Perguruan Tinggi merupakan lembaga yang sangat diharapkan perannya dalam menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kurikulum menjadi bagian yang sangat penting untuk dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Berkaitan dengan kondisi itu, pemerintah telah menerbitkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dalam bentuk Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012, dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dan mendorong semua perguruan tinggi untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan tersebut.

KKNI dapat diartikan sebagai pernyataan kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang penjenjangan kualifikasinya dinyatakan dalam learning outcome (capaian pembelajaran). Setiap pendidikan tinggi harus memiliki kurikulum yang menjamin lulusannya memiliki kualifikasi yang setara dengan kualifikasi yang disepakati dalam KKNI. Oleh karena itu, setiap Perguruan Tinggi memiliki kewajiban untuk memfasilitasi program studinya untuk melakukan restrukturisasi kurikulum.

Namun yang menjadi permasalahan di Perguruan Tinggi adalah beragamnya pemahaman tentang bagaimana melakukan rekonstruksi kurikulum. Sehubungan dengan hal tersebut kemenristekdikti telah membuat berbagai terobosan diantaranya adalah dengan membuat Buku Panduan Penyusunan kurikulum Pendidikan Tinggi yang di launching pada tahun 2016. Buku tersebut memberikan arahan yang sangat jelas bagi Program Studi untuk merubah kurikulumnya, dimulai dari tahap perancangan kurikulum, perancangan pembelajaran dan evaluasi kurikulumnya. Terobosan lain yang juga dilakukan adalah melakukan sosialisasi KKNI ke PTN maupun PTS/Kopertis.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KemenristekDikti) memberikan fasilitas pelatihan atau workshop KKNI kepada seluruh dosen dilingkungan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan juga beberapa perwakilan dosen Perguruan Tinggi yang ada di Madura sebagai tindak lanjut program sosialisasi KKNI yang digagas oleh UTM bekerjasama dengan KemenristekDikti pada 24/04/2018.
Bertempat di Gedung Pertemuan, acara pelatihan tersebut diikuti oleh sekitar 320 dosen dilingkungan UTM dan dari Perguruan Tinggi yang ada di Madura.

Didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. Deni Setya Bagus Yuherawan, S.H.,MS dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan H. Boedi Mustiko, S.H., M.Hum. Rektor Universitas Trunojoyo Madura Dr. Drs. Ec. H. Muh Syarif, M.Si., yang membuka acara dalam salah satu sambutannya menyampaikan bahwa “era revolusi industri” hingga kini yang ke empat, maka Perguruan Tinggi dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Orientasi PTN baru yang sebelumnya berbasis fokus kepada input, kemudian berubah menjadi berbasis kepada output, outcome dan visi penyelenggaraan tatakelola PT yang tentu kompilasi tersebut sangat menarik disampaikan kepada kita di PT. Paparnya.

Disamping itu, Muh Syarif juga menambahkan bahwa UTM yang mencoba merancang kurikulum pendidikan dengan mengkolaborasikan antara kegiatan penelitian dan inovasi pembelajaran sehingga mengapa dari awal UTM sudah mengembangankan pendidikan berbasis klaster, Sebagaimana arahan yang dinyatakan oleh KemenristekDikti bahwa pengembangan perguruan tinggi adalah berbasis klaster berupa inovasi ekonomi daerah dan ini salah satu kompetensi yang kita kembangkan. Dan kami di UTM sudah melakukan inovasi yang sudah nampak hasilnya berupa PUI Garam oleh KemenristekDikti yang juga didorong oleh Koordinator Menteri Kemaritiman agar UTM menjadi kawasan Sain dan Teknologi Garam. Disamping itu, sebelum PUI Garam, UTM juga telah berhasil menghasilkan berbagai Inovasi Jagung Madura yang mendapat dukungan langsung oleh Menteri Pertanian.

“Kami juga meminta kepada KemenristekDikti agar PT diberi tugas masing-masing untuk mengembangkan klaster, agar PT bisa fokus dalam mengembangkan kompetensinya. Sehingga PT dapat melahirkan lulusan yang mampu menjawab tantangan dan permasalah-permasalahan yang ada di masyarakat” imbuhnya.

Sementara itu, materi pertama yang diberikan langsung oleh Direktur Pembelajaran Prof. Hendrawan Soetanto lebih banyak menyampaikan “ Rasionalisasi pengembangan Pembelajaran Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) “ yang meliputi latar belakang KKNI, tujuan arahan KKNI, dan bagaimana standar KKNI yang lahir dari Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012.

Salah satu isi peraturan tersebut, pada Pasal 1 ayat (1), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. “ Sehingga betapa pentingnya kita mengawali penyusunan kurikulum ini dengan memahami secara penuh tentang dari kata industri “ Paparnya.

Disamping itu, Direktur Pembelajaran Prof. Hendrawan Soetanto juga banyak memberikan motivasi kepada seluruh para dosen muda khususnya untuk terus menempa dan meningkatkan SDM agar dapat melahirkan pembelajaran dan lulusan yang sejajar dengan universitas di luar. “tentu sebagai dosen, kita harus mampu meningkatkan kemampuan agar melahirkan pembelajaran dan lulusan yang sejajar dengan universitas di luar” imbuhnya.

Disesi yang sama, Kepala Subdirektorat Pendidikan Akademik Drh. Sirin Wahyu Nugroho juga memberikan materi tentang “Arahan Kebijakan KKNI”, yang kemudian dilanjutkan dengan materi ketiga tentang “Inovasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi” diberikan langsung oleh Prof. Dr. Agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih.

Selain materi, untuk menghasilkan penyusunan kurikulum yang sesuai dengan KKNI, pelatihan tersebut juga diisi dengan diskusi kelompok yang berkaitan dengan Penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Review RPS berbasis KKNI, serta Pemaparan Hasil Diskusi.

 

Kerjasama dan Humas UTM – 2018