Siaran Pers Kemenristekdikti

Nomor : 22/SP/HM/BKKP/III/2018

 

Bogor-Peningkatan daya saing bangsa menjadi isu strategis dalam perkembangan dunia sekarang ini yang tengah memasuki era revolusi industri 4.0.Daya saing bangsa juga tidak lepas dari berbagai aspek yang mendukungnya. Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Sesjen Kemenristekdikti) Ainun Na’im mengatakan inovasi merupakan aspek dominan dalam mendukung daya saing bangsa. Pasalnya inovasi memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perekonomian negara.

Dalam pembukaan rapat kerja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Aston Hotel & Resort, Bogor, Selasa (6/3). Ainun mengatakan berdasarkan studi yang dilakukan beberapa lembaga internasional bereputasi tentang outlook Indonesia di masa mendatang, Indonesia diprediksi memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Hal ini terkait dengan bonus demografi yang akan menguntungkan perekonomian Indonesia.

“Prediksi-prediksi ini tidak akan terjadi begitu saja. Kita harus menyiapkannya dengan baik. Inilah yang menjadi tantangan kita bersama untuk bisa mengelola bonus demografi tersebut,” tutur Ainun.

Dari segi pendidikan, Ainun mengungkapkan tengah menyiapkan reorientasi kurikulum dan menyeimbangkan antara pendidikan vokasi dan akademik. Selain itu sumber daya manusia juga perlu disiapkan sehingga dari segi demografi aspek ini juga bisa menjadi bonus.

Sementara itu dari segi iptek, Ainun mengungkapkan LIPI sebagai salah satu lembaga yang bertugas dalam pengembangan ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting.

“Karena dari perkembangan dan penguasaan iptek, kita bisa meningkatkan inovasi yang berkontribusi pada perekonomian nasional,” pungkasnya.

Untuk itu, Ainun berharap dalam rapat kerja LIPI kali ini dapat dirumuskan strategi-strategi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, utamanya dalam peningkatan daya saing bangsa. Disamping itu juga dapat menjadi rujukan bagi lembaga lain yang memiliki tugas yang sama dalam pengembangan iptek untuk saling bersinergi.

Apalagi, menurut Ainun, secara keseluruhan dana penelitian cukup besar mencapai 25-35 triliun namun masih tersebar di banyak lembaga termasuk perguruan tinggi. Sehingga diharapkan LIPI dan lembaga penelitian dan pengembangan lain di daerah termasuk perguruan tinggi dapat melakukan koordinasi dan strategi yang sinergis antar lembaga.

“Melalui strategi yang baik maka tidak akan terjadi overlap atau tumpang tindih dalam menjalankan program kerja,” kata Ainun.

Ainun menambahkan, dirinya melihat adanya perkembangan-perkembangan dari penggabungan antara fungsi lembaga riset, teknologi dan pendidikan tinggi di Kemenristekdikti. Menurutnya, Kemenristekdikti bisa mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kedua fungsi tersebut sehingga program kerja berjalan lebih efisien dan produktif.

“Misalnya perkembangan kuantitas publikasi, hak paten dan kekayaan intelektual serta pembangunan Science Techno Park (STP) menunjukkan nilai positif. Semoga ini dapat terus berlanjut sehingga dapat mencapai outlook ekonomi Indonesia di masa yang akan datang,” harap Ainun.

Senada dengan Ainun, Plt. Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengatakan peran LIPI dalam meningkatkan daya saing bangsa sangat dibutuhkan.

“Mari kita jadikan negara Indonesia menjadi negara yang besar dan maju, tidak hanya dari sisi jumlah penduduknya tapi juga kualitas sumber daya manusia dan infrastrukturnya,” ucap Bambang.

Ia pun ikut mendorong agar peringkat daya saing Indonesia bisa terus naik mengingat posisi Indonesia masih berada di peringkat ke 36 dari 137 negara menurut World Economic Forum (WEF).

Galeri