Berawal dari mimpi menjadi dokter untuk daerah asalnya, seorang Leidy Herlin Rumbiak bertekad untuk menunjukkan pada Indonesia bahwa Orang Asli Papua juga bisa berprestasi. Melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), gadis cantik kelahiran Jayapura tersebut berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi favoritnya, yaitu Universitas Airlangga Surabaya. 

Leidy, sapaan akrabnya, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus menunjukkan prestasinya. Tak hanya di bidang akademik, Leidy juga mampu membagi waktu untuk aktif di luar kegiatan intrakurikuler. Leidy semakin bersinar ketika berhasil lolos pada sebuah ajang kecantikan ternama di Indonesia, dan dinobatkan sebagai ratu kecantikan Indonesia perwakilan Papua Barat tahun 2017.

Sejak masih menduduki bangku Sekolah Menengah Atas di Manokwari, mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi tersebut sudah menunjukkan sederet prestasi akademik, antara lain mengikuti Olimpiade Sains tingkat Kabupaten/Kota untuk mata pelajaran Biologi dan berhasil lolos hingga Olimpiade Sains tingkat Provinsi, serta mengikuti olimpiade Fisika pada World Physics Olympiad (WOPHO). Leidy juga aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), kegiatan pramuka internasional Scout Peace Camp 2013, hingga bertugas menjadi pembawa bendera pusaka pada Paskibraka Provinsi Papua Barat pada tahun 2013. Prestasi yang diraihnya merupakan salah satu contoh sukses, bahwa akses pendidikan sangat penting dalam meningkatkan kualitas generasi muda dan menjadi pijakan dalam menggapai mimpi.

“Sejak dulu saya bercita-cita ingin menjadi dokter di Papua, karena tenaga dokter di Papua masih kurang. Setelah tahu bahwa ada beasiswa ADik khusus orang Papua, saya menjadi optimis, karena berarti kita orang Papua dipercaya untuk belajar dan berprestasi. Saya ingin membuktikan bahwa saya sebagai salah satu orang Papua memang pantas dan bisa berprestasi seperti teman-teman yang ada di Pulau Jawa. Dan meskipun persaingan belajarnya (-di Universitas Airlangga) lebih sulit, Puji Tuhan saya bisa menyesuaikan,” jelasnya.putri-papua-barat-2017-mahasiswi-adik

Kesuksesan Leidy tersebut tidak lantas membuatnya tinggi hati. Leidy juga memiliki harapan agar mahasiswa-mahasiswa lain, terutama yang berasal dari daerah Papua dan 3T, agar selalu percaya diri dan tidak pernah lelah untuk belajar dan mencoba hal-hal baru.

“Untuk teman-teman ADik, marilah kita terus berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik karena prestasi bukan hanya diukur dari nilai. Dan yakinlah bahwa kita semua adalah orang-orang berprestasi, karena sebenarnya setiap usaha yg sudah kita lakukan, itu adalah prestasi kita,” pesannya untuk seluruh mahasiswa ADik di Indonesia.

Kesempatan Yang Sama Untuk Bersaing

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memiliki program percepatan dan pemerataan pendidikan seperti Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) bagi putra-putri Asli Papua dan daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), untuk memberikan kesempatan bagi putra-putri berprestasi yang mengalami kendala dalam mengakses pendidikan tinggi. Program tersebut bertujuan untuk menjembatani putra-putri Asli Papua dan 3T yang berprestasi secara akademik untuk melanjutkan pendidikan tinggi, dan diharapkan nantinya akan menjadi generasi muda yang berkualitas yang mampu membanggakan bangsa.

Pencapaian salah satu mahasiswi program ADik tersebut merupakan suatu kebanggaan bagi Belmawa. Tak hanya menjadi bukti keberhasilan dalam upaya pemerataan pendidikan, namun juga membuktikan bahwa dengan kesempatan untuk mendapatkan akses pendidikan yang baik, Putra Putri Papua juga bisa bersaing.

Kegembiraan diutarakan oleh Kepala Sub Direktorat Kesejahteraan dan Kewirausahaan Ditjen Belmawa, Ismet Yusputra, bahwa dari program tersebut mahasiswa juga dapat menemukan dan mengembangkan bakat terpendam mereka. “Indikator program ini cukup berhasil mengangkat dan memberikan kesempatan anak-anak Papua untun mengembangkan diri,” lanjutnya.

Direktur Kemahasiswaan, Didin Wahidin, juga turut menyampaikan kebanggaannya. Didin menegaskan bahwa kisah Leidy merupakan salah satu contoh sukses yang perlu ditiru, bahwa mahasiswa tersebut mampu membagi waktu dan berprestasi di bidang akademik dan non-akademik. Didin berharap bahwa mahasiswa yang berprestasi dan multitalenta kelak dapat berkontribusi untuk daerahnya.

“Leidy ini patut dicontoh, namun seluruh mahasiswa harus tetap ingat, bahwa prioritas utamanya adalah prestasi akademik, jangan sampai diabaikanq. Semoga mahasiswa lainnya semakin termotivasi untuk berprestasi, baik akademik atau non-akademik, dan semakin terpacu untuk mengembangkan diri baik dari soft skill maupun networking, dan tetap memupuk rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalisme. Yang terpenting adalah, semoga tetap berprestasi meskipun sudah lulus kelak,” harap Didin. (DRT/Editor/HKLI)