknik di Indonesia dimulai pada tahun 1976 dengan didirikannya Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB) yang merupakan hasil kerjasama bilateral antara pemerintah RI dengan pemerintah Konfederasi Swiss. Kemudian dilanjutkan dengan pendirian 6 (enam) Politeknik Negeri lainnya secara serempak di seluruh Indonesia pada tahun 1982 melalui program Pengembangan Pendidikan Politeknik di Indonesia bekerjasama dengan Bank Dunia, yaitu Politeknik Jakarta (UI), Politeknik Bandung (ITB), Politeknik Semarang (UNDIP), Politeknik Malang (UNIBRAW), Politeknik Medan (USU), dan Politeknik Palembang (UNSRI). Sejak berdirinya, Politeknik-politeknik tersebut sudah melakukan upaya-upaya untuk menciptakan keterpaduan dan relevansi antara keterampilan para lulusannya dengan dunia industri melalui pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM)-nya, seperti kurikulumnya terdiri

Jan’14/ZNA                  1 dari 55 % teori (di Kelas) dan 45 % praktek (di Bengkel), mahasiswa melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Industri, dan sebagainya. Pada awalnya diharapkan, Teaching Factory (mungkin untuk saat ini lebih tepat digunakan istilah Teaching Industry karena Teaching Factory konotasinya hanya untuk Program Studi Engineering saja, sedangkan Politeknik saat ini sudah memiliki Program Studi Non-Engineering) dapat dilakukan di Bengkel/Laboratorium dan terintegrasi dalam PBM, dimana Bengkel/Laboratorium diupayakan sebagai miniatur pabrik/industri (mini-factory) yang kondisinya mirip seperti di pabrik/industri. Dengan demikian, maka bengkel/laboratorium dapat berfungsi selain sebagai tempat praktek mahasiswa, akan tetapi juga memproduksi barang-barang pesanan industri. Salah satu contoh Politeknik yang berhasil melakukan model Teaching Industry seperti ini (Model 1) adalah Politeknik Manufaktur Bandung. Teaching Factory model ini sangat membutuhkan sistim manajemen akademik yang kuat untuk menggabungkan aspek akademik dengan industri. Namun, sebagian besar Politeknik lainnya di Indonesia saat ini memfungsikan Bengkel/Laboratorium hanya sebagai tempat praktek mahasiswa, sehingga Bengkel/Laboratorium menjadi “Cost Center” yang setiap tahunnya membutuhkan anggaran yang besar untuk biaya-biaya seperti bahan praktek mahasiswa, perawatan dan pengembangan mesin-mesin praktek. Hal ini dikarenakan produk hasil praktek mahasiswa tidak memiliki nilai-jual. Padahal, kalau produk hasil praktek mahasiswa diarahkan untuk memiliki nilai jual atau dapat memenuhi pesanan industri, maka penghasilan ini dapat mengurangi atau bahkan menutupi kebutuhan biaya-biaya tersebut.

Model Teaching Industry yang dilakukan oleh beberapa Politeknik lainnya adalah dengan mendirikan dan mengelola pabrik/industri sebagai tempat praktek mahasiswa. Pengelolaan pabrik/industri tersebut tidak terintegrasi dengan sistim manajemen akademik. Namun, pabrik/industri tersebut dimanfaatkan pula untuk praktek mahasiswa. Model Teaching Industry ini (Model 2) sangat membutuhkan investasi yang besar, kerjasama yang kuat dengan industri dan sistim manajemen pabrik/perusahaan yang professional untuk menjamin keberlangsungan usaha/pabrik tersebut. Politeknik yang melakukan model Teaching Industry seperti ini adalah Politeknik Negeri Bali dengan Hotel-nya, Politeknik Negeri Malang dengan Pabrik Jus-nya, Politeknik Negeri Jember dengan Pabrik Roti-nya, dan Politeknik Negeri Batam dengan Pabrik Micro Chip-nya.

Model Teaching Industry lainnya (Model 3) yang bisa dijadikan rujukan untuk dilakukan oleh Politeknik di seluruh Indonesia adalah yang dikembangkan oleh Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Model Teaching Industry ini dilakukan melalui kerjasama dengan industri/perusahaan untuk menyelenggarakan program khusus (kelas kerjasama) yang pengelolaan dan pelaksanaan PBM- nya dilakukan secara bersama-sama dan semua biaya penyelenggaraannya ditanggung oleh perusahaan mitra kerjasama. Pelaksanaan PBM-nya lebih banyak dilaksanakan di plant/pabrik milik perusahaan mitra, sehingga akan menjamin keterpaduan dan relevansi antara keterampilan lulusannya (kompetensi) dengan industri tersebut.

Jan’14/ZNA                  2

3. Model Teaching Industry Politeknik Negeri Jakarta

Model Teaching Industry yang dikembangkan oleh PNJ (Model 3) berawal pada tahun 2005 ketika program Bidang Kerjasama dan Hubungan Industri PNJ, yaitu „Link and Match dengan Industri“, menghasilkan sebuah kerjasama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk dalam bentuk penyelenggaran pendidikan vokasi program khusus (kelas kerjasama) „Rekayasa Industri Semen“ untuk jenjang D3 (Diploma 3), dimana pada saat itu Holcim sedang membutuhkan SDM yang terampil di bidang Rekayasa Industri Semen. Kelas kerjasama tersebut diselenggarakan di Plant Narogong (Cibinong) milik PT. Holcim Indonesia Tbk. dan pelaksanaannya dikelola secara bersama-sama oleh PNJ dan Holcim. Mahasiswanya berjumlah 24 orang per kelas dan hanya menerima 1 (satu) kelas per angkatan (setiap tahunnya). Mereka disediakan ruang kelas khusus dan prakteknya langsung di Plant / pabrik. Kurikulum dikembangkan secara bersama- sama oleh kedua belah pihak dengan mengacu kepada kurikulum PNJ untuk Program Studi terkait, yaitu Program Studi Teknik Mesin, dan dikombinasikan dengan muatan lokal (maksimum 20 %) yang disesuaikan dengan kebutuhan rekayasa industri semen.

Bentuk kerjasama seperti ini dapat dikategorikan sebagai salah satu model teaching industry yang oleh PNJ dinamakan „Industry based Vocational Education System” (IVE-PNJ System). Karakteristik dan keuntungan dari IVE-PNJ System ini adalah:

– Menyelenggarakan pendidikan vokasi melalui kerjasama dengan industri/perusahaan (kelas kerjasama), dimana pengelolaan dan pelaksanaan PBM-nya dilakukan secara bersama-sama oleh PNJ dan Perusahaan Mitra Kerjasama. Dengan demikian akan terjalin resources and facilities sharing yang akan menjamin kualitas lulusannya.

– Kurikulum dikembangkan bersama-sama oleh PNJ dan Perusahaan Mitra Kerjasama sehingga akan menjamin keterpaduan dan relevansi antara keterampilan (kompetensi) lulusannya dengan industri tersebut.

– Semua biaya penyelenggaraan program ditanggung oleh pihak industri (perusahaan mitra kerjasama). Pada umumnya menggunakan dana CSR perusahaan. Hal ini menunjukan kepedulian industri/perusahaan terhadap masyarakat di lingkungan sekitarnya.

– Mahasiswanya diberi beasiswa oleh perusahaan mitra kerjasama yang mencakup biaya pendidikan (tidak perlu membayar uang kuliah) dan uang saku bulanan. Program seperti ini banyak diminati oleh masyarakat dan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang kurang mampu.

– Lulusannya langsung diterima bekerja di perusahaan tersebut atau boleh bekerja dimana saja (tidak mengikat). Program ini sangat membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran.

Dengan memperhatikan keuntungan-keuntungan dari IVE-PNJ System tersebut, maka PNJ terus mengembangkan kerjasama teaching industry model ini. Sampai saat ini, PNJ telah menjalin beberapa kerjasama dengan pihak industri menggunakan IVE-PNJ System, diantaranya adalah:

Jan’14/ZNA                  3

1. Kerjasama dengan Holcim (PS Teknik Mesin, Konsentrasi Rekayasa Industri Semen, Jenjang D3), sejak tahun 2005, lokasi di Plant Narogong (Cibinong);

2. Kerjasama dengan PT. Badak LNG (PS Teknik Konversi Energi, Konsentrasi Teknik Pengolahan Gas, Jenjang D3), sejak tahun 2011, lokasi di Bontang, Kalimantan Timur;

3. Kerjasama dengan LIGO Group of Company (PS Teknik Mesin, Konsentrasi Manufaktur Plastik, Jenjang D1) sejak tahun 2011, lokasi di Cileungsi;

4. Kerjasama dengan Holcim (PS Teknik Mesin, Konsentrasi Rekayasa Industri Semen, Jenjang D3), sejak tahun 2014, lokasi di Plant Cilacap.

Kerjasama lainnya yang menggunakan IVE-PNJ System, namun tidak dibiayai sepenuhnya oleh perusahaan mitra kerjasama (hanya pengembangan kurikulum dan fasilitas tempat praktek mahasiswa) adalah:

– – –

PS Alat Berat, bekerjasama dengan PT. Trakindo PS Jalan Tol, bekerjasama dengan PT. Jasa Marga PS MICE, bekerjasama dengan INCAA.

4. Penutup

Terdapat 3 (tiga) model Teaching Industry yang dapat dilakukan oleh Politeknik di Indonesia untuk menjamin adanya keterpaduan dan relevansi antara keterampilan (kompetensi) lulusannya dengan dunia industri, yaitu:

(1) Model 1: Teaching Industry-nya adalah Bengkel dan Laboratorium yang dimiliki oleh Politeknik itu sendiri. Pengelolaan dan pelaksanaannya terintegrasi ke dalam Sistim Akademik. Mahasiswa praktek di Bengkel/Laboratorium sekaligus juga menghasilkan produk pesanan industri atau produk yang siap dijual ke industri.

(2) Model 2: Politeknik membangun pabrik/industri bekerjasama dengan industri sebagai Teaching Industry-nya. Lokasinya di dalam atau diluar kampus. Pengelolaan pabrik/industri tidak terintegrasi dengan Sistim Akademik, namun pabrik/industri tersebut dimanfaatkan pula untuk tempat praktek mahasiswa.

(3) Model 3: Teaching Industry dibangun melalui kerjasama dengan industri/perusahaan menyelenggarakan program khusus (kelas kerjasama). Tempat praktek mahasiswa kelas kerjasama ini, selain di Bengkel/Laboratorium milik Politeknik, namun juga memanfaatkan pabrik/industri yang sesungguhnya milik perusahaan tersebut. Biaya penyelenggaraan kelas kerjasama ini ditanggung seluruhnya oleh perusahaan mitra kerjasama.

Setiap Politeknik di Indonesia diharapkan dapat melaksanakan salah satu atau bahkan ketiga model Teaching Industri tersebut yang perlu disesuaikan dengan ketersediaan SDM, fasilitas,

Jan’14/ZNA                  4

kemampuan manajemen masing-masing Politeknik dan jaringan kerjasamanya. Dengan adanya Teaching Industry sebagai penopang proses pendidikan di Politeknik, maka akan tercipta keterpaduan dan relevansi antara keterampilan (skills) hasil dari proses pendidikan Politeknik dengan dunia kerja/usaha/industri sehingga akan dihasilkan SDM yang berguna bagi masyarakatnya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dan bangsa Indonesia.

—-ZNA’14—-

_____________________________

Penulis: Dr.sc. H. Zainal Nur Arifin, Dipl.-Ing. HTL, MT (POLITEKNIK NEGERI JAKARTA)