Pendapatan Asli Daerah (PAD) memiliki peran penting dalam melakukan aktivitas pemerintahan dan program pembangunan dari sebuah Kabupaten/Kota (daerah). Pendapatan ini dipungut daerah dari berbagai sumber di wilayahnya dan berdasarkan peraturan daerah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah daerah harus dapat meningkatkan PAD, karena pendapatan ini digunakan untuk meningkatan kemandirian pelaksanaan pembangunan.

Sumber PAD adalah pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Hasil Pengelolaan Kekayaan Milik Daerah Yang Dipisahkan, mencakup laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta maupun kelompok masyarakat (Peraturan Pemerintah no. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 116 – 119 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri no 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 26 ayat 3 huruf C). Penyertaan modal ini sesuai dengan pengelolaan sebuah Techno Park.

Techno Park (TP) adalah sebuah organisasi dalam Pemerintah Daerah, secara fisik berupa kawasan yang dikelola secara profesional, untuk mengembangkan inovasi dan daya saing usahawan pemula (tenant) yang berbasis iptek, melalui transfer teknologi (atau inkubasi) dari berbagai sumber teknologi dan pakar serta praktisi berpengalaman. Hasil inkubasi, akan meningkatkan jumlah usahawan berbasis teknologi yang berkualitas dan dapat bersaing di pasar. Dalam kawasan TP disediakan ruangan untuk kantor tenant, galeri produk, pelatihan, peralatan untuk transfer teknologi, kantor perusahaan jangkar dan kantor untuk “lulusan” inkubasi. TP juga menyelenggarakan pelatihan dan bimbingan untuk mendirikan dan mejalankan perusahaan dengan sehat, mengajukan kredit, mengatur keuangan dan membayar pajak, memilih dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan produk terbaik serta memasarkan produk dengan cara yang lebih baik. Perusahaan jangkar, adalah perusahaan yang telah mempunyai produksi serta jaringan pemasaran yang kuat, keberadaannya di dalam kawasan untuk menciptakan atmosfir bisnis di lingkungan TP, serta menjadi tempat bertanya para pengusaha pemula untuk kiat-kiat berbisnis.

Perusahaan berbasis teknologi harus didirikan tenant saat mengikuti proses inkubasi, jika saat tenant telah “lulus” dari proses inkubasi dan tidak mempunyai cukup modal, maka Pemerintah Daerah melalui manajemen TP dapat menyertakan sejumlah dana untuk modal, penyertaan ini dapat dikatakan sebagai saham dalam perusahaan baru ini, sehingga TP juga kan menerima pembagian laba dari perusahaan setiap tahunnya, tetapi TP juga harus ikut mengawasi dan menjaga jalannya perusahaan agar perusahaan menjadi lebih besar. Jasa konsultasi dan pelatihan juga diselenggarakan oleh TP untuk berbagai perusahaan di dalam lingkungan TP, untuk perusahaan dari luar, maka TP akan menarik biaya. Untuk mengelola secara professional dan menerima penghasilan, maka sebaiknya TP berbentuk Badan Layanan Usaha Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah (PP no. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 145 – 150 dan PerMendagri nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah).

Banyaknya jumlah perusahaan baru berbasis teknologi yang dihasilkan oleh TP, sangat tergantung dari kemampuan pengelola dalam memilih calon tenant, merencanakan & melaksanakan pelatihan, memilih pakar, mendapatkan dana pinjaman, menarik perusahaan jangkar, menjaga hubungan dengan Pemerintah Daerah dan mencari sumber teknologi, serta menciptakan suasana membangun bisnis yang kondusif di lingkungan TP. Pengelola juga harus mempunyai target tahunan seperti jumlah tenant yang masuk dan “lulus” inkubasi, jumlah transaksi di kawasan TP, jumlah perusahaan jangkar, jumlah pajak yang disetorkan, jumlah tenaga kerja yang diserap, pertumbuhan bisnis dari tenant, jumlah penghasilan dari berbagai sumber (pembagian laba, jasa konsultasi dan pelatihan, sewa ruangan dan alat).

Untuk menjadi tenant selain harus ulet, jujur, mempunyai pengalaman berbisnis, mepunyai tim yang solid, juga disyaratkan mempunyai daya serap yang baik untuk menerima teknologi baru, penyusunan rencana bisnis, cara pemasaran baru, serta dapat berbahasa Inggris dengan baik. Syarat ini dapat dipenuhi melalui pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Di tingkat Sekolah Menengah, dapat diberikan mata pelajaran kewirausahaan, pemasaran untuk pasar nasional dan internasional, bahasa Inggris tertulis maupun percakapan, serta teknologi informasi untuk administrasi perusahaan maupun pemasaran. Di tingkat Perguruan Tinggi, sangat diperlukan riset-riset untuk menciptakan peralatan dan sistem yang dapat menekan biaya produksi dan menghasilkan produk yang lebih baik, riset tentang produk yang diperlukan oleh konsumen dimasa mendatang, serta riset tentang cara pemasaran yang lebih efektif, murah dan menarik konsumen.

Di dalam kawasan TP dapat ditemui pengelola, tenant, “lulusan” inkubasi dan para usahawan jangkar, sedangkan para pakar, pelanggan dari tenant dan pengambil manfaat jasa konsultasi, hanya akan datang untuk waktu-waktu tertentu. Para penggiat ini dapat dengan mudah berinteraksi dan saling bekerja sama, sehingga TP adalah tempat bersinergi orang-orang berpendidikan yang sedang berusaha menyejahterakan daerahnya dengan cara yang cerdas melalui penguasaan teknologi.

 

Harry Jusron;
Kasubdit Badan Penunjang Lainnya; Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi
Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi