UNAIR NEWS – Tim dokter Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) berhasil melakukan operasi bayi yang menderita penyakit Hydrocephalus, Kamis (22/2). Operasi yang berlangsung selama 8 jam itu melibatkan dokter bedah plastik, bedah saraf, ahli mata, ahli THT, pedriatrik, termasuk ahli anak. Operasi kasus Hydrocephalus kali ini cukup langka karena disertai dengan Craniosynostosis.

Melalui konferensi pers yang berlangsung Jumat (23/2) di RSUA, tim dokter membeberkan sejumlah fakta terkait jalannya operasi bayi Hydrocephalus. Bayi berusia 1,6 tahun itu atas nama Aqila Kirana Salim, asal Batam, Kepulauan Riau.

Penanganan bayi Kirana merupakan suatu kelainan yang butuh penanganan khusus. Yang terjadi adalah kelainan pada otak. Otak terdesak karena adanya cairan yang banyak akibat Hydrocephalus. Fungsi mata kiri menjadi terganggu karena kornea yang rusak. Karena membutuhkan penanganan khusus, maka operasi melibatkan banyak tim.

“Operasi berjalan cukup lama karena menangani anak kecil. Kita harus menstabilisasi pembuluh darah, memastikan infus tidak macet ketika jalannya operasi. Sehingga, perlu dilakukan pemasangan akses yang lebih baik di pembuluh darah. Biasanya di tangan, kita (pasang, Red) di paha dan daerah area dada,” ujar dr. Indri Lakshmi Putri, Sp.BP-RE (KKF) selaku dokter bedah plastik rekonstruksi kraniofasial RSUA.

Dokter Putri mengatakan, beruntung bayi Kirana cukup kuat, sehingga tubuhnya bisa melakukan penyesuaian. Selama operasi berlangsung, lanjutnya, permasalahannya bukan hanya terletak pada batok kepala saja. Separuh dari mata kiri Kirana harus dipotong (karena memiliki volume yang besar, red) dan disejajarkan dengan mata sebelah kanan.

Setelahnya, dokter dr. Tedy Apriawan Sp.BS ahli bedah syaraf melakukan analisis cairan otak. Setelah dipastikan bersih, dilakukan pemotongan batok kepala bagian depan. Permasalahannya, kata dokter Tedy, selaput otak terjepit tepat di bagian tengah. Setelah terpasang selaput kepala, ia dan tim membantu melepas lipatan tulang. Lalu, diserahkan kembali ke dokter Putri untuk dilakukan rekonstruksi kosmetik. Ungkapnya, kesulitan yang dialami adalah terjadinya pendarahan yang cukup banyak dari kulit kepala.

“Dengan usia yang masih sangat muda, pendarahan sangat berbahaya. Bisa mengancam jiwa. Intinya kita berusaha untuk mengurangi pendarahan sebanyak mungkin,” ungkap dokter Tedy.

Saat ini, berdasarkan tim dari psikiatri, pascaoperasi keluarga bayu Kirana termasuk ibu, ayah, dan nenek masih dalam kondisi yang belum bisa diwawancara. Keluarga sangat berharap pada tim dari RSUA.

“Nanti setelah keluar dari ruang recovery dan Kirana sadar, bisa diwawancara,” ucapnya.

Saat ini, bayi Kirana sedang diistirahatkan. Ditidurkan agar otak bisa istirahat. Kondisi terbaru bayi masih melalui masa kritis, menstabilkan tekanan darah dan nadinya.

Usai kondisi bayi Kirana stabil, tim THT akan melakukan screening pendengaran. Sementara tim dari rehab medik, pertama akan fokus pada fungsi pernafasan. Berdasarkan penuturan dr. Rosa Falerina Sp.THT-KL spesialis THT, sebelum operasi, bayi Kirana mengalami keterlambatan, baik motorik maupun bahasa.

“Dari yang seharusnya sudah bisa berjalan dan bicara, tapi bayi Kirana mengalami keterlambatan untuk itu. Rehab medik akan dimulai jika kondisi bayi Kirana sudah stabil,” paparnya.

Operasi Hydrocephalus yang kali ini memanfaatkan fasilitas BPJS, bukan pertama kali dilakukan di RSUA. Wakil Direktur Pelayanan Medis dr.Hamzah,Sp.An.,KNA mengatakan, ini adalah bagian dari pengabdian masyarakat RSUA sebagai rumah sakit yang dimiliki UNAIR.

“Harapan kita, bayi Kirana kembali tumbuh dan berkembang dengan normal. RSUA sudah punya tim kraniofasial (kelainan pada kepala dan muka, red). Soal biaya, ada BPJS. Kita berupaya tidak jadi beban buat keluarga,” ungkapnya. (PIH UNAIR)