Tidak akan pernah terlupakan ketika pada tahun 1995, tepatnya 20 tahun yang lalu Indonesia telah berhasil menerbangkan pesawat terbang super canggih N-250 yang telah dilengkapi teknologi “fly by wire” mengudara di atas langit nusantara. Pada saat yang sama semua warga bangsa bergegap gempita merayakan tinggal landas Indonesia, ribuan anak bangsa, bergotong royong, bahu membahu dengan penuh keyakinan dari berbagai disiplin akademik membuktikan kepada dunia International bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin jika dilaksanakan secara bersama sama.

Pada saat itu masih terasa di hati kami, kobaran semangat nasionalisme bapak Presiden Indonesia pertama bapak Ir. Soekarno dengan warisan utama Negara yang wajib disyukuri, yaitu lahirnya Falsafah Pancasila, saat itu dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, diperdengarkan Dasar Negara Indonesia Merdeka (Philosofische grondslag) untuk pertama kalinya sebagai pertanda kepada dunia atas lahirnya Pancasila sebagai dasar implementasi konsitusi Indonesia, termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 “yang dirumuskan dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Pancasila melahirkan Trisakti yaitu Berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya. Semua hal tersebut adalah warisan utama dalam mempertahankan keutuhan bangsa. Indonesia mempunyai kemauan besar dan cita-cita mulia untuk menjadi negara maju, modern, dan bermartabat terutama dalam mengelola dan menafaatkan sumberdaya Alam dan Maritim.

Berdaulat dalam politik berarti tidak ada “intervensi”, sebagai alat diplomasi di panggung dunia, serta dihormati dan dihargai sebagai bangsa yang kuat. Hubungan antar negara berdasar pada kepentingan masing-masing dengan kesetaraan dan menghargai keutuhan wilayah masing-masing, serta berprinsip saling menghormati. Peran Indonesia di dalam dunia internasional juga dipengaruhi kondisi ekonomi, sosial dan budaya. Kekuatan itu lahir dari kehidupan sosial dan budaya yang bermartabat sehingga kebijakan Indonesia selalu berdaulat secara politik. Bangsa Indonesia telah menegaskan bahwa kebijakan politik luar negeri kita Bebas Aktif, harus mampu mengambil peran nyata dalam mengatasi masalah internasional sebagai tanggung jawab dalam mewujudkan ketertiban, keamanan dan perdamaian dunia. Jadi Indonesia sebagai bangsa yang besar dan berdaulat tidak ada ketakutan sedikitpun dalam mengambil peran politik di panggung regional maupun internasional.

Mandiri dalam Ekonomi berarti harus dimaknai bahwa bangsa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dasar bangsa yaitu sandang, papan dan pangan dengan menjamin kepastian dan keberlanjutannya. Luas wilayah, penduduk yang terdidik, posisi geofrafis yang strategis serta sumber daya alam yang melimpah merupakan modal kemandirian dalam ekonomi.

Berkepribadian dalam Budaya adalah faktor yang sangat penting untuk meneguhkan identitas, ciri, karakter dan jati diri bangsa. Bangsa yang kuat memiliki kepribadian dan budaya yang tidak mudah dipengaruhi oleh budaya lain. Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh budaya kerja, kejujuran tinggi, selalu haus akan prestasi, sehingga melahirkan pemimpin pemimpin yang tidak hentinya mendorong rakyat untuk melakukan penemuan (invention) dan pembaruan (innovation). Karakteristik sikap dan perilaku tersebut berpangkal hati, akal-budi dan pikiran manusia.

Untuk mencapai itu?

Memerlukam proses konsolidasi demokrasi yang terukur, melalui peningkatan Indeks Demokrasi Indonesia dan tingkat partisipasi politik rakyat, yang ditandai oleh: (1) peran dan kapasitas lembaga demokrasi; (2) kebebasan sipil dan hak-hak politik termasuk keterwakilan perempuan; (3) kualitas kehidupan demokrasi yang beradab; (4) partisipasi politik rakyat, terutama dalam proses pengambilan keputusan politik dan perumusan kebijakan publik.

Menurunnya kesenjangan sosial ekonomi perlu ditingkatkan dengan stabilitas sosial politik dengan cara menghilangkan konflik kebangsaan, updating sistem birokrasi pemerintahan berbasis profesional, memiliki formulasi dalam menghadapi ancaman kebebasan sipil dan sistem perlindungan aparatur keamanan serta meningkatnya kerukunan antar kelompok masyarakat, Kepatuhan pada hukum dan aturan, termasuk kesadaran dan ketaatan dalam proses penegakan hukum yang berkeadilan oleh aparatur dan lembaga peradilan yang berintegritas, sehingga kepercayaan masyarakat berubah menjadi kecintaan terhadap Bangsa, yang secara automatically menumbuhkan budaya pelayanan (service culture) yang berorientasi pada pelayanan prima dan transparan, sehingga juga berdampak pada peningkatan efisiensi dan kepuasan masyarakat menuju kualitas penyelenggaraan birokrasi pemerintahan dan layanan perizinan yang prima.

Bagaimana membangun ekonomi yang mandiri?

Produktivitas bangsa yang mandiri tercermin pada (1) meningkatnya aktivitas ekonomi dan industri, tidak lagi bertumpu pada eksplorasi sumber daya alam yang bersifat ekstraktif, serta menguatnya internalisasi nilai-nilai persaingan usaha yang sehat di kalangan pelaku ekonomi, pemerintah, dan masyarakat. (2) Meningkatnya kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing dengan cara (a) menciptakan kecintaan terhadap produksi dalam negeri yang di dukung oleh kebijakan energi dan kedaulatan pangan, (b) berkembangnya ekonomi industri kreatif dan manufaktur yang didukung oleh peningkatan kapasitas SDM nasional; dan (c) terlindunginya ekonomi rakyat (ekonomi subsistem, ekonomi sektor informal, ekonomi akar rumput), untuk menjaga kelangsungan kehidupan masyarakat.

Ekonomi nasional sudah semestinya bertumpu dan fokus pada budaya maritim, dengan mengoptimalkan pemanfaatan potensi laut dan pariwisata bahari, menentukan kawasan kawasan eksport-import perdagangan internasional melalui jalur laut, dan terbangunnya poros maritim dunia melalui kemitraan antar negara yang saling menguntungkan.

Selain itu, budaya produksi harus lebih kuat dari budaya konsumsi, sejalan dengan meningkatnya budaya inovasi di masyarakat, yang didukung oleh sistem logistik nasional yang baik untuk mendukung ditribusi bahan produksi dan konsumsi.

Kemana semangat gotong royong, toleransi, solidaritas dan harmoni kita?

Partisipasi pemuda Indonesia dalam mengapresiasi budaya nasional wajib diperkuat, dengan merangsang industri kreatif berbasis budaya dan etika nasional yang di dukung oleh permodalan dan dievaluasi secara berkelanjutan oleh lembaga tertentu sehingga etika kerja dan sikap gotong royong baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun dalam kegiatan produktif akan memberikan manfaat pasti bagi masyarakat. Berdaulat berarti bangsa ini memiliki keyakinan dan tidak takut akan kualitas sumber daya manusia ada, karena sejarah telah membuktikan bahwa pemuda pemudi bangsa memiliki keunggulan, kemandirian, berakhlak mulia, berbudaya, dan berkeadaban. Keyakinan inilah yang akan meningkatkan partisipasi publik dalan berbagai kegiatan untuk menggerakkan agenda Revolusi Mental, yang berakar pada kelompok-kelompok strategis di masyarakat dengan melibatkan lembaga publik, seperti pejabat publik, pelaku usaha, organisasi sosial, asosiasi profesi, pemangku adat, tokoh agama, dan pemuka masyarakat.

Akhirnya, marilah kita bersatu memajukan bangsa ini dengan ide kreatif, berkarakter, ketahan-malangan serta motivasi berprestasi yang tinggi, gotong royong, solidaritas dan harmoni sehingga Indonesia menjadi negara yang berwibawa dan berdaulat di panggung Internasional…

DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng

Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi