Pada hari Sabtu (18/11), 3 mahasiswa Pendidikan Sejarah UNESA yang tergabung dalam tim LKTI Pendidikan Sejarah UNESA meraih juara 3 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Tingkat Mahasiswa Nasional Arkeologi Universitas Gadjah Mada 2017. Tim tersebut beranggotakan Hafid Rofi Pradana selaku ketua (angkatan 2014), Faiq Nur Khumaidi dan Wulan Agustri Ayu sebagai anggota (angkatan 2015). Dalam event tersebut tim LKTI Pendidikan Sejarah UNESA memaparkan karya tulis yang berjudul “Pemanfaatan Teknologi QR Code Sebagai Media Informasi Dalam Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Terhadap Benda Cagar Budaya”.

Event yang bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, UGM tersebut diikuti oleh 5 universitas ternama di Indonesia, antara lain Universitas Gadjah Mada (1 tim), Universitas Udayana (1 tim), Universitas Negeri Surabaya (1 tim), dan Universitas Airlangga (2 tim). Dalam event tersebut semua tim memaparkan hasil karya terbaik mereka. LKTI yang bertemakan “Cagar Budaya Untuk Masa Depan: Mengelola Tanpa Menjual” tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dari Festival Arkeologi ketiga yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Ide karya tersebut bermula ketika Hafid masih menjabat Asisten Divisi Media Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA tahun 2016. Ketika itu, pembina Divisi Media Lab Pendidikan Sejarah, bapak Riyadi, S.Pd, M.A memperkenalkan gagasan penerapan teknologi QR Code untuk koleksi museum. Di Indonesia sendiri belum ada museum yang menerapkan teknologi QR Code ini. Padahal museum-museum di Eropa sudah menerapkan teknologi ini, salah satunya adalah Edinburgh National Museum of Scotland di Skotlandia Akhirnya pada tahun ini teknologi QR Code tersebut bisa diterapkan di Lab PendidikanSejarah.

“Awalnya kami menargetkan masuk 3 besar dalam event ini. Alhamdulillah ternyata doa kami terkabul. Bahkan karya kami diapresiasi oleh salah satu juri sekaligus dosen Arkeologi UGM, ibu Dra. Djaliati Sri Nugrahani M.A” pungkas Hafid. “Kami mengucapkan terimakasih kepada bapak Riyadi yang telah bersedia membimbing kami, serta teman-teman Asisten Lab Pendidikan Sejarah UNESA yang bersedia memberikan demonstrasi penerapan teknologi QR Code tersebut”. tambah Hafid.

Harapannya kedepan, teknologi ini tidak hanya diterapkan di Lab Pendidikan Sejarah, namun bisa diimplementasikan di berbagai museum yang ada di Surabaya, bahkan di Jawa Timur dan seluruh Indonesia. Semoga inovasi ini dapat membawa angin segar bagi perkembangan ilmu arkeologi dan sejarah. (Inayah/RN)

Sumber: unesa.ac.id