SIARAN PERS
Nomor : 132/SP/HM/BKKP/VIII/2018
Pemerintah Republik Indonesia menekankan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa melalui kemandirian pada industri, teknologi, dan inovasi. Keberhasilan rancang bangun dan pengembangan sepeda motor listrik GESITS yang dilakukan salah satu perguruan tinggi Indonesia hingga industrialisasi adalah batu loncatan besar untuk mencapai kemandirian bangsa pada kendaraan ramah lingkungan dan hemat energi di masa mendatang. Untuk itu pemerintah akan terus mengawal proses industrialisasi GESITS agar produk anak bangsa ini bisa membanggakan dan setingkat dengan standar mutu internasional.
Demikian himbauan yang disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat mengunjungi pabrik perakitan GESITS di kawasan industri PT. Wijaya Karya (WIKA) Industri & Konstruksi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/8). Peninjauan Menristekdikti ke kawasan industri PT. WIKA dilakukan untuk melihat langsung perkembangan produksi GESITS.
Pada kesempatan tersebut Menristekdikti mengapresiasi segala upaya yang telah dicapai tim GESITS dalam merealisasikan pengembangan hasil inovasi dari perguruan tinggi tersebut.
“Tujuan saya datang ke sini (kawasan industri PT. WIKA) di hari Minggu untuk melihat langsung perkembangan yang sudah dilakukan. Saya mendengar ada regulasi-regulasi yang akan menghambat proyek GESITS, ternyata semua berjalan sesuai yang kita harapkan,” kata Nasir.
Menristekdikti juga mengingatkan bahwa Presiden Republik Indonesia menunggu peluncuran GESITS. “Presiden ingin mencoba langsung GESITS sebelum motor ini dipakai masyarakat,” tegas Nasir.
“Presiden minta disiapkan 50 unit pertama untuk digunakan di lingkungan Istana Negara. Wah, saya pikir ini akan membebankan anggaran perusahaan. Ya, setidaknya bisa disiapkan 15 unit,” lanjut Nasir diiringi tawa.
Dalam kunjungan kerja yang didampingi Direktur Utama PT. WIKA Tumiyana dan CEO PT Gesits Technologies Indo (GTI) Harun Sjech tersebut Menristekdikti juga mendengar laporan hasil perkembangan dan rencana proses perakitan dari tim GESITS, termasuk melihat pengujian perangkat-perangkat teknologi dan berbagai komponen yang telah diciptakan.
Menristekdikti juga menyampaikan bahwa dirinya akan berkoordinasi dengan kementerian-kementerian lain, seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM), Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (BUMN), Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia untuk mendukung penuh GESITS.
“Saya juga akan berbicara dengan Pertamina sebagai penyedia jaringan energi. Ini untuk kemudahan penggunaan GESITS di tengah masyarakat,” ucap Nasir. Selain itu, dia menambahkan, perlu disiapkan regulasi yang menjamin kelancaran penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
GESITS merupakan sepeda motor listrik yang mengandalkan baterai litium. Untuk pengisian ulang baterai berteknologi canggih ini para pengguna GESITS hanya butuh menukarnya dengan baterai yang telah terisi di gerai-gerai penukaran yang akan disebar secara luas di tengah masyarakat.
Menristekdikti berharap metode pengisian ulang baterai dapat dilakukan dengan cara pertukaran unit baterai (battery swap) di jaringan-jaringan SPBU Pertamina. “Dengan begitu, masyarakat pengguna bisa menukar baterai semudah mereka mengisi bensin di SPBU,” kata Nasir.
Konsep ini tidak ada ubahnya dengan pembelian tabung gas elpiji yang sudah familiar di tengah masyarakat.
Nasir menyebut GESITS yang akan diproduksi mulai tahun ini merupakan sepeda motor atau kendaraan pertama buatan Indonesia yang berhasil diproduksi dan dipasarkan. Ini menandakan bahwa Indonesia telah mengalami lompatan pertama dalam teknologi yang berwawasan masa depan.
Sementara itu Tumiyana menyampaikan tentang kesiapan PT. WIKA dalam produksi GESITS yang akan dilakukan pada tahun ini. Dikatakan, dalam tahap awal pabrik perakitan akan mampu memproduksi 50.000 unit GESITS per tahun.
“Sebagai tahap awal kami telah memiliki fasilitas industri perakitan yang siap memproduksi 50 ribu unit. Kapasitas ini akan kami tingkatkan secara bertahap hingga mencapai 100 ribu unit per tahun,” ujar Tumiyana.
Di kesempatan yang sama CEO PT. GTI Harun Sjech kembali menyampaikan bahwa perkembangan proyek GESITS sesuai dengan rencana yang diharapkan Pemerintah. “Model produksi dari GESITS akan kita luncurkan pada September 2018,” katanya.
Target Pemerintah agar GESITS bisa menjadi 100 persen produk dalam negeri pada tahun 2020 dijawab Harun sebagai tantangan yang bisa direalisasi.
“Seperti kata Menristekdikti bahwa saat ini 89 persen komponen untuk GESITS sudah mampu dibuat di dalam negeri.  Tapi bukan berarti 11 persen komponen yang saat ini masih diimpor tidak bisa kita buat sendiri. Saat ini sudah ada pihak-pihak nasional yang mampu menciptakan komponen-komponen itu. Namun untuk skala industri masih memerlukan waktu sedikitnya setahun,” kata Harun.
Dia juga menegaskan bahwa target produksi massal GESITS yang diharapkan akan dimulai pada November tahun ini telah siap dilakukan.
“Untuk sementara produksi akan difokuskan untuk memenuhi permintaan dari perusahaan-perusahaan dan publik yang telah masuk dalam daftar pesanan. Setalah itu, pabrik akan kami kembangkan agar bisa memenuhi permintaan masyarakat lainnya,” lanjut Harun.
Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti
dan
PT Gesits Technologies Indo Marketing & Communications Department